Cerpen

Api yang Menetes dari Mata

TAK ada yang tahu dari mana asal mula api itu

Api yang Menetes dari Mata
DOKUMENTASI/TRIBUN JABAR
Ilustrasi 

Cerpen Toni Lesmana

JAM tujuh pagi. Maroplik duduk bersandar di pagar pembatas trotoar, memunggungi keramaian jalanan. Kakinya jatuh ke selokan. Matanya menatap garis polisi yang kuning membentang, kontras dengan warna hitam hangus reruntuhan kios baksonya. Bara masih terlihat di bawah reruntuhan. Asap membubung dimainkan angin pagi.

Bukan hanya kiosnya, tapi hampir semua kios yang berjajar di tepi trotoar itu habis dilalap api. Tak ada yang tahu dari mana asal mula api itu. Jam 12 malam, ketika satu per satu mulai menutup kios, tahu-tahu api telah membakar dua atap kios paling ujung. Angin yang berembus kencang dengan cepat membuat api seperti berlari melahap kios demi kios dan bangunan lain di sekitarnya.

Tak ada yang sempat menyelamatkan barang-barang, semua langsung melompat dan berlari menjauh. Lantas, dari tempat aman, menatap api yang terus membesar sambil merasakan kesedihan yang mulai bangkit. Sedikit berharap ketika sirene mobil damkar berdatangan menjerit-jerit. Marah saat banyak penonton yang berdatangan sambil foto-foto. Seakan kesedihan adalah tontonan yang menghibur.

Orang-orang masih sibuk membersihkan sisa reruntuhan, memilih yang masih bisa dijual ke rongsok. Sebagian berjalan kian kemari tak tentu arah. Mata mereka merah, barangkali karena tak tidur sejak semalam, atau mungkin disebabkan tangisan, atau mungkin merah karena marah.

"Bagaimana, Plik, ada bakso yang nyisa?" seseorang menyapa, berjongkok. Di tangannya tergenggam kayu hangus sisa terbakar.
"Habis, Bang Andre," jawab Maroplik pendek dan lemah.

"Ya, semua juga habis, Plik! Gila, api datang begitu cepat. Wuuus. Aku gak bisa berpikir. Langsung berlari. Wuuus, Wuuus!" Andre berdiri, diangkatnya kayu yang mirip tongkat hitam itu.

Maroplik menarik napas panjang. Sisa rokok dilemparnya jauh melintasi garis polisi.

"Lihat ini, Plik, ini kayu sisa kiosku," Andre mengangkat tinggi-tinggi sisa kayu hangus itu. "Ini akan kuabadikan, akan kupigura dengan kaca, dan kupajang di...."

"Di mana?" Maroplik menelan ludah.

Halaman
1234
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved