Gambung, Jejak Cinta yang Tersisa dari RE Kerkhoven

Terlempar ke dunia sunyi di pedalaman Gambung seperti melemparkan Jenny ke dunia lain. Ia berupaya mengimbangi kerja keras, semangat, dan kebahagiaan

Gambung, Jejak Cinta yang Tersisa dari RE Kerkhoven
TRIBUN JABAR/MACHMUD MUBAROK
Peserta jelajah Gamboeng Vooruit berdiskusi tentang buku Sang Juragan Teh di PPTK Gambung, Minggu (17/1). 

TRIBUNJABAR.CO.ID - DESIR angin seolah berhenti, begitu langkah kaki tiba di sebuah kompleks permakaman kecil. Pohon-pohon Rasamala (Altingia excelsa) yang tinggi dan rimbun mengitari tempat itu seolah menjadi penjaga, teman, dan pelindung tiga buah makam di bawahnya. Pohon sepelukan orang dewasa itu meniupkan kesunyian, nun jauh di kebun teh Gambung, Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung.

Di situlah Rudolph Eduard Kerkhoven, perintis dan pembangun perkebunan teh Gambung beristirahat untuk selamanya, menempati makam paling bawah. Di tengah adalah makam istrinya, Jenny Elisabeth Henriette Roosegaarde Bisschop atau Jenny Kerkhoven. Lalu makam paling atas, masih belum bisa dipastikan siapa yang mengisinya. Ada yang bilang itu adalah makam guru pribadi keluarga Kerkhoven, tapi ada pula yang menyebutkan anak Kerkhoven yang tak sempat menikmati dunia karena Jenny keguguran.

RE Kerkhoven adalah bagian dari keluarga besar Kerkhoven, Bosscha, Holle, sebuah dinasti para juragan perkebunan di Priangan (Preanger Planters). Ayahnya, RA Kerkhoven membangun perkebunan teh di Arjasari. Pamannya, Eduard Julius Kerkhoven adalah pemilik perkebunan di Sinagar, Sukabumi. KAR Bosscha yang datang belakangan, masih terhitung saudaranya, dan sukses menjadi administratur perkebunan Malabar. Tak ketinggalan, Karel Frederick Holle, pemilik perkebunan teh Waspada, Garut, juga masih terikat hubungan keluarga. Perkebunana Panumbangan, Negla, dan Talun juga milik keluarga mereka.

Mereka semua terhubung oleh sang pendahulu yang pertama kali datang ke Hindia Belanda, Guillermo Jacques van der Hutch atau Willem van der Hutch, untuk membabat alas dan menjadikannya perkebunan kopi ataupun teh.

Ada peluh, keluh, perjuangan, konflik, dan tentu saja cinta, sepanjang Kerkhoven mengembangkan perkebunan teh di kaki Gunung Tilu ini. Ia mempertaruhkan segalanya demi cintanya kepada Gambung, kepada tanah Priangan, dan kepada sang istri, Jenny.
Namun cinta yang tulus dari Kerkhoven rupanya tak mampu menaklukkan hasrat terpendam Jenny, yang terbiasa hidup sebagai sosialita Batavia. Terlempar ke dunia sunyi di pedalaman Gambung seperti melemparkan Jenny ke dunia lain. Ia berupaya mengimbangi kerja keras, semangat, dan kebahagiaan Kerkhoven menggauli tanah dan teh Gambung. Tapi tetap saja, nun di dasar sanubarinya, Jenny ingin lepas dari kebahagiaan semu itu.

Kehadiran anak-anak yang lucu, Rudolf A. Kerkhoven, Eduard Silvester Kerkhoven, Emilius Hubertus Kerkhoven, Karel Felix Kerkhoven, dan Bertha Elisabeth Kerkhoven, tidak juga meredakan kegundahan Jenny. Hingga akhirnya Jenny didera penyakit syaraf dan depresi. Ujungnya, kematian pun menjemput Jenny dengan cara yang tragis: bunuh diri minum racun.

Kisah itulah yang tertuang dalam roman Heeren van de Thee karya Hella S Haasse yang diterjemahkan menjadi Sang Juragan Teh terbitan Gramedia Pustaka Utama. Buku itu pula yang memandu puluhan orang untuk turut serta menjelajah ke Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung, peninggalan RE Kerkhoven, Minggu (17/1) lalu. Acara itu diinisiasi oleh Gamboeng Vooruit & Co, kolaborasi Balad Junghuhn dan Tjimahi Heritage.

Penjelajahan dan diskusi buku menjadi santapan utama para peserta. Dipandu Maman Sulaeman, staf di Divisi Agrowisata PPTK Gambung, peserta begitu antusias berkeliling kebun teh sambil mendengarkan penjelasan soal seluk-beluk teh serta tentu saja menziarahi makam RE Kerkhoven, Jenny, dan makam tak bernama.

"Dulu saya melihat Belanda itu penjajah semata. Tapi setelah saya membuka kembali sejarah Gambung, lalu mendengar cerita-cerita dari para sepuh, pandangan saya terbuka, bahwa tidak semua Belanda itu penjajah, karena ada juga yang baiknya, seperti Kerkhoven ini," kata Maman.

Menurut Maman, perkebunan teh ini merupakan harta karun tak ternilai yang ditinggalkan Kerkhoven. Ia pun membawa rombongan ke sebuah bak penampungan air yang dibangun oleh Kerkhoven untuk disalurkan ke rumah-rumah warga sekitar Gambung.
"Sayangnya tak ada lagi peninggalan Kerkhoven yang utuh dan bisa kita saksikan, selain perkebunan teh ini. Rumahnya sudah tidak ada, diganti jadi gedung PPTK ini," ujar Maman.

Tak hanya Maman yang bercerita soal Kerkhoven dan perkebunan teh Gambung, sejumlah pembicara lain juga turut menyampaikan pandangannya pada sesi diskusi. Mochamad Sopian Ansori bercerita tentang sejarah perkebunan di Jawa Barat, lalu Andrenaline Kataris mengulas dari sisi sastra kolonial. Tak ketinggalan Meggy P Soedjatmiko, editor buku Sang Juragan Teh pun, pun urun bicara.

Menurut Meggy, kisah Kerkhoven ini adalah sejarah yang dinovelisasi oleh Hella Haasse. "Data-datanya primer, berdasar dari dokumen dan surat-surat keluarga Kerkhoven. Diberi sentuhan fiksi oleh Hella. Saya menggarap buku ini selama delapan bulan. Makanya senang bisa sampai di Gambung," ujar Meggy.

Begitu pula para peserta merasakan keseruan berada di Gambung. Bisa menjelajah dipandu sebuah buku, lalu mendiskusikannya, langsung di tempat yang disebutkan dalam buku, sangat bermakna dibanding mendiskusikannya di tempat yang lain. (*)

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved