Cerpen Teguh Affandi

Operasi Penggantian Isi Kepala

ALMURI bergidik ngeri membayangkannya. Mata bor melubangi tempurung tengkorak, slang dijejalkan ke dalam, lantas isi kepala dikeluarkan.

Operasi Penggantian Isi Kepala
Ilustrasi Cerpen Operasi Penggantian Isi Kepala 

ALMURI bergidik ngeri membayangkannya. Mata bor melubangi tempurung tengkorak, slang dijejalkan ke dalam, lantas isi kepala dikeluarkan. Rasa ngilu menjalar hingga pangkal leher lalu membangkitkan imajinasi seram. Amplop berisi sebuah poster, formulir pendaftaran kesediaan serta pernyataan asuransi, dan sekeping VCD berisi potongan adegan operasi membuat istirahat siang itu berongga. Tulisan besar "Operasi Penggantian Isi Kepala" semakin menghunjam. Kepala seseorang yang kebetulan isinya sudah kedaluwarsa dikeluarkan, cairan pekat hitam mengucur ke wadah tembaga di bawah ranjang operasi, kemudian dokter menggantikannya dengan isi kepala yang baru.

Almuri mengelus bagian belakang kepalanya. Masih utuh. Kemudian timbul kembali rasa sakit yang selama ini dideritanya. Sakit luar biasa bak dihantam martil, bayangan pudar, lantas membuat jalan gemetar.

"Sudah waktunya, Pak," Mahmudi, asistennya, bersuara dengan sedikit ketakutan. Duduk di kursi seberang, kakinya rapat, degup jantungnya berpacu cepat.

"Risikonya bagaimana?"

Mahmudi menarik napas mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan apa itu "operasi penggantian isi kepala".

"Jadi Dokter X, entah sengaja atau tidak, semua orang hanya menyebutnya Dokter X. Dokter X akan memeriksa keparahan isi kepala pasien. Bila memungkinkan, hanya akan dilakukan terapi pemulihan atau pencangkokan neuron. Untuk cangkok digunakan sepotong dendrit kemudian dianakkan dalam larutan kimia di laboratorium khusus. Enam sampai delapan bulan. Saat sudah beranak, baru akan ditanam di kepala," Mahmudi menjelaskan.

"Jadi apapun yang akan terjadi, kepala kita akan dibedah."

"Ya, kalau tidak mengalami kerusakan, tidak akan dibedah, Pak."

Almuri menelan ludah. Lantas menjangkau secangkir kopi di depannya, meneguk beberapa kali untuk mencairkan ketegangan yang menggumpali dada.

"Kalau parah?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved