TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Eko Triono

Maesa-Sima, Perempuan Sembilu

KERETA berganti jalur dan kisah itu mengiang di kepalaku, berkelindan ingin mengingatkan lagi. Kamis, 31 Juli 1789. Atau hari ke-27 Syawal.

Maesa-Sima, Perempuan Sembilu
Ilustrasi Maesa Sima, Perempuan Sembilu 

/siji/

KERETA berganti jalur dan kisah itu mengiang di kepalaku, berkelindan ingin mengingatkan lagi. Kamis, 31 Juli 1789. Atau hari ke-27 Syawal.

Bayang-bayang tembok Mangkunegaran sudah memanjang dua kali lipat. Ujungnya terinjak kaki kuda-kuda perang. Perempuan Sembilu terlihat oleh Jan Greeve, Gubernur Pesisir Timur Laut Jawa. Ia ada di dalam pasukan penembak jitu. Ia ahli menggunakan senjata tangan dan artileri. Dan kelak, keahlian itu membuat rumah tangganya diledakkan oleh mesiu kepalsuan. Dan dari sini, cerita tentangnya dimulai.

Pada hari Jumat, beberapa tahun setelah upacara penyambutan Jan Greeve, ia terlihat membeli payung kertas Tiongkok. Ia gali tanah samping rumah. Memendam diri. Kepalanya nyembul terciprat air hujan bercampur tanah. Ketika ditanya Ratri, istri baru suaminya, ia tersenyum:

"Aku sekadar mengendalikan hasrat daging dalam tubuhku," ia memejam. Tidak ingin diganggu.

(baca juga: Ronaldo Kencani Pilot Jet Pribadinya yang Ternyata Favoritkan Messi)

"Hasrat itu membuat hatiku disayat sembilu dan rasa bersalah."

Sejak hari itu, ia juga tidak lagi makan daging. Padahal, ayahnya peternak. Ayahnya, Kusowo, dikenal peternak ayam jantan dan burung puyuh. Kedua binatang ini dikirim ke Kasunanan untuk pertandingan terlarang. Yang mulia Pakubuwana III pada masa itu akan menghukum mereka yang tanpa hak melakukan, menonton, atau meniru pertandingan adu ayam jantan dan burung puyuh, selain keluarga kerajaan.

Beberapa orang berkata padaku bahwa atas dasar eksklusif tarung ayam dan puyuh ini, Perempuan Sembilu akhirnya memilih bergabung dengan Mangkunegaran. Pangeran Adipati menarik baginya, sebab bukan gemar menyalin Kitab Turutan, Kitab Tasbeh, dan Kitab al-Quran dengan tangannya sendiri. Meski, kadang mabuk malam harinya. Ia mengajar menari indah di bangsal, meski esoknya mengajarkan cara perang di palagan.

Tapi, beberapa orang lain yang kutemui, ceritanya beda lagi, begini.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help