Cerpen Yus R Ismail

Cerpen Dewi

SAYA berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari.

Cerpen Dewi
Ilustrasi cerpen Dewi 

SAYA berangkat berdua bersama Dewi ke kota kabupaten. Maksudnya mau mengikuti Pelatihan Kurikulum Bagi Guru Sasaran selama lima hari. Hari pertama, setelah istirahat dan makan, Dewi bilang mau ke toilet. Tapi sampai jam masuk pelatihan berikutnya Dewi tidak datang lagi. Tentu saja saya penasaran. Saya minta izin ke toilet. Di toilet ternyata tidak ada siapa-siapa. Ke mana Dewi?

Karena sampai malam pun Dewi tidak pulang, saya mulai cemas. Ibunya bicara khusus kepada saya sebelum kami berangkat.

"Tolong Dewi diperhatikan dan diperingatkan, ya. Dewi itu kadang-kadang nakal," kata ibu Dewi.

Dengan begitu saja saya sudah merasa bertanggung jawab. Karenanya semalaman saya tidak bisa tidur. Pagi-pagi saya dibangunkan dengan suara-suara ribut di halaman. Kebetulan kamar tempat saya menginap paling depan, dekat dengan halaman depan. Saya melongokkan kepala melalui jendela.

"Lima belas ribu saja dua bungkus, ya, Bu. Saya beli empat bungkus, deh," kata seorang peserta pelatihan sambil menimang-nimang bungkusan ranginang.

Saya terpesona. Saat si ibu penjual oleh-oleh itu menengok kepada saya. Beberapa jenak kami saling memandang. Wajah si ibu itu mirip Dewi. Begitu saya sadar, saya langsung keluar kamar. Tapi si ibu penjual oleh-oleh itu sudah berlalu. Bakul bawaannya belum diikat selendang ketika dia berlari. Saya mengejarnya.

"Bu, Bu, mengapa berlari?" tanya saya sambil memotong langkahnya.

Si ibu terkejut.

"Mengapa Ibu berlari? Ibu tahu di mana Dewi?" tanya saya langsung ke tujuan.

Ibu itu menggeleng. "Tidak. Tidak tahu," katanya gugup.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved