Cerpen Mugya Syahreza Santosa

Salam Niah

Di sisa hidup Salam tanpa seseorang yang paling dicintai, berarti sepasang mata akan lebih terasa seperti sebuah danau.

Salam Niah
Ilustrasi Cerpen Salam Niah 

SALAM kini memercayai satu hal ketika Niah harus lebih dulu pergi darinya. Di sisa hidup Salam tanpa seseorang yang paling dicintai, berarti sepasang mata akan lebih terasa seperti sebuah danau. Bagaimana tidak, sepasang mata Salam kini selalu berair dan kenangan tentang Niah seakan-akan adalah angsa yang anggun berenang di atas permukaannya.

Apalagi hidup dengan Niah hampir dilewatinya genap enam puluh tahun lamanya. Salam sendiri diyakini oleh anak-anaknya seorang tegar, ketimbang Niah bila harus Salam lebih dulu dipanggil oleh-Nya. Tetapi cinta bukan perkara siapa yang akan lebih tabah untuk ditinggalkan.

Salam duduk merebahkan punggungnya yang tak bisa lagi tegak. Di hadapannya sebuah kuburan dengan tanah yang masih basah, menggunuk. Dua padung nisan menancap, seolah juga ikut menusuk ke dalam dadanya. Udara pagi masih dingin, kabut belum mau beranjak dari seluruh punggung Gunung Wayang. Terdengar tangisan dari anak-anak perempuan dan cucu-cucunya, yang mengantar ziarah. Salam masih belum ingin berpaling dari hari yang membuatnya terasa harus jatuh, atau dijatuhkan pada sebuah kekosongan, ketika Niah akhirnya benar-benar diambil darinya.

LIHAT JUGA: VIDEO: Warga Rekam Jatuhnya Pesawat TNI di Acara Gebyar Dirgantara di Lanud Adisutjipto

Salam membenarkan bahwa dirinya dengan Niah sudah lebih dulu sepakat agar saling mengikhlaskan. Jika suatu ketika, hari ini, tiba. Hari ketika salah seorang di antara mereka akan ada yang pergi. Selain usia mereka yang sudah senja, Salam punya darah tinggi, Niah dengan penyakit asmanya. Jadi, bagi Salam untuk hari ketika Niah kemudian meraih napas terakhirnya, ia tampak dari luar sangat tabah. Tangisannya hampir dikatakan tak pecah. Justru ketika kedatangan seorang cucu, yang sudah lama merantau, Salam lebih tampak bisa memaknai rasa sedih dan harunya sebuah pertemuan.

Salam meraba pinggangnya yang tiba-tiba terasa disengat, saat ia berusaha bangkit. Ia masih ingat pertama kali menemukan punggungnya tak bisa lagi diluruskan. Kejadiannya hampir tak bisa terlupakan. Ketika Salam berniat memetik beberapa buah jeruk purut di kebun, sebab Niah, sang istri tercinta, mengeluhkan makan dengan sambal beraroma jeruk sudah lama tak dirasainya. Bagi Salam, itu sebuah pertanda baik, ia kemudian tinggal menengok ke kebun belakang rumah. Sebuah kebun sayuran yang tak lain seperti surga yang pernah lama diciptakan dengan cucuran keringat selama berpuluh-tahun.

Salam memang terlahir untuk membahagiakan Niah, begitu kiranya dalam pikirannya. Hanya saja, Salam terkadang lupa bahwa usia yang mulai dikandungnya adalah tanda lain baginya, untuk lebih memilih mana yang bisa dilakukan dan mana yang tak bisa didapatkan. Salam jatuh dari pohon jeruk purut, yang sebenarnya tak terlalu tinggi. Posisi jatuh yang membuat punggungnya membentur tanah lebih dulu, mungkin yang membuat Salam harus sadar, waktu adalah gravitasi yang memaksa dirinya agar saatnya tiba untuk berjalan terbungkuk-bungkuk.

Semenjak itu Salam berjalan dengan punggung yang bungkuk. Pinggang yang mulai goyah saat dua-tiga langkah dipaksanya mengayun.

Niah bukan tipe perempuan yang senang melihat Salam melakukan hal aneh-aneh untuknya. Niah lebih suka melihat atau mendengar Salam berbuat salah sehingga Niah punya alasan mengomeli dirinya dengan khas seorang nenek-nenek. Salam menyerah, kalau Niah sudah seperti itu, Salam terkadang membenarkan peci di atas kepalanya. Ada keringat yang membuat rambut Salam kelihatan lepek. Wajah Salam tak karuan, tapi Niah justru merasa harus seperti itulah, sang Pujaan Hatinya.

Kini, tak ada lagi Niah, Si Kakatua yang hinggap di jendela. Yang sepanjang harinya bisa dipergunakan untuk mengomentari apa saja. Dari mulai harga kentang yang turun, sampai kelakuan mantan menantu yang dahulu memujinya kini berbalik mencaci.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved