TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

Mas Galak

TIGA tahun berada di Hindia Belanda,ia mampu membawa perubahan yang berdampak sosial, baik ditanggapi secara positif mapun negatif.

Oleh Cecep Burdansyah

TIGA tahun berada di Hindia Belanda, dari tahun 1808 sampai 1811, ia mampu membawa perubahan yang berdampak sosial, baik ditanggapi secara positif mapun negatif. Terbentangnya infrastuktur yang sampai sekarang masih terasa manfaatnya. Jalan Anyer–Panarukan, jalan yang cukup panjang. Merubuhkan benteng Belanda, membangun personel militer sebanyak 18.000 orang, menjual Kabupaten Besuki, Panarukan, dan Probolinggo kepada kapitan Tionghoa, dan mengubah sistem peradilan.
Semua itu ia lakukan dengan tujuan perubahan keadaan militer untuk meredam pemberontakan, penjualan kabupaten untuk ekonomi, yaitu mengisi kas negara, memindahkan kantor-kantor untuk perbaikan administrasi, mengubah sistem peradilan untuk perbaikan hukum.
Itulah yang dilakukan Daendels, Gubernur Hindia yang menginjakkan kaki di Pulau Jawa pada Januari 1808, seperti yang dilukiskan oleh Henri Chambert-Loir dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Daendels dan Alghazali Wawasan Politik Abdullah Al Misri”, yang termuat dalam buku Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhamad Bakir dan Kawan-Kawan.
Ia datang di Hindia Belanda atas penunjukan Kaisar Prancis, kaisar yang dikenal jago perang dan berpembawaan keras, Napoleon Bonaparte. Saat itu Belanda bersekutu dengan Prancis dan Napoleon menjadikan Belanda yang berbentuk republik menjadi kerajaan, serta mengangkat adiknya, Louis, sebagai raja.
Napoleon dikenal sebagai kaisar yang otoriter. Daendels pun selama jadi Gubernur Hindia Belanda memerintah dengan otoriter. Ia sadar, ia ditunjuk oleh Napoleon sebagai orang yang terpilih karena mungkin dianggap bisa melaksanakan tugas-tugasnya di Hindia Belanda. Begitu kakinya menginjak Jawa, mungkin ia sadar betapa berat medan yang harus dilalui. Mungkin ia berpikir, mustahil ia bisa membawa perubahan apabila memerintah dengan impian dikenang sebagai gubernur yang baik. Apa pun caranya, ia kemudian melakukan perubahan dengan tangan besi. Sebagai manusia Eropa, ia pasti sadar konsekuensi memerintah dengan tangan besi akan menyemai rasa takut di masyarakat pribumi dan terutama mengundang kontroversi di kalangan ahli elite pribumi, bahkan di masyarakat Eropa sendiri.
Pada kenyataannya, di kemudian hari, dua sisi itu muncul, seperti terekam dalam tulisan Chambert. Vlekke menulis: “Maka Daendels mulai bekerja dengan membanting korupsi, merombak administrasi, membangun jalan dan benteng, pendek kata dengan melakukan segala tindakan yang jelas akan dilakukan oleh seorang yang menamakan diri diktator. Dia menghasilkan banyak, tetapi dibenci dan dimusuhi oleh banyak orang yang dirugikannya; akibatnya penggantinya, yaitu Thomas Stanford Raffles, berhasil tampil sebagai orang satu-satunya yang menata kembali pemerintahan di Jawa, sedangkan Daendels tercemar oleh aspek buruk perombakan tersebut.”
Nada yang berbeda diungkapkan oleh ahli sejarah Indonesia, Ricklefs, “Daendels mengagumi asas revolusioner tentang pemerintahan. Dia datang di Pulau Jawa dengan semangat pembaharuan serta dengan cara-cara seorang diktator, hasilnya sedikit melainkan banyak orang tersinggung. Dia berusaha untuk memberantas ketakgunaan, penyelewengan dan korupsi yang telah menyerap ke dalam administrasi orang Eropa, tetapi kebanyakan perubahannya hanya sedikit.”
Seperti dikemukakan Chambert Loir, Vlekke membela gubernur yang dikenal sebagai sang Mareskalek, sebaliknya Ricklefs mengkritik hasil kerjanya.
Selain kedua ahli sejarah itu, pandangan bertolak belakang datang juga dari dua elite tokoh yang hidup semasa Daendels memerintah. Abdullah Al-Misri, tokoh sastra Melayu, sikapnya lebih membela sang Mareskalek. Sebaliknya Dalem Sumedang, Pangeran Kusumahdinata yang kemudian dikenal dengan sebutan Pangeran Kornel, bersikap mengkritik dan lebih membela rakyat pribumi yang jadi korban kediktatoran Daendels. Kisah Danendels bersalaman diterima dengan tangan kiri oleh Pangeran Kornel sangat terkenal dan dianggap sebagai pembangkangan, yang kemudian ditulis sebagai novel oleh sastrawan Sunda R Memed Sastrahadiprawira. Chambert Loir sendiri menganggap kisah ini lebih bersifat sastra ketimbang fakta sosial.
Itulah dua wajah pemimpin dalam perspektif masyarakatnya. Daendels sadar ia bukan orang terbaik, dan mungkin bukan impiannya menjadi orang terbaik di mata siapa pun. Ia hanya fokus pada tugas yang diembannya: membawa perubahan di Jawa. Tak mustahil ia sebetulnya tahu bahwa ia disebut Mas Galak oleh masyarakat Sunda. Dan tak mustahil pula, ia sebetulnya tidak takut saat berhadapan dengan Pangeran Kornel yang tangan kanannya memegang keris. Namun bisa saja ia memikirkan dampak politik dan sosial apabila ia meladeni sikap Dalem Sumedang sehingga membuyarkan misinya di Jawa.
Pemimpin masyarakat, terutama pemimpin yang dipilih dalam kontestasi politik melalui sistem demokrasi, hanyalah orang-orang terpilih, yang dianggap terbaik menurut orang-orang yang memilihnya. Tapi ia bukanlah orang terbaik. Tidak perlu berambisi menjadi orang terbaik di mata masyarakat karena itu hanyalah pekerjaan yang mustahil. Bahkan ketika kita mengerjakan satu pekerjaan lalu mendapat aplaus dari beberapa orang, maka pikirkanlah ada berapa orang yang tidak memberikan aplaus. Ketika seseorang mendapat tepuk tangan di media sosial misalnya, bayangkanlah berapa orang yang tidak memberikan tepuk tangan dan apa yang ada dalam benaknya. Seorang pemimpin tak perlu merasa melambung ataupun terpojok hanya oleh aplaus dan kritik. Ketika mendulang kritik, atau tekanan politik, juga tak perlu mengeluh, apalagi cengeng. Tugasnya hanya satu, fokus pada pekerjaan publik dan tanpa pamrih. Ia bukan nabi yang diutus Tuhan melalui wahyu. Ia hanya diutus sebagian masyarakat untuk mengerjakan tugas-tugas publik, dengan sedikit risiko.
Mas Galak, tentu saja, bukanlah contoh yang baik dari sisi kemanusiaan. Tapi ia adalah orang yang fokus pada tugas, yang diam-diam hingga kini kita masih merasakan manfaat dari hasil kerjanya. (*)

Dimuat Tribun Jabar edisi cetak Senin 21 September 2015

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help