TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

OPINI

''Memulangkan'' Sang Ayah ke Rumah

Jika dalam hal pendidikan anak ada dikotomi ayah dan ibu, maka ini adalah kekeliruan besar.

''Memulangkan'' Sang Ayah ke Rumah
dokumentasi
Kisdiantoro

Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

ANAK tumbuh menjadi pribadi yang tidak bertanggungjawab, suka membuat gaduh, melakukan tindakan kriminal, melakukan kekerasan seksual terhadap teman sebayanya, bahkan ada yang telibat dalam kasus pembunuhan. Profil anak yang demikian belakangan banyak bermunculan di lingkungan kita, Indonesia.

Satu di antara banyak penyimpangan perilaku anak yang membuat hati setiap orang tua, ayah dan ibu, menangis adalah tindak kekerasan seksual yang dilakukan terhadap seorang siswa berusia 13 tahun di Surabaya. Pelakunya adalah delapan orang laki-laki yang masih teman korban. Kasus ini menjadi perhatian dunia karena para pelakunya adalah anak-anak yang masih bersatus pelajar SD dan SMP. Muncul lah pertanyaan, masih kecil kok sudah berani melakukan pencabulan?

Bagi keluarga yang mendapati anak terlibat dalam kenakalan ekstrem adalah 'tsunami' yang bakal mengguncang kehidupan keluarga. Tak sedikit sang ayah akan menyalahkan istrinya yang menurut pandangannya berkewajiban dan bertanggungjawab penuh dalam mendidik anak. Sementara ayah bertugas mencari nafkah di luar rumah. Jika dalam hal pendidikan anak ada dikotomi ayah dan ibu, maka ini adalah kekeliruan besar.

Ayah memiliki peran yang penting dalam tumbuh kembang dan pendidikan anak. Maka selain nafkah, kehadirannya sangat diperlukan. Ayah adalah si perancang visi pendidikan anak-anak dan ibu adalah eksekutornya. Visi pendidikan menjadi tanggung jawab ayah bukan karena ibu tak mampu melakukannya. Namun sehebat apapun seorang ibu, ia akan kesulitan merancang visi pendidikan anak-anak karena ia telah disibukkan dengan banyak pekerjaan yang kadangkala membuatnya kelelahan. Maka memerlukan figur ayah yang cenderung lebih jernih dari banyak pekerjaan rumah tangga. Kehadiran ayah menjadikan pendidikan anak tak sekadar rutinitas, melainkan ada visi dan misi yang akan dituju.

Anak yang mudah larut dalam pergaulan dan mendapati banyak masalah bisa jadi karena tak mendapatkan sentuhan pendidikan sang ayah. Mengapa demikian? Itu karena anak tak memiliki ego atau sikap individualitas. Anak tak memiliki keberanian untuk bersikap beda dengan teman-temannya. Pelajaran ini banyak didapatkan dari seorang ayah. Seorang ibu cenderung mendidik anak agar mudah diterima di masyarakat dan mudah berempati dengan sesama. Jika ayah tak terlibat dalam pendidikan anak, maka anak akan mudah kompromis. Jika temannya mengajak tawuran maka ia pun akan ikut.

Anak yang banyak mendapat sentuhan seorang ayah, maka ia akan belajar untuk mengatakan "tidak." Ketika temannya mengajak tawuran atau melakukan kekerasan seksual, maka ia akan mengatakan, "sorry saya enggak ikutan, dosa."

Cendekiawan Muslim abad ke-8, Ibnu Qayyim Al Jauziah, yang buku-bukunya banyak menjadi rujukan dalam mendidik anak pun "menuding" penyebab utama kerusakan anak-anak disebabkan oleh ulah sang ayah. Dia mengatakan bahwa banyak orang yang menyengsarakan anaknya di dunia dan akhirat karena dia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya, tidak memfasilitasi keinginannya, sementara ia mengira telah memuliakannya. Padahal ia telah merendahkannya. Dia mengira telah menyayanginya padahal telah menzaliminya. Maka, hilanglah baginya pada anak itu di dunia dan akhirat.

Hasil penelitian Dr Tony Ward dari University of Melburne, Australia, kepada puluhan anak yang dipenjara karena terlibat kasus penganiayaan dan pemerkosaan, didapati gambaran bahwa hubungan anak-anak dan ayah sangat buruk. Maka bisa dikatakan bahwa sikap dan kebiasaan ayah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan pendidikan anak-anak.

Halaman
12
Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help