Wisata Jawa Barat

Masjid Agung Majalaya, Oasis di Tengah Hiruk-pikuk Kota Dolar

Sejak dulu, katanya, Masjid Agung Majalaya menjadi pusat keagamaan, musyawarah, dan silaturahmi warga Majalaya.

Masjid Agung Majalaya, Oasis di Tengah Hiruk-pikuk Kota Dolar
TRIBUN JABAR/M SYARIF ABDUSSALAM
Sebagai tempat ibadah berstatus cagar budaya yang dilindungi, Masjid Agung Majalaya masih mempertahankan arsitektur Sunda-nya dengan atap bersusun. Foto diambil Kamis (21/4/2016). Konon, ornamen khas Arab di dalam bangunan masjid berarsitektur Sunda ini menjadi bentuk kerinduan para haji dan hajjah asal Majalaya terhadap Dua Masjid Suci di Mekkah dan Madinah. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

MAJALAYA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Terik matahari terasa menyengat kulit pada siang hari, di pusat perkotaan Majalaya. Suara tonggeret terdengar sayup ditelan deru mesin-mesin kendaraan di jalan raya. Derap kaki kuda delman sampai laju truk besar mengembuskan debu jalanan ke udara.

Tepat di tengah daerah yang pernah dijuluki sebagai Kota Dollar akibat perkembangan ekonominya yang pesat pada tahun 60-an ini, terdapat sebuah alun-alun. Di sekitarnya terdapat deretan pepohonan yang dijadikan tempat berteduh warga, maupun tempat berjualan bagi para pedagang kaki lima.

Di seberang alun-alun tampak sebuah bangunan beratap tumpang empat tingkat, menjadi lima tingkat jika atap beranda depannya ikut dihitung. Belasan warga dan pelajar berseragam berjalan keluar dari bangunan bernama Masjid Agung Majalaya tersebut, setelah menjalankan salat zuhur berjamaah beberapa belas menit lalu.

Masjid beratap sirap atau kayu ini memiliki tiga pintu utama. Namun, hanya dua pintu yang rutin dibuka, yakni pintu kiri dan kanan yang letaknya berdekatan dengan tempat wudu. Di sekitar pintu pun terdapat rak-rak penyimpanan sepatu atau sandal

Saat memasuki masjid, udara sejuk langsung menyambut. Kebisingan duniawi di pusat Majalaya seketika hilang, berganti dengan suasana syahdu dan teduh di bagian dalam masjid. Sejumlah warga terlihat khusyuk melaksanakan salat, berdoa, berzikir, dan membaca Alquran, diterangi cahaya yang menerobos masuk melalui jendela-jendela kecil di sela ketiga susun atap masjid.

Bagian utama masjid ini memiliki dua lapis dinding. Dinding teluar cenderung tertutup, dihiasi deretan jendela kayu dan kaca bergaya Melayu, mengadang debu dan kebisingan dari luar. Di antara dinding luar dan dinding paling dalam terdapat sebuah serambi tertutup, tampak seperti koridor yang mengelilingi bagian tengah masjid.

Dinding terdalam masjid memiliki lengkungan jendela dan pintu terbuka berukuran besar. Termasuk pada bagian mihrabnya yang berbentuk ceruk, lengkungan-lengkungan yang mengelilingi bagian utama masjid ini dihiasi pola warna hijau berselang-seling khas arsitektur Timur Tengah. Konon, ornamen khas Arab di dalam bangunan masjid berarsitektur Sunda ini menjadi bentuk kerinduan para haji dan hajjah asal Majalaya terhadap Dua Masjid Suci di Mekkah dan Madinah.

Dari dalam masjid, terlihat jelas rangka kayu atap bersusun empat. Di antara susunan atap-atapnya terdapat deretan jendela kecil sebagai saluran udara dan jalan masuk cahaya, membuat bagian dalam masjid tetap sejuk dan tidak gelap.

Atap bersusun ini ditopang oleh empat pilar kayu dengan diameter 50 centimeter. Tiang-tiang tersebut mempunyai hiasan profil di bagian bawah dan atasnya. Pada bagian bawah tiang terdapat umpak berbentuk segi empat berwarna putih dengan ukiran bunga dan tanaman. Ornamen berukir pada lampu yang menggantung dari atap masjid ini kian mempertegas kesan tempo doeloe dari bangunan yang berstatus cagar budaya tersebut.

"Masjid Agung Majalaya merupakan karya bangsa yang didirikan pada 24 Juni 1941. Sebagian besar bangunannya yang sekarang masih asli dari sejak didirikan, tidak pernah berubah gayanya. Makanya, masjid ini menjadi masjid agung satu-satunya di Kabupaten Bandung yang masih mempertahankan ciri khasnya, dengan atap bersusun," kata Kepala Bidang Kepurbakalaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, Dedi Sutardi, Kamis (21/4/2016).

Masjid Agung Majalaya, katanya, berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi. Seliain berusia lebih dari 50 tahun, bangunan ini memiliki nilai tinggi dan sangat penting untuk dunia pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan.

Sejak dulu, katanya, Masjid Agung Majalaya menjadi pusat keagamaan, musyawarah, dan silaturahmi warga Majalaya. Bahkan halamannya sampai sekarang menjadi tempat bermain anak-anak atau kegiatan bersosialisasi warga. Masjid Agung Majalaya secara administratif berada di Desa Majalaya di Kecamatan Majalaya.

Hingga kini, Masjid Agung Majalaya tetap bertahan dengan bentuk semula semasa zaman penjajahan. Berdiri kokoh dengan agung dan anggun di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, masjid ini menjadi oasis bagi masyarakat yang membutuhkan tempat sejuk dan tenang untuk beribadah atau beristirahat sejenak. (Sam)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved