Cerpen A Warits Rovi

Pelajaran Kedukunan dari Seorang Pemulung

IA hanya meneguk sebotol air, tanpa terpejam dan bersila, tanpa asap dupa, sebelum akhirnya menebak kesukaan wanita berambut pirang yang tinggal ...

Pelajaran Kedukunan dari Seorang Pemulung
Ilustrasi Pelajaran Kedukunan dari Seorang Pemulung 

IA hanya meneguk sebotol air, tanpa terpejam dan bersila, tanpa asap dupa, sebelum akhirnya menebak kesukaan wanita berambut pirang yang tinggal di Gang Teratai Nomor 2. Seorang remaja di depannya mengangguk percaya padanya. Betapa tidak, si remaja sudah lima kali berdukun kepadanya. Lima wanita yang pernah didukunkan semuanya tak meleset dari tebakannya. Kebiasaan, kesukaan, dan keunikan lima wanita yang dipacari si remaja sama persis dengan yang ia tebak walau pada akhirnya lima wanita yang telah didukunkan itu tak satu pun yang berhasil dinikahi oleh si remaja.

Begitulah ia, Sama'un, yang dikenal sebagai dukun di pinggiran Kota Salak. Dalam amatan banyak orang, ia dipercaya bisa menerawang keadaan seseorang, terlebih ketika orang itu sering berada di dalam rumahnya. Penampilannya tidak selazim dukun pada umumnya. Kostum yang dikenakan biasa saja dan tidak ada yang berwarna hitam. Sepuluh jari tangannya tak satu pun memakai cincin. Di dalam ruang praktiknya sama sekali tidak ada properti dan aksesori kedukunan seperti dupa, mambang, jarum, boneka, atau kembang aneka warna. Ia juga bukan petapa yang pernah bersemadi di gua dan lereng gunung yang sepi. Tapi entahlah, demikian bila takdir berpihak pada seseorang, nyatanya banyak juga orang yang datang berdukun kepada Sama'un. Dari kelebihan yang dimiliki Sama'un ternyata ada juga kekurangannya, ia tidak menerima orang-orang yang jaraknya lebih lima kilometer dari rumahnya. Alasannya sederhana, "jin yang saya tugaskan hanya mampu bertugas pada jarak lima kilometer," begitu penjelasannya. Mendengar penjelasan itu ada yang mengangguk maklum dan ada pula yang bingung.

Keunikan lain yang dimiliki Sama'un adalah pekerjaannya sebagai pemulung sampah. Meski pendapatan dari profesi kedukunannya jauh sangat besar dibanding dengan pekerjaan asalnya sebagai pemulung, Sama'un tak meninggalkan pekerjaan itu. Setiap hari di sela-sela kesibukannya melayani pasien ia pasti meluangkan waktunya untuk mencari sampah. Masuk ke gang-gang kumuh, berlenggang melewati losmen, tertatih menapaki batu-batu got yang hampir rubuh. Tak ada tujuan lain dari langkahnya kecuali menuju tempat sampah dan memulung sampah-sampah untuk selanjutnya ia jual ke tengkulak.

Suatu hari sepulang memulung, seorang lelaki mendekatinya dengan wajah penasaran berhias senyum lembut. Sama'un meletakkan satu sak sampah di dekat pilar rumahnya lalu menemui lelaki itu yang sepertinya sudah lama menunggu. Kemudian keduanya duduk di lincak bambu di halaman rumahnya tepat di bawah pohon mangga yang rindang. Sama'un melepas capil daun pandan yang dikenakan dan mengipaskannya ke tubuhnya.

"Pak! Bagaimana dengan cewek saya? Mungkin Bapak sudah kedatangan ilham tentang kesukaannya, sebab saya tidak sabar untuk memberikan sesuatu di hari ulang tahunnya minggu depan," tanya lelaki itu kepadanya. Sama'un menarik napas panjang, menyeka butir keringat yang berbulir di keningnya, kemudian dengan santai ia menjawab.

"Siapkan untuknya kacang sangrai."

"Jangan bercanda, Pak, he-he."

"Saya serius kacang sangrai itu kesukaannya. Ia akan lebih suka menikmatinya pada malam hari."

"Selain kacang?"

"Dia sangat suka berias memakai bedak merk Jamil."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved