Cerpen

Cerpen Badrul Munir Chair: Meninggalnya Seorang Waliyah

TOKO mebel satu-satunya di desa kami itu mendadak disesaki ratusan pelayat ketika matahari baru terbit.

Cerpen Badrul Munir Chair: Meninggalnya Seorang Waliyah
TRIBUN JABAR
Cerpen Meninggalnya Seorang Waliyah, Tribun Jabar edisi Minggu 13 September 2015. 

TOKO mebel satu-satunya di desa kami itu mendadak disesaki ratusan pelayat ketika matahari baru terbit. Tepat ketika sirene panjang dari masjid di seberang jalan—tanda waktu subuh telah habis—berbunyi, para pelayat sontak melantunkan kalimat tahlil, perempuan-perempuan yang duduk bersila mengitari jenazah itu terus melantunkan doa dan tak sadar menitikkan air mata. Seorang waliyah telah berpulang, bisik seseorang. Waliyah yang akhir-akhir ini kerap menjadi bahan perbincangan orang-orang itu kini telah meninggal dunia, terbaring tenang di emperan toko yang selama sebulan ini menjadi tempat tinggalnya.

Seiring terbitnya matahari pagi yang mulai menerangi desa kami, kerumunan pelayat di emperan toko mebel itu terus bertambah, meluber hingga ke jalan raya kecamatan. Orang-orang saling berdesakan ingin mendekat untuk melihat jasad sang waliyah, beberapa lelaki tampak sibuk mengatur lalu lintas jalan raya kecamatan yang mulai tersendat oleh kerumunan para pelayat yang terus berdatangan.

Tak ada yang menyangka bahwa perempuan yang kami yakini sebagai waliyah itu akan meninggal di desa kami, mengembuskan napas terakhirnya di emperan toko mebel Haji Salani. Subuh tadi seperti biasanya perempuan itu datang ke masjid, keluar lebih awal seusai salat berjemaah untuk kembali ke emperan toko Haji Salani. Setelah mengganti mukenanya dan mengambil kitab suci, biasanya ia akan kembali lagi untuk mengaji di kompleks pemakaman wali di samping masjid. Tapi pagi tadi, tak seperti biasanya perempuan itu malah terbaring tenang beralaskan tikar pandan di emperan toko mebel itu.

Awalnya kami mengira bahwa perempuan itu sedang tidur, mungkin kelelahan. Namun, ketika perempuan-perempuan penjual sayur yang setiap pagi biasa berjualan di emperan toko mebel itu datang dan hendak menggelar dagangannya, ia tidak bisa dibangunkan. Ia benar-benar tertidur pulas untuk selama-lamanya sehingga membuat gempar penduduk desa.

Berita duka kemudian tersebarlah.

Kami seakan ditinggalkan seseorang yang teramat penting dalam kehidupan kami. Semenjak kedatangannya yang secara tiba-tiba pada awal bulan puasa lalu, perempuan itu, dalam waktu yang singkat, sedikit-banyak telah membawa perubahan dalam kehidupan kami, menjadi penyejuk bagi kehidupan kami di tanah yang kering dan gersang ini.

Perempuan itu mungkin menemukan tempat tinggal yang nyaman di desa kami, desa kecamatan tepi pesisir yang di sepanjang tepi jalan rayanya dijejali belasan toko cendera mata yang sering dikunjungi para peziarah yang datang dari luar kota. Ia datang pada minggu pertama bulan Ramadan sehingga semula kami mengira bahwa perempuan itu adalah musafir yang tengah melakukan rihlah untuk mencari berkah di bulan suci. Sebagaimana Ramadan tahun-tahun lalu, memang banyak orang asing singgah di desa kami untuk berziarah ke makam wali. Tapi perempuan itu berbeda dari musafir dan peziarah kebanyakan. Jika biasanya musafir dan peziarah yang datang di desa kami menghabiskan waktunya untuk beriktikaf di masjid, perempuan itu justru lebih banyak duduk di emperan toko mebel sehingga wajar jika sebagian dari kami menganggapnya gelandangan, bahkan tidak sedikit dari kami yang menganggap perempuan itu gila.

Bagaimana tidak? Ia—perempuan yang hingga hari kematiannya tidak kami ketahui nama dan asal-usulnya itu—seringkali bertingkah ganjil. Pada hari kedatangannya, ia sudah bertindak aneh dan membuat kami merasa heran. Perempuan itu membuat keributan kecil di halaman masjid karena ia hendak keluar dari gerbang masjid dengan masih memakai mukena inventaris masjid, yang tidak boleh dibawa pulang. Penjaga masjid sontak langsung menegur perempuan itu, mengingatkannya untuk mengembalikan mukena yang dipakainya ke dalam masjid. Perempuan itu hanya tersenyum aneh sambil menunjuk toko mebel di seberang jalan, lalu berlalu begitu saja meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun.

Setelah beberapa hari, kami mulai terbiasa dengan tingkah ganjil perempuan itu, bahkan mengenali kebiasaannya. Ia adalah orang pertama yang datang di masjid pada waktu subuh. Sebelum azan berkumandang, perempuan itu sudah berada di masjid, duduk bersila di dekat pintu masuk jemaah perempuan. Ia akan menyalami perempuan yang datang di masjid satu per satu. Ketika salat jemaah dimulai, ia akan berdiri di barisan paling belakang, dan setelah jemaah usai, ia akan kembali menyalami setiap perempuan yang hendak keluar dari masjid. Perempuan itu kemudian akan menuju emperan toko mebel di seberang jalan, melipat dan menyimpan mukenanya di salah satu lemari dagangan Haji Salani, lalu, dengan memeluk Alqurannya, ia akan kembali menyeberang jalan menuju kompleks pemakaman wali di samping masjid, dan mengaji di sana hingga waktu duha tiba.

Rutinitasnya sehari-hari hanya dilakukan di tiga tempat: mandi dan beribadah di masjid, mengaji di makam wali, dan beristirahat di emperan toko mebel Haji Salani. Setelah seharian berkutat di masjid dan makam wali, menjelang magrib ia akan duduk di emperan toko mebel menunggu waktu berbuka, asyik menggumam sendiri hingga azan berkumandang. Biasanya ia akan berbuka bersama di masjid, tak jarang juga ada orang yang bersedekah mengantar makanan untuknya ke emperan toko mebel itu. Haji Salani, yang dikenal dermawan, tak pernah sekali pun mengusir perempuan itu dari emperan tokonya, bahkan ia memberinya tikar dan merelakan salah satu lemari dagangan di emperan tokonya untuk dipakai perempuan itu menyimpan pakaiannya—yang jumlahnya hanya beberapa potong.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved