Cerpen Sandza

Elegi Kaki Lima

KUUSAP wajahku dengan iringan sebaris napas lirih, tanda aku tak setuju atas hasil sidang ini. Sidang yang memakan waktu berjam-jam lamanya.

Elegi Kaki Lima
Ilustrasi Cerpen Elegi Kaki Lima 

KUUSAP wajahku dengan iringan sebaris napas lirih, tanda aku tak setuju atas hasil sidang ini. Sidang yang memakan waktu berjam-jam lamanya. Sejak menjelang makan siang, sidang ini baru kelar tiga puluh menit sebelum jam pulang. Sidang yang membahas pemberantasan pedagang kaki lima.

"Setidaknya ini hingga penilaian dan pengumuman selesai, Pak. Setelah itu, mereka bisa menempati lokasi seperti sedia kala," wakilku mempertegas alasannya. Semua peserta sidang pun mengaminkan perkataannya.

"Tapi, selama penilaian tersebut, mereka mau makan apa? Dari emperan toko itulah mereka bisa menafkahi keluarganya," aku masih tak setuju, membuat suasana sidang makin panas.

"Jangan berbicara masalah kemanusiaan, Pak. Bagaimana kota ini akan maju jika setiap mengambil keputusan, Bapak selalu menggunakan hati. Sesekali, Bapak gunakan logika. Ini semua demi kemajuan kota kita tercinta, Pak."

Aku mengepalkan tangan, mencoba menahan amarah. Bagaimana orang nomor dua di kota ini bisa bicara seperti itu?

Andai saja ada solusi atas permasalahan itu. Tentu sidang ini tak akan sampai melahap waktu hampir seharian. Dan, aku tak akan meregangkan urat saraf tanda tak setuju selama sidang berlangsung. Tapi, solusi yang kuharapkan ternyata menemui jalan buntu. Sidang pun berakhir dengan keputusan menggantung—lebih tepatnya aku terpaksa harus menerima keputusan. Keputusan yang diambil untuk menyelamatkan nama baik dan citra.

**

DENGAN langkah berat, dan pengamanan ketat tentunya, aku menapaki trotoar-trotoar untuk menyosialisasikan keputusan sidang kepada para pedagang kaki lima. Senyum-senyum mekar di wajah mereka kala aku berjalan kaki menyapa mereka dengan lembut satu per satu, sebelum kuutarakan maksud dan tujuanku.

Bagi mereka, kedatanganku bukan sesuatu yang istimewa karena aku telah terbiasa dan sering menyapa mereka langsung. Mereka adalah lumbung suaraku ketika pemilihan wali kota beberapa bulan silam, yang membuat rivalku kalah telak. Ya, bagaimana tidak aku bisa mengumpulkan suara rakyat lebih dari delapan puluh persen kalau bukan karena aku berasal dari mereka pula.

Lebih tepatnya, aku melaju dari jalur independen. Mungkin, bagi dunia birokrasi, seseorang yang berani mencalonkan diri sebagai wali kota atau pemimpin sebuah wilayah bukan dari payung partai politik seperti sebuah keniscayaan. Tapi tidak bagi kotaku. Kota yang telah mati kepercayaan kepada makhluk bernama partai politik. Bagi mereka, partai politik hanya akan melahirkan bayi-bayi bengis bernama koruptor. Kematian rasa mereka terhadap dunia politik setelah dua wali kota sebelumnya menjelma sebagai pengisap keringat mereka.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved