Cerpen Mashdar Zainal

Rumah Pulang

SEMENJAK Kakek dan Nenek meninggal, rumah itu menjadi semakin sunyi. Dan kesunyian itu seakan memiliki wujud seperti asap yang terus menyebar...

Rumah Pulang
Ilustrasi Cerpen 

SEMENJAK Kakek dan Nenek meninggal, rumah itu menjadi semakin sunyi. Dan kesunyian itu seakan memiliki wujud seperti asap yang terus menyebar, mencari jalan keluar. Asap itu seolah menguap dari dinding-dinging, atap-atap, lantai, kursi-kursi, ranjang, lemari, serta sebuah sumur tua yang selalu menganga dan tak pernah kenyang melahap daun-daun kering serta bangkai-bangkai serangga ke dalamnya.

Halaman belakang rumah Kakek berhadapan langsung dengan area pemakaman kampung, hanya berbatas sebuah pagar berupa pohon jarak setinggi pinggul orang dewasa. Ketika melihat pohon-pohon jarak yang berderet itu, aku seperti melihat sebuah pembatas antara riuh dan sepi, antara petang dan pagi, antara hidup dan mati. Kakek dan Nenek juga dimakamkan di pemakaman itu. Bahkan nisan-nisan dari kuburan mereka terlihat jelas dari halaman belakang rumah. Seperti dua buah tangan yang menyembul dari dalam tanah dan melambai-lambai.

Tahun-tahun menggeliat, dan bayangan tentang halaman belakang rumah itu tak pernah berubah. Sebuah sumur dengan timba menggantung di ambang liang. Sebuah ruang mandi yang sangat sederhana, yang tak memilki atap dan pintu, kecuali sebuah kelambu—yang dibikin dari kain sarung yang sudah tidak dipakai dan disampirkan alakadarnya di palangan kayu. Di teritisnya, dua buah kursi anyam yang amburadul telah terjaga selama puluhan tahun. Sampai-sampai kaki kursi itu tenggelam ke dalam tanah dan lapuk dimakan rayap.

Sebelum meninggal, Kakek dan Nenek betah sekali duduk berlama-lama di kursi itu sambil memandangi puluhan batu nisan yang mencuat di pemakaman belakang rumah. Kakek pernah bilang, memandang batu nisan di pemakaman bisa membuat seseorang menjadi tenang dan berpikir lebih jernih.

Kakek juga pernah berkisah, dulu sekali, Neneklah yang bersikeras ingin membangun rumah di pinggiran makam itu.

"Apa kau tidak takut tinggal bersebelahan dengan kuburan?" Kakek pernah bertanya serupa itu kepada Nenek, dan apa jawab Nenek?

"Apa yang perlu ditakutkan dari kuburan, dari nisan-nisan, dari benda mati? Toh kita juga akan mati."

Selanjutnya, Nenek menyebut rumah itu sebagai rumah pulang. Dan rumah itu memang selalu mengingatkan mereka untuk pulang. Hampir tak pernah Kakek atau Nenek menginap berlama-lama di rumah yang bukan rumahnya. Tak ada rumah yang setenang rumah itu. Kata Kakek, Nenek memang lebih menyukai kesunyian daripada keramaian. Sebab itulah Nenek lebih memilih membangun rumah di tanah kosong, di sebelah kuburan yang lengang, ketimbang membangun rumah di sisian jalan, di keramaian, atau di mana pun.

Dari Ayah, aku tak pernah mendapat banyak cerita tentang rumah itu. Kata ayah, yang merupakan bocah semata wayang kakek dan nenek, yang sedari kecil hidup di rumah itu, rumah itu sama sekali tak ada bedanya dengan rumah-rumah lain. Hanya saja, ketika malam tiba, terasa sangat sunyi. Seperti ada liang dalam rumah itu yang menelan riuh-piuh dunia luar. Namun, dari Kakek, aku mendapat banyak cerita menarik tentang rumah di sebelah makam itu. Konon, kata Kakek, setiap kali ada orang meninggal, malam harinya aroma wangi yang ganjil selalu tercium sampai ke dalam rumah, merambah sampai ke dapur, kamar, dan ruang depan.

"Itu hanya aroma bunga selepas pemakaman, aroma bunga dari orang-orang yang nyekar," ujar Kakek. Tapi ujar Nenek tidak demikian.

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved