Cerpen Otang K Baddy

Ayahku Terjatuh

Ayah terjatuh dari pohon. Kepalanya membentur batu. Ayah terjatuh dari pohon waru setinggi hampir 5 meter.

Ayahku Terjatuh
Ilustrasi cerpen Ayahku Terjatuh 

SEDIH jika teringat nasib Ayah, yang tersiksa akibat terjatuh.

Ayah terjatuh dari pohon. Kepalanya membentur batu. Ayah terjatuh dari pohon waru setinggi hampir 5 meter. Ia menaiki pohon itu karena memerlukan kulit dahan muda sebagai tali pengikat batangan padi jika panen di ladang. Petaka terjadi sore hari ketika Ayah tengah pulang dari ladang bersama Ibu. Di Ciwaru, nama blok yang memang banyak pohon warunya, di tepi jalan setapak itulah Ayah bersusah-payah menahan sesak dada, sakit di kepala, serta tubuh bermandikan darah. Demikianlah kronologi singkatnya sebelum kemudian mengurainya dalam kisah.

Seperti pada umumnya masyakarat tani saat itu, Ayah pun berladang bersama Ibu. Mereka membabat pohon-pohon liar, semak belukar, serta kawanan ilalang, sebelum kemudian dilakukan pembakaran. Kegiatan itu dilakukan masyarakat tani di desaku setiap tahun. Setiap lahan yang digarap tanahnya sangat subur, gembur, mengingat jarak garapan per satu tempatnya berkisar antara 8 sampai 12 tahun. Semua itu terjadi karena area hutan garapan sangatlah luas, beratus hektare, termasuk area hutan yang melintas desa lain. Saat itu tak menanam pohon macam albi atau jati, karena kayu-kayu macam itu belum laku seperti sekarang. Masalah utama yang menghambat, sarana transportasi berupa jalan dan kendaraannya masih jauh terbatas. Tak mengherankan jika pohon-pohon jati besar pun banyak tercampak dan sebagian terbakar di area ladang. Tak terkecuali di ladang Ayah. Daripada lembap merimbuni tanaman padi dan jagung, pohon-pohon macam jati atau wangkal pun kerap ditebang begitu saja.

Sebagai anak perempuan satu-satunya, dan memang anak Ayah cuma aku sendiri, aku jarang sekali ikut ke ladang. Paling jika musim tanam padi-jagung (kami menyebutnya usum ngaseuk) aku ikut rame-rame. Ya, memang pada musim ngaseuk selalu ramai dan meriah. Soalnya musim tanam ini dikerjakan dengan cara gotong-royong. Saling membantu antara si peladang satu ke peladang lainnya. Begitu menyenangkan dan kerukunan warga benar-benar masih terjaga. Lebih senangnya, selain bisa makan bersama dengan olah hiu juga pulangnya dibekali calangaren (serupa cendol berbahan tepung ketan). Hanya musim itu bisa ikut pergi ke tanah huma. Itu pun jika pas hari libur sekolah. Musim-musim garapan selanjutnya, termasuk musim panen, aku tak pernah ikut selain hanya memasak di rumah.

Musim menuai padi yang tengah menguning serta ranum itu agaknya mendadak terhambat ketika Ayah dikabarkan terjatuh. Ayah terjatuh dari pohon waru. Bagian belakang kepala Ayah membentur batu. Ayah bermandikan darah. Namun Ayah masih bisa mengerang dan bicara patah-patah. Konon jika seorang kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah yang wajar kadang masih ada harapan hidup ketimbang yang tak keluar darah. Duh... Ayah, semoga ingatanku ini bukan sekadar menghibur diri menutupi kecemasan, namun semoga nyata-nyata Ayah bisa diselamatkan, demikianlah batinku.

"Pokoknya kamu harus secepatnya menyusul ke Cilame, Nina," kata Mang Karlin, tetanggaku. Lelaki yang pertama menyampaikan kabar itu, di samping tetangga rumah terdekat, ia pun bisa dikatakan tetangga ladang terdekat pula. Setelah memberi kabar buruk tentang Ayah, lelaki itu berlalu sangat tergesa, mungkin ia mandi dulu atau sekadar membagi kabar kepada yang lain.

Karenanya, aku segera mengabaikan masakan lodeh iwung dan nasi jagung. Keselamatan Ayah aku kira jauh lebih penting ketimbang masakan itu.

Dengan tergesa aku menyusul ke Ciwaru, lokasi Ayah celaka. Setengah melompat dan tergesa menyusuri jalan setapak yang terjal berbatu, menanjak, menurun, dan kadang berkelok, akhirnya sampai juga di lokasi. Di samping sudah banyak orang—mereka umumnya kaum tani—di sana ada Mang Kosim, adik ayah satu-satunya. Mungkin sama dengan yang lainnya, ia pun sepertinya baru pulang dari ladang. Kulihat kepala Ayah sudah diikat dengan kain, mungkin kain milik Ibu. Bekas darah pun masih tercecer di sana-sini.

"Tadi aku dijemput ibumu, Nina. Untung saja ladang mamang agak dekat dari sini," cerita Mang Kosim, pamanku satu-satunya itu.

Menurut Ibu, Ayah jatuh telentang, bagian kepala belakang Ayah terkena batu. Bahkan kata Paman, sebelumnya ada pecahan batu bersarang di luka Ayah, tapi kini sudah bisa dicongkel.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved