Cerpen Guntur Alam

Kue Bulan dan Rencana-rencana Kecil Liu

LIU memandang almanak bergambar naga hijau yang tertempel di dinding dapur. Dia sengaja memindahkan kalender itu dari ruang tengah ke sini.

LIU memandang almanak bergambar naga hijau yang tertempel di dinding dapur. Dia sengaja memindahkan kalender itu dari ruang tengah ke sini. Tujuannya cuma satu, agar dia bisa terus melihat angka di almanak setiap hari, jadi dia tak lupa untuk mencoret tanggal hari ini dengan spidol. Liu tak mau sampai melupakan satu hari pun, sebab Perayaan Kue Bulan tahun ini sangat istimewa. Kokonya, Zixin, pulang untuk pertama kali sejak merantau ke Jakarta lima tahun lalu.

Berita kepulangan Zixin ini datang dari teleponnya seminggu setelah hari pertama bulan September. Sebelumnya Liu yang menelepon Zixin, mengabarkan sakit Ibu semakin parah akhir-akhir ini. Dulu, Ibu masih bisa berkebun, menyadap karet, ke pasar tiap hari pekan, dan memasak di dapur. Namun dua bulan terakhir, Ibu hanya bisa tergolek di atas tempat tidur.

"Pulanglah, Ko. Aku khawatir Ibu tak akan sembuh lagi. Beberapa kali aku bermimpi tentang arwah Ayah yang datang, juga arwah A Kong dan An Ma. Kupikir itu semacam firasat bahwa Ibu akan segera menyusul mereka."

Mulanya Zixin tak sependapat dengan Liu. Katanya Ibu akan berumur panjang. Dulu, saat masih kecil, Zixin pernah mendengar ramalan tentang Ibu. Ibu tak akan mati sekarang. Usia Ibu baru 47 tahun. Sementara di ramalan itu, Ibu akan meninggal pada usia 54 tahun. Masih ada tujuh tahun.

Zixin ingat sekali, Ibu menguncang-kuncang tabung bambu yang berisi lidi-lidi merah bertuliskan angka. Lalu sebatang lidi terlempar dan si peramal mengambilnya, Dia membaca sesaat dan mengeluarkan kertas merah.

"Wu Shi Si," Ibu membaca.

54. Zixin ingat dengan jelas. Peramal itu mengatakan Ibu akan meninggal di usia ke-54 tahun. Jadi Liu keliru. Namun Zixin tetap memilih pulang pada Perayaan Kue Bulan tahun ini. Bukan karena dia sangat memercayai ramalan itu, tapi juga dia teringat, sudah lima tahun sejak merantau, dia tak sekali pun pulang. Dia rindu dimsum yang dimasak Ibu. Dia juga rindu pada adiknya, Liu.

**

LIU mengangkat tutup panci, lalu memasukkan satu per satu dimsum isi babi ke dalamnya. Dia mengecikan nyala api, agar dimsum matang dengan sempurna. Liu teringat, kokonya sangat suka makan dimsum. Jadi, ketika Zixin memastikan akan pulang, Liu membuat beberapa rencana kecil untuk menyambut Zixin dan membuatnya betah selama di rumah.

Rencana pertama yang Liu buat adalah belanja ke pasar dan membeli berbagai kebutuhan dapur. Zixin sangat suka makan, terutama dimsum. Dan tentu saja, sudah lima tahun Zixin tidak makan masakan Liu ataupun masakan Ibu. Walau terbaring sakit, Ibu masih bisa menerangkan resep rahasia dimsumnya.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved