Cerpen Langgeng Prima Anggradinata

Raksasa yang Tamak

SYAHDAN, entah pada zaman dahulu atau bukan, yang pasti kisah ini pernah terjadi pada suatu hari.

Raksasa yang Tamak
ILustrasi Cerpen 

SYAHDAN, entah pada zaman dahulu atau bukan, yang pasti kisah ini pernah terjadi pada suatu hari.

Pada suatu hari, di sebuah desa, kedamaian menyertai para penduduknya. Mereka hidup bersahaja dan madani. Para penduduk desa itu sungguh murah senyum. Mereka saling sapa. Segala kebaikan ada pada mereka. Segala kebersahajaan ada pada mereka. Tak ada satu pun keburukan dari mereka. Tuhan selalu menyertai mereka dengan limpahan kasih sayang.

Desa mereka diciptakan dari senyuman Tuhan. Kabut lindap menuruni lereng-lereng. Sawah hijau berlembar-lembar. Pepohonan berjajar rindang. Sehampar hutan berada pada tempatnya; di sisi sebuah bukit yang berkubah. Satu batang sungai murni bercahaya, seolah-olah surga adalah hulunya. Udara tidak panas tapi juga tidak dingin. Binatang-binatang berlarian dalam hutan; membangun sarang, beranak-pinak.

Semua serba semestinya. Serba berada dalam taraf yang seimbang.

Alam adalah anugerah yang tak ternilai bagi mereka. Sehingga tak ada satu pun dari mereka yang ingin mengubahnya:

Yang panjang tak akan dipendekkan,
yang pendek tidak akan dipanjangkan,
yang ada akan tetap ada,
yang tiada memang harusnya tiada.

Daun tetap pada dahannya dan jatuh pada waktunya. Sungai biarlah mengalir ke muara. Burung-burung bebas mengambang di udara. Semua dalam taraf-taraf seimbang. Tidak lebih dan tidak kurang. Tidak atas dan tidak bawah. Tidak ke kanan dan tidak ke kiri. Bagi mereka itulah kesempurnaan.

Suara gaib tiba-tiba terdengar dan menjadi sebuah ajaran yang baik. Suara itu berfirman kepada mereka. Dengan hati mereka mendengar, "Burung terbang dengan sayapnya, manusia hidup dengan akalnya. Burung terbang di langit, manusia berpijak di bumi. Burung mati karena waktu, manusia mati karena waktu." Mereka hanya mengangguk dan amin.

Di desa itu, semua berjalan seperti pada siklusnya. Pada putarannya. Misalnya, seseorang lahir. Kemudian ia tumbuh sebagai anak. Tumbuh sebagai remaja. Tumbuh sebagai orang dewasa. Menikah. Memiliki anak. Lalu memiliki cucu. Sudah tua ia meninggal. Ia ditangisi. Dan selesai. Lahir lagi seseorang yang baru. Lahir lagi. Mati lagi. Lahir dan mati. Mereka lahir dan mati. Lahir karena takdir, mati ketika sudah semestinya mati. Tidak ada dari mereka yang terlalu tua untuk hidup, tak ada pula dari mereka yang terlalu muda untuk mati. Semua sesuai pada siklusnya. Pada putaran hidup yang sempurna.

Hingga pada suatu ketika, Tuhan tidak bermaksud mengutuk mereka juga tidak bermaksud menguji mereka, namun memang itulah yang seharusnya terjadi. Seekor raksasa tiba-tiba saja ada. Mungkin dari negeri yang jauh. Mungkin dari langit. Mungkin dari tanah. Mungkin dari batu. Mungkin dari sungai. Yang pasti ia ada.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved