Cerpen Humam S Chudori

Kiai Jalal atawa Nabi Khidir

SEJAK merantau, Kaslani belum pernah sowan lagi ke guru ngajinya yang ada di daerah apabila mudik. Padahal setiap Lebaran ia pasti mudik.

Kiai Jalal atawa Nabi Khidir
Ilustrasi Kiai Jalal atawa Nabi Khidir 

SEJAK merantau, Kaslani belum pernah sowan lagi ke guru ngajinya yang ada di daerah apabila mudik. Padahal setiap Lebaran ia pasti mudik. Entah kenapa ia baru ingat Kiai Jalal setelah kereta yang dinaikinya meninggalkan stasiun.

Konon, siapa berniat jahat kepada Kiai Jalal pasti sial. Pernah ada yang mencuri kambingnya. Maling yang masuk kandang tak bisa keluar. Padahal pintunya tak terkunci. Bahkan maling tak bisa berdiri.

Berita ini cepat tersebar. Orang berduyun-duyun datang. Masyarakat geram. Namun, tak ada yang berani masuk kandang. Takut seperti si pencuri. Hanya merangkak. Mereka hanya menonton lelaki yang merangkak ke sana-kemari di kandang.

Sejak kemarin Kiai Jalal pergi bersama istrinya. Entah ke mana. Yang pasti, malam tadi mereka tak ada di rumahnya.

Pagi itu, Kiai Jalal tiba di rumahnya pukul sepuluh. Lelaki berjanggut itu masuk kandang. Tanpa bicara apa pun ia menarik tangan sang pencuri, setelah sebelumnya mulut sang kiai komat-kamit. Ibarat ibu mengajari anak berdiri. Seketika itu maling bisa berdiri. Tidak mengembik lagi. Lelaki yang bermaksud jahat tersebut dituntun sang kiai keluar dari kandang.

Kiai Jalal tak menunjukkan kekesalannya. Meski menjadi korban pencurian.

Setelah keluar kandang ia berbicara, di depan orang-orang yang berkerumun, agar mereka tidak main hakim sendiri.

Kiai Jalal mengajak sang pencuri ke teras rumahnya. Menasihatinya. Memberi makan kepada lelaki berkulit legam itu.

**

"UNTUK apa?" tanya Kiai Jalal tatkala Kaslani minta ilmu kedigdayaan..

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved