Cerpen Dadang Ari Murtono

Cara Memanjat Layang-layang dan Mendarat dengan Selamat

SATU jam sebelum pasukan Bhayangkara membongkar mulut, mata, dan telinganya, Sungging Adi Luwih teringat suatu hari ketika kakeknya bercerita ...

Cara Memanjat Layang-layang dan Mendarat dengan Selamat
Ilustrasi Cara Memanjat Layang layang dan Mendarat dengan Selamat 

SATU jam sebelum pasukan Bhayangkara membongkar mulut, mata, dan telinganya, Sungging Adi Luwih teringat suatu hari ketika kakeknya bercerita tentang sebuah nasihat kepada ayahnya, Sungging Prabangkara. "Ada hal lebih penting daripada belajar melukis, yaitu menguasai kemampuan memanjat layang-layang dan mendarat dengan selamat," kata kakeknya.

Sore itu, demikian si kakek berkisah, seperti laiknya seorang anak berbakti zaman dulu, Sungging Prabangkara menghaturkan sembah sebagai tanda meng-iya-kan nasihat ayahnya sekalipun ia tidak memiliki pemahaman sedikit pun kenapa seseorang yang di kelak kemudian hari akan menjadi seorang pelukis istana mesti belajar cara memanjat layang-layang dan mendarat dengan selamat. "Kepada siapa saya mesti belajar, Rama?"

"Prapanca, anakku. Hanya kepada Prapanca. Tak ada satu pun orang di seantero Majapahit yang lebih lihai menciptakan keajaiban selain Prapanca."

"Ampun Rama. Tapi Prapanca hanya menciptakan keajaiban dalam kitab-kitab yang ia tulis."

"Itu sudah cukup, anakku. Itu sudah cukup."

Kelak, kita tahu bahwa tak ada satu pun catatan yang menyebutkan bagaimana Prapanca mengajari Sungging Prabangkara memanjat layang-layang dan mendarat dengan selamat. Bahkan, dalam Negarakertagama, tak sekali pun namanya disebut, seperti juga tak sedikit pun peristiwa Bubat diceritakan. Dan kita mengerti bahwa memang begitulah cara penguasa menulis sejarah. Namun dari cerita lisan yang dituturkan turun-temurun, kita tahu bahwa pada suatu ketika Hayam Wuruk mengutus Sungging Prabangkara ke Sunda untuk melukis seorang putri—Pitaloka namanya—yang konon memiliki unsur-unsur surgawi dalam tubuh dan parasnya. Dan kita juga tahu, berbulan-bulan kemudian, ketika Prabangkara kembali ke Wilwatikta, Hayam Wuruk terkejut melihat apa yang telah dilukis oleh Prabangkara. "Kuperintahkan kau ke Sunda, Prabangkara, untuk melukis seorang putri yang konon memiliki sedikit sifat bidadari, tapi kenapa kau malah pergi ke surga dan melukis seorang bidadari?"

Pitaloka adalah apa yang berada di luar batas imajinasi Hayam Wuruk, bahkan sekalipun ia telah mendengar unsur-unsur surgawi yang dimiliki sang putri. Dan ketika beberapa bulan kemudian, ketika iring-iringan dari Sunda sampai di bumi Majapahit dan terjadi perselisihan Bubat yang berakhir dengan kematian Pitaloka serta dibuangnya Gajah Mada ke Madakaripura, Hayam Wuruk dilanda kemurungan yang seakan abadi. Ia tidak bisa menerima alasan Pitaloka melakukan belapati adalah lantaran kecintaannya kepada Sunda dan menolak dijadikan persembahan sebagai tanda bahwa Sunda takluk di bawah duli Majapahit. Dan dalam dukacita itu, sebuah pencerahan dari dunia kegelapan menyentuh batok kepala Hayam Wuruk. Bisikan itu kemudian memberinya sebuah ilham: mengutus Prabangkara melukis salah satu istri Hayam Wuruk dan sebuah malapetaka akan ia masukkan ke sana.

"Sebagai pelukis terbaik, maka aku tidak akan menolerir sedikit pun kesalahan. Dan nyawamu sebagai taruhannya," titahnya.

Lukisan itu selesai sepekan setelah titah sekaligus ancaman dijatuhkan. Prabangkara tahu, itu adalah sebuah mahakarya. Ia melukis begitu detail, hingga jumlah garis di sekitar mata, hidung, dan mulut. Tahu bahwa Prabangkara melakukan tugasnya dengan baik, sebuah ide lain datang kepada Hayam Wuruk. "Beri aku lukisan telanjang istriku."

Itu sesuatu yang mustahil. Prabangkara tidak pernah melihat istri sang raja telanjang. Tapi menolak titah adalah sebuah pembangkangan. Dan hukuman apa yang pantas bagi seorang pembangkang selain kematian? Dan Prabangkara menyanggupinya. Sewaktu lukisan itu selesai dan Prabangkara menunggu tintanya mengering, seekor lalat terbang ke wadah tinta, hinggap sedetik, dan mengangkut setetes tinta di ujung kaki sebelum terbang dan hinggap di atas lukisan tersebut, tepat di tepi kelamin. Sampai pada hari yang terkutuk itu, Prabangkara tak pernah menyadari apa yang telah diperbuat si lalat.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved