Cerpen Adi Zamzam

Hari Ketika Menjadi Kupu-kupu

SOSOK itu menoleh kanan-kiri sebelum meraih pintu. Dadanya berdebar keras begitu rantang telah ia letakkan di sudut ruang temaram itu.

Hari Ketika Menjadi Kupu-kupu
Ilustrasi Cerpen Hari Ketika Menjadi Kupu kupu 

SOSOK itu menoleh kanan-kiri sebelum meraih pintu. Dadanya berdebar keras begitu rantang telah ia letakkan di sudut ruang temaram itu. Kedua matanya langsung berkabut begitu menemukan sosok lusuh yang teronggok di atas tikar.

"Wid..., ini aku, Mala...," isak tak lagi tertahan ketika ia menyentuh sosok apak yang terbaring lemah itu.

Sosok itu menyahut meski hampir tak terdengar.

Kumala memeluknya, "Gadis bodoh... gadis bodoh...," lalu membantunya duduk. "Apa yang telah mereka lakukan kepadamu?" mengusap air mata.

Bibir kering itu tersenyum tipis, "Sekarang mereka masih bisa menyentuh punggungku. Tapi nanti, setelah aku menjadi menjadi kupu-kupu, jangan harap bisa...."

Saat mendapati bilur-bilur luka cambuk yang menghiasi kulit mulus punggung sahabatnya itu, Kumala begitu menyesal mengapa ia begitu terburu sehingga lupa membawa obat luka. Semoga saja besok si Darko masih mau menerima uangnya sehingga ia masih bisa menyambangi kamar belakang ini lagi.

"Apa mereka sudah melunturkannya?" Kumala menyentuh perut perempuan di hadapannya. Masih membuncit.

"Besok aku akan menjadi kupu-kupu," suaranya begitu lemah.

Kumala menghela napas. Selalu itu yang didesiskan sahabatnya ini. Keinginan untuk bebas buatnya selalu mengkhayal bahwa suatu hari ia akan menjelma kupu-kupu terbang meninggalkan tempat busuk ini. Kumala membuka rantang dengan pikiran kusut.

**

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved