Cerpen Yetti A KA

Di Bawah Payung Merah

KERETA api lewat dan ia bertanya, merokok? Aku menggeleng sembari tersenyum, aku sudah berhenti. Belakangan, dadaku sering sesak.

Di Bawah Payung Merah
Ilustrasi Cerpen Di Bawah Payung Merah 

KERETA api lewat dan ia bertanya, merokok? Aku menggeleng sembari tersenyum, aku sudah berhenti. Belakangan, dadaku sering sesak.

Ia terkekeh. Gigi-giginya tampak rusak—bahkan salah satu gigi serinya tinggal separuh. Pasti ia banyak sekali merokok. Kau harus ke dokter gigi, suaraku lebih mirip gemerisik daun-daun tua, terdengar payah dan memalukan. Aku hanya tak sabar melihat ia tampak tidak terurus. Aku ingat dulu bagaimana menjaganya; mengingatkan ia untuk mandi pagi, mencuci rambut setiap hari, menentukan jam berapa harus gosok gigi malam dan aku menyetel alarm biar tidak lupa. Semua yang dulu sering ia protes dan menganggapku lebih cocok menjadi seorang pengasuh dan pengurus rumah tangga ketimbang kekasih. Semua yang dulu membuat kami bertengkar, meski tidak lama. Kami nyaris tidak memiliki masalah besar. Semua berawal dari sesuatu yang sepele saja, tapi hal-hal remeh itulah yang membuat kami memilih berpisah.

Kami berdiam diri, lama. Pikiran kami mungkin sedang sama-sama mengembara dan aku terlalu takut menebak isi kepalanya yang, bisa saja, bukan tentangku sama sekali. Setiap orang tak ingin tempatnya diisi oleh siapa pun dalam hidup kekasih masa lalunya—terlepas apakah tempat itu masih ada atau tidak.

Sudah berapa lama kau meninggalkan aku? tanyanya getir. Aku sedikit tidak siap mendengar pertanyaannya dan aku menunjukkan sikap bingung. Ia mengulangi pertanyaan dengan kalimat sama persis dari sebelumnya. Itu caranya untuk memaksaku menjawab pertanyaan yang bisa saja ia anggap bagian yang harus kami kenang dengan baik dan terus-menerus diungkit-ungkit.

Aku memaksakan diri untuk terkekeh. Aku ingat hari-hari kami yang dipenuhi sikap keras kepala. Aku ingat pernah menangis karena ia memaksaku menyatakan apa yang kurasakan jika satu hari ia bertemu perempuan lain. Aku bilang, kau boleh pergi kapan saja. Ia tidak percaya. Ia mungkin ingin aku merengek dan berteriak aku akan mati jika ia pergi. Sama juga halnya, ia tidak berubah soal satu ini: memaksa agar aku merasa yang paling bersalah atas kegagalan kami, menganggap aku yang meninggalkannya. Ia mungkin sulit mengerti, sebelum seseorang memilih pergi, ia sudah lebih dulu bertahan dengan sekuatnya.

Kukumu panjang sekali, jeritku sengaja mengalihkan perhatiannya.

Ia segera menyembunyikan tangannya ke dalam saku jaket yang lebih kumal ketimbang bagian lainnya—seberapa sering ia menyembunyikan tangan di sana, menyembunyikan rasa bersalah atau sekadar rasa gugup? Jika kami masih bersama, maka aku akan menarik paksa tangan itu dan mengambil gunting kuku dalam tas dan memotongnya satu-satu dan mungkin ia kesal dalam hati, tapi aku tidak peduli. Ia tahu persis bagaimana cara aku mencintainya. Seperti juga ia tahu, tak banyak orang sanggup berhadapan dengan emosi-emosinya yang terlalu sering berubah. Hanya aku—pada waktu itu.

Jangan lagi, pintanya. Aku mengerti sekian tahun ia menahan diperlakukan seperti anak-anak. Itu pasti saja sulit ia tolerir kalau bukan karena keinginannya untuk terus bersamaku. Namun, semua tentu ada batas. Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa ketika akhirnya ia tidak menahan kepergianku lagi di satu sore saat aku begitu kesal karena ia orang terakhir yang ingat hari ulang tahunku dan aku mengancam pergi dari hidupnya seperti yang biasa kulakukan tiap kami bertengkar.

Aku tertawa, tentu saja tidak lagi, ujarku tanpa menambahkan kalau aku sudah hidup bersama seseorang yang lebih payah darinya dan aku begitu sibuk mengurus segalanya atas orang itu sampai tidak mungkin punya waktu untuk peduli terhadap orang lain. Aku tentu tidak akan menceritakan sepenuhnya tentang kehidupanku yang baru kepadanya. Bukan takut ia akan cemburu, tapi karena aku tidak ingin ia berpikir bahwa aku tidak berubah sedikit pun; tidak mencoba menjadi perempuan menyenangkan—perempuan yang manis dan tenang—dalam kehidupan seseorang. Segala yang dulu sungguh ia harapkan dan tidak pernah bisa kupenuhi—hingga ia tidak perlu merasa menyesali perpisahan impulsif kami. Bagaimanapun aku tetap ingin ia sedikit menyesal atau merasa terpukul melihatku tampak lebih matang dan bahagia sekarang ini.

Segalanya berubah, ia memandangku.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved