Komunitas
Indonesian Bambu Community, Upgrade Bambu Jadi Barang Mahal
MEMANFAATKAN sumberdaya alam yang melimpah berupa bambu, Adang Muhidin menggagas Indonesian Bambu Community dengan menciptakan alat musik dari bambu.
MEMANFAATKAN sumberdaya alam yang melimpah berupa bambu, Adang Muhidin menggagas Indonesian Bambu Community (IBC) dengan menciptakan alat musik dari bambu.
Ruangan itu hanya seluas kamar tidur, sekitar 6 x 4 meter. Di dalamnya terdapat sebuah laptop, sound system, sofa, dan lantainya dialasi karpet. Deretan kliping koran dan piagam penghargaan, menempel dinding rungan.
Di sudut ruangan, terdapat beberapa bambu, alat musik berupa biola yang masih kasar dan gitar bas yang sudah mengkilap. Ternyata, semua itu merupakan pesanan yang akan dikirim ke Filipina.
''Kami mengerjakan semuanya di sini,'' kata Adan Muhidin saat ditemui di rumahnya di Jalan, Melong Asih, Kota Cimahi, Jumat (4/9).
Ya, ''studio'' mini itu memang berada di rumah Adang. Ide project tersebut awalnya juga datang dari Adang.
Bermula saat ia mengeyam pendidikan S-2 di Fachochshule Suedwestfalen Iserlohn Jerman. Saat itu Adang merasa heran kenapa bambu di Eropa begitu mahal, sedangkan di Indonesia sangat banyak dan murah.
Padahal, orang Jerman dan Jepang yakin betul, suatu saat bambu akan menjadi komoditas utama dunia. Pemikiran inilah yang coba dikembangkan Adang Muhidin, bersama Abah Yudi Rahman, ia membentuk IBC pada April, 2011.
IBC terbentuk dari rasa prihatin Adang, karena menurutnya, di Indonesia bambu tidak digunakan secara semestinya. Berangkat dari itu, IBC hadir dengan menciptakan alat musik seperti, biola, gitar, bas dan drum dengan menggunakan material bambu.
Hampir semua jenis bambu bisa dimanfaatkan untuk membuat alat musik tersebut. Tentunya dengan metode pengolahan yang tidak biasa. Atas upaya pengolahan yang tak biasa ini jugalah, beragam karya bambu mampu dijual hingga ke mancanegara.
Namun, perjalanan Adang bersama IBC tidak selalu mulus. Masih hangat diingatan Adang saat ia ditolak mengikuti pameran. "Katanya murahan, ga berkualitas," kenangnya.
Hal itu tak lantas membuat Adang patah arang, ketika ada kesempatan pameran, Adang coba lagi, hingga akhirnya ia dapat memamerkan karyanya. Bahkan, tak disangka karya mendapat banyak perhatian dari para pengunjung.
"Kalau warga kita malah mencibir, tapi pas yang liatnya warga Asing, mereka langsung tertarik," kenangnya.
Mulai saat itu komunitasnya dikenal, pembelipun berdatangan, kebanyakan berasal dari luar negeri seperti Afrika, Eropa, Malaysia, Amerika, Filipina dan Jepang. Meski tak dipasarkan ke luar negeri, para pembeli itu berdatangan ke tempat Adang, karena tertarik melihat produknya di internet.
"Kalau dari Indonesia yang beli itu Menteri Perdagangan pernah, kalau musisinya Iwan Fals juga beli," ujarnya. (bb)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ibc_20150906_062730.jpg)