Cerpen Asmadji As Muchtar

Cerpen Kiai

BANYAK orang datang di rumah Kiai dengan berbagai keperluan. Ada yang minta disembuhkan penyakitnya. Ada yang minta berkah doa agar usahanya sukses.

Cerpen Kiai
Ilustrasi Kiai 

BANYAK orang datang di rumah Kiai dengan berbagai keperluan. Ada yang minta disembuhkan penyakitnya. Ada yang minta berkah doa agar usahanya sukses. Ada juga yang minta didoakan agar cepat naik pangkat. Dan setiap menjelang pemilu dan pilkada, banyak juga caleg dan calon kepala daerah datang minta didoakan Kiai.

Setiap orang yang datang di rumah Kiai pasti meninggalkan amplop berisi sejumlah uang. Biasanya amplop itu diserahkan bersamaan dengan ketika menjabat tangan Kiai. Kiai selalu langsung melemparkan amplop berisi sejumlah uang yang diterimanya itu ke kamar sebelah ruang tamu. Sesekali ada tamu melirik lantai kamar itu yang penuh dengan amplop-amplop berserakan yang menggunung. Setiap bulan sekali amplop-amplop yang berserakan menggunung di lantai kamar sebelah ruang tamu itu dibuka dan isinya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Karena itu, Kiai kaya raya, mobilnya mewah, rumahnya juga mewah dan berkali-kali membeli tanah di sejumlah tempat dan konon juga punya saham di sejumlah perusahaan.

Namun, penghasilan Kiai yang terbesar adalah dari bisnis cincin permata batu akik. Banyak orang suka membeli cincin bermata batu akik yang ditawarkan Kiai lewat pertemuan langsung maupun lewat sms dan iklan di koran-koran. Ada dua jenis cincin bermata batu akik yang paling populer, harganya sekitar satu milyar rupiah, yakni cincin mirah dalima dan cincin safir biru. Konon cincin mirah dalima mampu membuat pemakainya makin berwibawa dan terhormat, sedangkan cincin safir biru bisa membuat pemakainya makin bahagia sejahtera. Karena itu, banyak orang yang punya banyak uang bersedia membeli dan suka memakai cincin mirah dalima dan safir biru seperti yang dipakai Kiai dan ternyata memang semakin berwibawa dan terhormat serta makin bahagia sejahtera.

Memang, sejak muda Kiai suka memakai cincin mirah dalima di jari manis tangan kanannya, sedangkan cincin safir biru melingkar di jari manis tangan kirinya. Ukuran mirah dalima dan safir biru yang dipakai Kiai sebesar telur burung puyuh. Setiap ada yang menjabat dan mencium tangan Kiai seolah-olah mencium mirah dalima yang dipakainya.

Pada tengah malam, ketika sedang merenung sehabis salat Tahajud di kamarnya, Kiai tiba-tiba membayangkan banyak orang yang menjabat dan kemudian mencium tangannnya mirip dengan mencium mirah dalima, lantas mereka merasakan seperti habis menyembah batu mulia itu.

"Astagfirullah, ampuni aku, ya, Tuhan, karena telah memakai cincin ini yang sering berubah menjadi berhala bagi mereka yang menciumnya." Kiai merintih sambil menadahkan kedua telapak tangannnya. Lantas Kiai melepaskan cincin mirah dalima dari jari manis di tangan kanannya. Ketika ujung-ujung jari tangan kirinya sedang melepaskan cincin mirah dalima itu seperti sedang menyentuh bara yang sangat panas hingga membuatnya kicat-kicat. Cincin mirah dalima itu pun dibantingnya di atas sajadah setelah terlepas dari jari tangan kanannya.

"Kenapa mirah dalima itu terasa sangat panas seperti bara? Apakah sudah berubah menjadi berhala yang bakal mengisi dasar neraka jahanam?" Kiai bergumam lirih, seperti sedang bertanya kepada Tuhan.

Kiai kemudian juga melepaskan cincin safir biru di jari tangan kirinya. Ketika ujung-ujung jari tangan kanannya menyentuh safir biru itu juga terasa sangat panas seperti menyentuh bara. Lantas cincin safir biru itu pun dibantingnya di atas sajadah.

"Kenapa safir biru itu juga tiba-tiba panas seperti bara?" Kiai bergumam lagi seperti bertanya kepada Tuhan. Kemudian merenungi perjalanan hidupnya sebagai ulama yang sebetulnya sudah lama berubah seperti dukun. Sekilas benaknya teringat peringatan yang tersirat di dalam kitab suci bahwa di setiap masa dan setiap wilayah selalu ada togut alias dukun, sedangkan dukun kerapkali menyesatkan umat dan pada akhirnya akan masuk neraka bersama umat yang mengikutinya.

Begitulah, selama ini banyak orang memang percaya bahwa jika mereka berjabatan tangan dan mencium mirah dalima di jari manis tangan kanan Kiai akan seperti mencium hajar aswad yang menempel di Kabah. Bahkan ada juga yang percaya jika mencium mirah dalima di tangan kanan Kiai itu seperti mencium Tuhan sehingga memperoleh banyak berkah seperti memperoleh banyak rezeki sehingga semakin kaya raya tak peduli kekayaannya diperoleh dari korupsi. Bahkan, meskipun mereka sering korupsi, tak ada yang masuk penjara karena sudah pernah mencium mirah dalima yang dipakai Kiai.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved