TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

Teras

Negara Bermain Bola

Jokowi mengisyaratkan akan mencabut pembekuan PSSI

ADA setitik harapan pascapertemuan Ketua Panitia Adhoc Reformasi PSSI Agum Gumelar dengan Presiden Jokowi, Rabu (24/2). Jokowi mengisyaratkan akan mencabut pembekuan PSSI. Ia kemudian memerintahkan kepada Kemenpora untuk mengkaji pencabutan pembekuan itu.
Hampir setahun sepak bola Indonesia mati suri setelah PSSI dibekukan. Akibatnya, banyak pemain bola dan orang yang hidup dari sepak bola kehilangan nafkah. Ada pemain sepak bola yang banting setir jadi penjual warung nasi, ada juga yang menyewakan odong-odong untuk menghibur anak-anak. Para pemain asing memilih hengkang dari Indonesia dan mencari peruntungan di klub-klub sepak bola di negara tetangga.
Sungguh memprihatinkan karena para pemain bola merupakan orang-orang yang total hidupnya untuk bermain bola, semenjak di Indonesia hidup liga profesional. Mereka pasti tak punya lagi keahlian selain mengolah si kulit bundar.
Liga sepak bola Indonesia itu pun sudah demikian dekat secara emosional dengan rakyat. Hampir setiap pertandingan LSI jadi tontonan yang menghibur. Terlepas dari sering adanya ekses seperti tawuran atau perkelahian antarpendukung fanatik, liga sepak bola yang diselenggarakan PSSI sudah jadi bagian dari hidup sebagian rakyat Indonesia.
Lihat saja setiap pertandingan. Satu contoh saja, ketika Persib, yang memang banyak pendukungnya, bermain di luar kandang, para bobotoh dengan semangat dan setia ikut menyertainya, meskipun cukup jauh, Medan atau Papua misalnya. Hanya ke Jakarta yang tidak didatangi karena khawatir bentrok dengan pendukung Persija.
Apalagi kalau keluar sebagai juara. Klub mana pun pasti dielu-elukan bak pahlawan. Pada saat Persib jadi juara LSI beberapa tahun lalu, Kota Bandung benar-benar jadi lautan biru. Antusiasme warga Kota menyambut dan mengarak sang juara tak ubahnya seperti Argentina atau Brasil saat jadi juara dunia. Sepak bola profesional memang mempunyai kekuatan seperti sihir.
Sihir itu kemudian lenyap seketika begitu Menpora membekukan PSSI. Event lain seperti Piala Sudirman dan Bali rupanya tak mampu mendatangkan sihir. Aneh memang. Padahal klubnya masih sama, tapi rupanya LSI seperti punya hubungan emosional dengan para pencinta sepak bola. Seakan-akan turnamen selain LSI hanyalah selingan.
Pemerintah memang membekukan PSSI karena menganggap PSSI jadi sarang mafia. Tapi kalau memang di PSSI banyak mafia, yang tepat membereskan mafia itu adalah penegak hukum dengan dasar pengaduan pihak yang dirugikan. Contohnya apa yang terjadi di FIFA. Begitu tercium presidennya korupsi, penegak hukum bergerak, tapi tak ada satu pun negara yang membekukan FIFA.
Yang terjadi di Indonesia justru anomali, negara ikut campur terhadap sepak bola yang diurus oleh perkumpulan. Seakan-akan negara sudah tidak punya garapan yang lebih penting sehingga ikut mengurusin hiburan rakyat. Kalaupun negara punya tanggung jawab dalam soal pembinaan sepak bola, bukan PSSI yang harus dibekukan, tapi lembaga yang bertanggung jawab dalam pembinaan olahraga dan menggunakan anggaran negara.
Akhirnya, niat baik pemerintah, jika dilakukan dengan cara yang keliru, hasilnya bukan kebaikan, malah kian kusut persoalan. Lebih aneh lagi, dalam klausul pencabutan pembekuan PSSI itu, Kemenpora meminta syarat di antaranya Indonesia harus jadi juara dalam event sepak bola tingkat Asia Tenggara dan Asia. Syarat tersebut tentu saja tidak masuk akal. Sehebat Mourinho atau Gus Hiddink pun sebagai pelatih, kalau dibebani secara mutlak harus jadi juara, tidak akan ada yang sanggup. Klausul tersebut menunjukkan negara sedang memainkan bola, tapi bukan bola seperti dalam sepak bola yang dipahami masyarakat. Entah mau ditendang ke mana bola itu, hanya Presiden dan Menpora yang tahu. (*)

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help