Cerpen Absurditas Malka

Sekian Puluh Tahun Kebakaran Hutan dan Lahan

Di dalam gedung itu, di salah satu ruangannya—ruangan berisi Sang Jenderal dan Sang Ajudan yang beloon—riuh oleh percakapan mengenai bakar-bakaran.

Sekian Puluh Tahun Kebakaran Hutan dan Lahan
Ilustrasi cerpen Sekian Puluh Tahun Kebakaran Hutan dan Lahan 

JAKARTA, gedung pemerintah, jam 7 pagi.

Di dalam gedung itu, di salah satu ruangannya—ruangan berisi Sang Jenderal dan Sang Ajudan yang beloon—riuh oleh percakapan asyik mengenai bakar-bakaran.

"Bapak tahu, kan, pembentukan lahan gambut itu memakan waktu lama. Sayang sekali kalau dibakar."

"Kamu seharusnya tahu, kelapa sawit yang nanti akan ditanam di atas lahan gambut itulah yang akan mengisi dompetmu, bukan gambut itu. Paham?" Sang Jenderal mendelik.

"Berapa hektar yang harus kita bakar?"

"Kita? Kamu tidak perlu membakar berhektar-hektar. Buat saja titik-titik api kecil yang berpencar. Biarkan angin yang menyelesaikan sisanya. Paham?" Telunjuk Sang Jenderal menempel di jidat Sang Ajudan.

"Itu bisa menghanguskan ribuan hektar, Pak."

"Itu tujuannya. Membakar seluas-luasnya. Paham?"

"Bagaimana jika polisi menangkap kita?"

"Ha-ha-ha. Mana berani tikus menangkap macan, paham?" Sang Jenderal mengusap deretan bintang di pundaknya. "Kapan kamu akan mulai membakar hutan itu, paham?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved