Cerpen Yudhi Herwibowo

Kelambu

HARI masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak.

Kelambu
Ilustrasi Kelambu 

HARI masih bercahaya, tapi kegelapan seperti telah menelanku dalam kepekatannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa begitu sesak. Udara seakan menjauh dari diriku. Membuat napasku tersendat.

Sambil meringkuk di lantai, aku bagai menjadi sosok yang tak lagi berarti. Sangat sesuai dengan apa yang kubayangkan selama ini: aku bagai burung yang tak lagi bersayap, karena sayapku telah kupatahkan sejak dulu.

Sialnya, seperti yang sudah-sudah, keheningan selalu membuatku semakin terjerumus dalam ketakutan. Ia bagai mengulik lubang telingaku dan menggemakan ngiang yang terus berulang, bagai bisikan iblis yang tak pernah berhenti.

Kau akan pulang, kan?

Pulang? Aku memejamkan mata kuat-kuat. Kata itu seharusnya sudah kucoret dari kamus hidupku. Tapi semakin aku ingin melupakannya, entah kenapa, kata itu semakin kuatnya merasuk.

Tubuhku tiba-tiba menggigil dengan hebat. Tanpa bisa kuelak, aku mulai terseguk. Suamiku, yang sejak tadi duduk di ruang tengah, seakan sengaja memberi waktu untukku sendiri, mulai mendekat. Ia membelai rambutku dengan lembut. Lalu mulai menggendong tubuhku ke arah pembaringan. "Kalau kau tak ingin pulang, tak apa-apa," bisiknya.

**

KELAMBU itu hanya ada di kamar Nenek. Letaknya di belakang, sedikit memisah dari rumah utama. Sebuah ranjang model lama, yang masih memakai rangka untuk kelambu, terlihat dominan di situ. Ini memang permintaan Nenek karena ia selalu pusing bila mencium bau obat antiserangga.

Sejak dulu aku suka di kamar itu. Saat Nenek masih ada, aku kerap bermain di situ. Kami berdua akan berada di atas ranjang dengan kelambu yang dipasang seluruhnya. Biasanya Nenek akan mendongeng kisah tentang seorang putri yang terperangkap di istana kelambu.

Tapi sejak Nenek meninggal, aku jarang ke kamarnya. Kamar itu kosong sampai sekian lama. Pernah aku mencoba masuk ke sana, tapi yang kudapati hanya debu yang bertebaran di mana-mana.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved