TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

Ipse Dixit

Rakyat Indonesia sekarang ini, secara menyedihkan, sedang dididik oleh elite politik, dalam budaya basa-basa dan ipse dixit.

Oleh: Cecep Burdansyah

SEORANG anak umumnya mempunyai daya ingat yang kuat terhadap janji orangtuanya. Hal itu sering kali saya alami, dan besar kemungkinan dialami juga oleh orangtua yang lain. Misalnya, ketika anak meminta sesuatu, lalu kita menjanjikan akan memenuhinya besok, atau lusa, atau semingu lagi, atau sebulan lagi, begitu tiba pada hari yang dijanjikan ia akan menagihnya. Padahal, seringkali juga orangtua, termasuk saya, ketika menjawab permintaan anak dengan sebuah jawaban menjanjikan, hanya sekadar menghibur.
Tapi respon kejiwaan sang anak tentu saja bersilangan dengan orangtua yang sekadar basa-basi, menghibur si anak dengan maksud supaya diam, tidak rewel, dengan alasan pada saat itu orangtua tidak bisa memenuhi permintaan anak. Anak memang masih dalam wilayah bermain. Ta ia sungguh-sungguh. Begitu tiba pada hari yang dijanjikan, si anak akan menagihnya. Barulah orangtua dalam posisi terperangkap, antara harus memenuhi janjinya atau mengabaikannya. Apabila mengabaikan, si anak mungkin akan menangis. Tapi kalau pun anak itu menyerah, dalam arti tidak menangis, ia akan mencatat dalam ingatannya bahwa orangtuanya tidak bisa membuktikan janjinya. Dampak kejiwaannya bisa bermacam-macam. Bagi anak yang terlalu kuat meniru orangtuanya, dalam perkembangan kepribadiannya, kelak selama menjalani kehidupan sosialnya, tak tertutup kemungkinan ia mencontoh orantuanya: banyak janji tapi tak mampu memenuhinya. Dan itu dianggapnya hal yang biasa saja. Tak ada yang salah. Jelas ini dampak paling berhabahaya.
Sebagai orang dewasa, barangkali maksud kita hanyalah basa-basi. Toh terhadap anak kecil, lagipula anak sendiri. Tidak ada sesuatu, apalagi dampak yang perlu dikhawatirkan. Tapi di situlah rupanya kita harus belajar untuk tidak mengumbar basa-basi. Sebuah omongan ringan sebagai selingan dari kepenatan, joke, humor, itu bagian dari kehidupan manusia yang tak bisa terelakan. Tapi sebuah janji, meskipun pada anak kecil, menuntut komitmen. Dalam janji kita meletakkan diri sebagai manusia yang mempunyai otoritas, mempunyai kesanggupan untuk memenuhi, dan di situlah terujinya manusia sebagai mahluk yang mempunyai karakter, akal sehat sehingga disebut sebagai mahluk berperadaban.
Dalam lingkup yang lebih abstrak, sebuah teori harus mampu membuktikan teorinya. Apabila tidak, seperti disebutkan oleh Profesor hukum Richard A. Epstein dalam bukunya Skeptisisme dan Kebebasan, hanyalah ipse dixit, yang oleh penyunting edisi Bahasa Indonesia-nya diartikan sebagai diktum atau pernyataan yang tak bisa dibuktikan. Istilah Bahasa Latin ini pernah juga diucapkan oleh orator ulung Cicero (106 SM-43 SM)
Rakyat Indonesia sekarang ini, secara menyedihkan, sedang dididik oleh elite politik, dalam budaya basa-basa dan ipse dixit. Alasan yang dikemukakan oleh pimpinan DPR mengenai kehadirannya di acara kampanye Donald Trump, bahwa mereka sekadar fatsun memenuhi undangan, tak lebih dari basa-basi yang terlontar dari orang yang kehilangan otoritasnya sebagai manusia yang sanggup berargumentasi berdasarkan kemampuan filosofis, yuridis, sosiologis dan politis. Mereka hanya memanipulasi otoritas politisnya sebagai pimpinan DPR - mereka tak sadar bahwa itu sekadar otoritas atributif bukan otoritas hakiki manusia - demi dijadikan tameng pembelaan, dan kehilangan kepekaan kalau pembelaan itu jadi bahan tertawaan publik. Basa-basi, apabila diucapkan oleh orangtua dalam konteks ketidakmampuan memenuhi janji, tentu menyakitkan bagi si anak. Tapi basa-basi sebagai kilah yang diucapkan orang dewasa karena ia tepergok melakukan kesalahan, tentu saja jadi lelucon getir. Kita tertawa dengan batin murung.
Kita, entah harus tertawa terbahak atau kembali tertawa murung, begitu melihat Gayus si terpidana pajak yang muncul di media sosial sedang makan ditemani dua perempuan. Pose Gayus, yang berbeda dengan sewaktu terpergok sedang nonton pertandingan olah raga di Bali, berusaha menyembunyikan diri dengan mengenakan wig atau rambut palsu, justru di media sosial ia terang-terangan memperlihatkan wajahnya dengan mata seakan menantang: “Lihat, nih gue, semua petugas LP gue taklukkan….dan gue bisa bebas keluyuran…!”. Itulah keberanian Gayus mengolok-olok otoritas negara.
Kita tahu bahwa teori pemidanaan bertujuan efek jera bagi sang terpidana. Meskipun hukuman perampasan kebebasan fisik sudah bermetamorfosa jadi pembinaan, intinya tetap agar ia sadar terhadap kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatan kelak ketika bebas dari penjara. Tapi di Indonesia kita menyaksikan teori itu hanyalah ipse dixit. Tak terbukti kebenarannya. Apakah teorinya yang salah atau aparaturnya yang sengaja memelintir atau menyelewengkan teori itu, tetap saja kita memandang bahwa teori pemidanaan telah gagal. Dan jangan salah, hanya Gayus yang muncul ke pemurkaan. Coba kalau kita investigasi ke LP Sukamiskin atau LP lainnya. Pasti ditemukan yang aneh-aneh. Termasuk peredaran narkoba di dalam penjara. Dan logikanya, kalau aparatur negara di lembaga penjara mau berbenah dan konsisten menerapkan terori pemidanaan, mereka harus gembira pada saat Denny Indrayana sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM mau mengadakan reformasi birokrasi di kementerian terebut. Kenyataannya, inspeksi mendadak Denny mendapat perlawanan.
Kasus Gayus, lebih dari sekadar ipse dixit teori pemidanaan, tapi juga otoritas negara yang tercabik oleh aparaturnya sendiri sehingga otoritas negara benar-benar lemah. Agar memiliki keberanian moral memecat aparatur yang tak becus menunaikan tugasnya, tak ada salahnya Jokowi dan para menterinya merenungkan apa yang dikatakan oleh Roger Bacon (1214-1294) dalam karya klasiknya, Opus Majus, yang mengungkapkan ada empat penyebab kebodohan, pertama otoritas yang lemah dan tidak tepat; kedua, pengaruh adat istiadat; ketiga, pendapat orang yang tidak terpelajar; keempat, menyembunyikan kebodohan seseorang dengan pura-pura menunjukkan kebijakannya. Tak perlu susah-susah mencari teks utuhnya, kerlip cahaya Opus Majus bisa ditemukan dalam karya Bertrand Russel Sejarah Filsafat Barat dan novel Umberto Eco The Name of The Rose.*

Dimuat di Tribun Jabar edisi cetak Senin 28 September 2015

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help