Cerpen Sungging Raga

Percakapan dalam Kamar

AKU adalah sebuah kamar bercat kuning kelabu dengan pintu di bagian timur dan sepasang jendela di bagian barat.

Percakapan dalam Kamar
Ilustrasi Percakapan dalam Kamar 

AKU adalah sebuah kamar bercat kuning kelabu dengan pintu di bagian timur dan sepasang jendela di bagian barat. Berikut ini akan kuceritakan beberapa hal yang pernah terjadi dalam diriku.

20 Januari 1987
Seorang perempuan masuk bersama lelaki yang tampak menggendong bayi.
"Akhirnya.... Kita kembali ke rumah."
"Dengan bayi yang lucu."
"Apa kau sudah memikirkan nama untuknya?"
"Tentu, kita beri nama Salem Murozil."
"Nama macam apa itu?"
"Aku juga tidak tahu."
"Tapi setiap nama adalah doa. Setidaknya, harus memiliki makna."
"Maknanya bisa dicari di buku tafsir mimpi."

14 November 1987
Suami istri duduk di lantai, bayi mereka memakai baju berwarna merah.
"Salem, Salem, ayo sini, sini."
"Ayo, Nak. Ya, begitu."
"Anak kita sudah pintar merangkak."
"Wah, lihat, lincah sekali seperti bapaknya."
"Awas jatuh.... Yah, malah menangis."

16 September 1999
Barang-barang berserakan. Ada beberapa poster pemain sepak bola di dinding. Seorang bocah masih terlelap. Ibunya kemudian masuk dan menarik selimut.
"Salem! Dasar anak nakal. Sudah pagi, belum bangun juga."
"Sebentar, Bu. Masih ngantuk."
"Ayo. Jam berapa ini? Nanti ketinggalan bus sekolah."
"Sebentar lagi."
"Setiap hari kok malas-malasan. Cepat mandi sana."
"Aduh. Aduh."

30 April 2004
Anak muda itu duduk di atas kasur.
+ Aku cintanya sama kamu, cuma sama kamu.
+ Lho, aku serius, Sayang. Nih, apa kamu bisa merasakan detak jantungku di telepon?
+ Yah. Jangan samakan aku dengan laki-laki lain, dong. Nanti kubuktikan kalau aku setia.
"Salem! Siapa yang habiskan sirup di kulkas?"
+ Eh, sebentar. Ibu memanggilku. Nanti kutelepon lagi."

7 Oktober 2013
Kamar dihias. Seorang lelaki sibuk di depan cermin.
"Cepat, Salem. Pengantin wanitanya sudah di perjalanan."
"Apa aku sudah tampan? Aku agak gugup."
"Sudahlah. Cepat."
"Tapi aku belum hafal bacaannya.... Sebentar, saya terima nikahnya Nalea binti Dulkarip.... Terus bagaimana tadi?"
"Nanti, kan, ada sontekannya."

8 Oktober 2013
Foto pernikahan terpajang di dinding.
"Hmhmhh...."
"Slrp...."
"Uhk... sshh...."
"Nghh...."

19 Februari 2014
Seorang lelaki baru saja masuk dan mengempaskan tubuhnya di atas kursi. Istrinya mengaduk kopi dan meletakkannya di atas meja.
"Keuangan kita sedang sulit. Novelku juga belum ada kabar dari penerbit. Mungkin royaltinya terlambat."
"Kau tidak coba cari pekerjaan lain saja, Mas?"
"Maksudmu? Aku harus berhenti menjadi seorang penulis?"
"Ya, bagaimana lagi? Menulis bukan pekerjaan yang menguntungkan. Kau juga harus berhemat, berhentilah membeli asap rokok."
"Bukankah dulu kamu mau menikahiku karena menyukai tulisanku? Kau bilang siap hidup susah senang bersamaku. Sekarang kau menyuruhku berhenti."
"Aku sedang tidak mau bertengkar, Mas. Tapi kita harus realistis. Barang-barang kebutuhan naik. Penghasilanku sebagai sekretaris hampir tak mencukupi. Apalagi aku...."
"Ada apa, Nalea?"
"Hasil pemeriksaan dokter sudah kuambil kemarin, dan aku hamil. Jadi, akan ada banyak kebutuhan."
"Apa? Hamil? Kita akan punya anak. Ha-ha-ha. Ha-ha-ha."

7 Januari 2016
Seorang lelaki menggendong bayi, istrinya sudah berdandan rapi.
"Aku berangkat dulu, Mas. Kotak susu bayi dan gulanya ada di rak sebelah. Pakai air hangat, jangan yang mendidih."
"Tenang saja."
"Sampai nanti, Manisha.... Manisha jangan rewel sama Papa Salem, ya."
"Sampai nanti. Ayo, dadah ke Mama dulu. Dadah Mamaaa...."
"Cium dulu buat Manisha."
"Papanya nggak dicium juga?"
"Aku sudah telat. Sampai nanti."

6 Maret 2038
Lelaki itu membanting pintu, berbicara dengan anak gadisnya.
"Nisha! Papa ingatkan sekali lagi, jauhi laki-laki itu!"
"Tapi dia laki-laki baik, Pa."
"Baik apanya. Dia pengangguran. Pekerjaannya tidak jelas."
"Dia seorang fotografer."
"Fotografer itu hobi, bukan pekerjaan. Memangnya Papa nggak tahu mana pekerjaan mana hobi, hah? Lebih baik kamu sama teman kerjamu yang sering datang kemari untuk mengajarimu main gitar."
"Mas Nurul maksudnya, Pa?"
"Iya. Nurul, atau siapa lah itu."
"Nisha nggak cinta."
"Omong kosong cintamu. Kamu harus realistis."

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved