Berbangga Hati Melihat Merah Putih Berkibar di World Solar Challenge

Ternyata mereka berdua sengaja terbang dari Belanda ke Darwin lalu berlanjut terbang ke Adelaide untuk mendukung penuh perjuangan anaknya yang menjadi

Berbangga Hati Melihat Merah Putih Berkibar di World Solar Challenge
MIA DAMAYANTI
Kru tim peserta World Solar Challenge mempersiapkan mobil rekayasa bertenaga surya saat tiba di garis finish Victoria Square Adelaide, South Australia. 

Laporan Citizen Journalist, Mia Damayanti dari Adelaide, South Australia.

TRIBUNJABAR.CO.ID - JUMAT 25 Oktober 2015, satu per satu mobil bertenaga surya dari 46 tim yang berasal dari 25 negara memasuki garis finish. Penonton dan pendukung tiap tim bersorak-sorai gembira menyambut kedatangan peserta lomba yang telah melintasi benua Australia sejauh 3000 km.

Di tahun ke-25 ini, beragam mobil futuristik nan-modern dengan ciri khas lapisan panel solar hasil karya para mahasiswa teknik dari berbagai belahan dunia itu telah memulai perjalanan sejak 18 Oktober 2015. Start dari State Square Darwin di utara Australia menuju Victoria Square Adelaide, jauh di selatan Australia.

Tahun ini tim dari Belanda berjaya di posisi kesatu dan kedua, sedang posisi ketiga ditempati oleh tim dariJepang. Perbedaan waktu di antara ketiganya sangatlah tipis.Sambil menunggu mobil-mobil tim lain masuk finish,  anggota dari ketiga tim pemenang tampak antusias saling memberi selamat dan bahkan bertukar kaus.

Sungguh menarik dan menyenangkan melihat persahabatan antarpeserta yang dibangun di atas sportivitas yang tinggi.
Mobil-mobil bertenaga surya itu kemudian dipajang di bawah tenda-tenda putih, sangat gagah dan mengundang rasa penasaran para pengunjung.

“Bagaimana posisi sopir dengan penumpangnya bisa bertahan mengendarai kendaraan dengan ruangan yang begitu sempit dengan perjalanan begitu jauh?” tanya penulis pada Webby, salah satu anggota tim Belanda yang berhasil menjadi juara kedua.

“Setiap tim memiliki beberapa sopir dan navigator yang bergantian mengendarai mobil tenaga surya ini, pergantian dilakukan pada tiap etape,” Webby menjelaskan denga npenuh semangat. "Saya adalah salah satu sopir mobil kebanggaan kami ini,”lanjutnya lagi.

Lars, yang satu tim dengan Webby menjelaskan bahwa benar sopir dan navigator boleh diganti pada tiap etape dan ada 10 etape yang harus ditempuh semua tim, antara lain Darwin-Katherine, Katherne-Dunmurrra, Dunmurra-Tennant Creek, Tennant Creek-Barrow Creek, Barrow Creek-Kulgera, Kulgera-Coober Pedy, Cobber Pedy-Glendambo,Glendambo-Port Augusta dan berakhir Port Augusta-Adelaide.

“Saya sangat bangga dengan kesungguhan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh tim ini, hallo…saya Louise, Ayah Lars,”tiba-tiba seorang pria tinggi tegap dan perempuan cantik berambut pirang tersenyum ramah mendekati Lars dan bergabung dalam pembicaraan.

Ternyata mereka berdua sengaja terbang dari Belanda ke Darwin lalu berlanjut terbang ke Adelaide untuk mendukung penuh perjuangan anaknya yang menjadi sopir pada beberapa etape lomba. Mereka sangat bahagia dengan keberhasilan Lars dan kawan-kawan mencapai finish walau bukan di posisi pertama, karena menyelesaikan perlombaan tahunan ini tidaklah mudah.

Memandang kibaran bendera-bendera berbagai bangsa yang berjajar rapi di sebuah acara internasional selalu menyenangkan. Dan terbit rasa bangga di hati demi melihat sebuah bendera berwarna merah putih gagah berkibar di antaranya. Ternyata salah satu dari 46 peserta datang dari Indonesia,  tim Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya dengan mobil tenaga surya bertitel Widya Wahana yang memiliki corak batik di bodi mobilnya.

Walau belum menjadi juara. keikutsertaan karya para mahasiswa Indonesia ini sangatlah berarti untuk membuktikan bahwa karya pemuda-pemudi Indonesia setara dengan kemampuan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia.

Semoga di tahun-tahun mendatang semakin banyak tim mahasiswa dari kampus-kampus Indonesia yang ikut berpartisipasi dan mampu menjuarai lomba “World Solar Challenge” ini, lalu mampu memproduksi kendaraan bertenaga surya untuk diproduksi secara massal dengan ciri khas kuat, murah dan irit bahan bakar. (*)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved