Cerpen Lugiena De

Di Kursi Tunggu

PAGI itu ia bergegas masuk ke sebuah kantor. Namun ternyata tidak ada seorang pun yang dapat ia temui. Ia sedikit kecewa.

Di Kursi Tunggu
Ilustrasi Di Kursi Tunggu 

PAGI itu ia bergegas masuk ke sebuah kantor. Namun ternyata tidak ada seorang pun yang dapat ia temui. Ia sedikit kecewa. Hingga akhirnya terpaksa hanya duduk menunggu.

Kantor masih sepi. Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan lewat beberapa menit. Beberapa orang pegawai lalu masuk. Namun tidak ada yang menghiraukan kehadirannya. Sedangkan resepsionis yang biasa menghubungkannya dengan bagian keuangan belum juga datang. Dia adalah seorang perempuan muda cantik yang selalu bermuka masam dan tidak banyak bicara. Dialah satu-satunya pegawai yang biasa menerimanya di ruang depan kantor tersebut.

Lewat beberapa menit barulah suasana kantor mulai ramai. Ia masih terduduk di kursi tunggu dekat pintu masuk. Dan segera saja ia berada di tengah keterasingan orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.

Pagi itu ia hendak bermaksud mengambil honor karangan karena ada cerpen karangannya yang dimuat di koran itu. Meskipun nominalnya tidak seberapa, uang yang hanya berjumlah ratusan ribu rupiah tersebut sangat berarti baginya. Itu artinya selama satu minggu hidupnya akan tersambung. Kemudian ia akan kembali menulis karangan-karangan baru, lalu mengirimkannya ke banyak alamat media massa, untuk menyambung hidupnya di minggu selanjutnya. Dan demikianlah seterusnya. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Hidupnya seperti saluran pipa yang harus terus-menerus minta disambung, supaya air yang mengalir di dalamnya tidak tumpah di tengah jalan.

Lewat jam sembilan, makin banyak orang yang berdatangan. Beberapa di antaranya adalah tamu-tamu kantor yang segera mendapat sambutan. Namun tetap saja tidak ada yang menyambut kehadirannya, meski ia sendiri memperhatikan dengan mata kepalanya satu per satu orang-orang yang lewat. Hingga akhirnya pikirannya melayang. Berbagai peristiwa kembali meruap dari ingatannya, seperti buih minuman bersoda yang dikocok dengan keras.

Ia teringat pada pertemuannya lima belas tahun silam, dengan seorang pengarang kenamaan yang karya-karyanya sering ia baca. Ia teringat pada petuah sang pengarang, ketika bertemu pada sebuah acara diskusi buku; petuah yang pertama sekaligus terakhir, karena tiga hari kemudian dia meninggal dunia terkena serangan jantung. "Dunia," katanya, "hanya akan memberi hormat pada orang-orang yang berjalan dengan membusungkan dada. Dunia akan memandang pada manusia yang mampu berdiri tegak di atas kepingan-kepingan kepedihan. Kita belajar itu dari mereka yang sanggup mengubah dunia. Kamu tahu, sejarah sering kali ditentukan oleh sesuatu yang dianggap mustahil."

Atas petuahnya itulah, ia lalu belajar meraih kebanggaan dalam hidupnya yang hanya satu kali dan singkat itu. Dan ia pernah meraihnya melalui buku, tulisan yang bertebaran di media massa, serta berbagai piagam penghargaan. Di berbagai pertemuan orang-orang mengenal namanya serta menyanjung karangannya (meski tak sedikit pula yang mencacinya).

Tetapi sekarang, mengenang peristiwa itu, ia lalu tersenyum pahit. Akhir-akhir ini ia sering bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang selama ini ia lakukan. Karena di sini pun tidak ada orang yang memandangnya. Dan demikian juga selanjutnya. Ia seolah-olah tidak ada. Ia seolah-olah raib dari pandangan mereka yang berjalan keluar-masuk tepat di depan batang hidungnya.

Bahkan sampai saat si perempuan muda berwajah masam itu datang. Dia hanya berlalu, kemudian duduk di atas kursinya, tanpa sedikit pun menyapa. Selanjutnya perempuan itu malah sibuk mengangkat telepon serta mengetik angka-angka di depan komputer. Sementara ia sendiri malah menghanyutkan diri dalam lamunannya. Bayangan demi bayangan muncul dalam kepalanya. Ia terkenang pada pertemuan pertamanya dengan istrinya, yang sudah ia nikahi selama enam tahun dan memberinya seorang anak. Lalu pada momen-momen kebersamaan keluarga kecilnya, seperti pergi berlibur ke kebun binatang dan jalan-jalan di waktu sore hari. Hingga akhirnya ia teringat kembali pada istrinya yang sekarang sedang menunggu di rumah dengan perasaan cemas. Cemas karena karung beras di dapur sudah kempis. Cemas oleh tagihan listrik yang belum dibayar. Serta cemas oleh bunyi ketukan pintu penagih sewa rumah, yang selalu terdengar seperti suara petir di siang benderang.

Apa sebenarnya yang sedang aku lakukan? Untuk siapa? Lalu apa yang aku dapatkan? Ia kembali bertanya, di saat ia semakin larut dalam kenangannya, sementara orang-orang juga semakin kerap hilir mudik. Mereka berjalan cepat. Hampir-hampir menyerupai berlari. Dering telepon semakin sering berbunyi, hingga membuat si perempuan resepsionis harus menggunakan kedua tangannya untuk dua pekerjaan yang berbeda. Suasana kantor bertambah ramai. Namun keramaian itu justru seakan melemparkannya ke dasar jurang kesunyian. Untuk apa sebetulnya aku menulis? Siapakah yang membaca tulisanku? Apakah orang-orang tahu siapa aku?

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved