Cerpen T Agus Khaidir

Rahasia Ibu

Rahmat Yanis teringat pada malam ketika dia melihat ibunya menangis tersedu di bahu lelaki yang bukan ayahnya.

Rahasia Ibu
Ilustrasi Cerpen Rahasia Ibu 

HAMPIR tepat 15 tahun setelah sore berhujan itu, tatkala dokternya yang alim mengempas napas lalu membisikkan ke telinganya kalimat syahadat, Rahmat Yanis teringat pada malam ketika dia melihat ibunya menangis tersedu di bahu lelaki yang bukan ayahnya.

Pemandangan ganjil yang sampai bertahun-tahun kemudian tetap menyisakan sejumlah tanda tanya. Apakah sebelumnya terjadi pertengkaran? Jika benar demikian dan hal itu membuat ibunya bersedih, tentulah ini kesedihan yang sangat dahsyat—sebangsa kesedihan yang tak menerbitkan kebencian.

Rahmat Yanis tak sekali dua kali mendapati ibunya menangis. Kehidupan rumah tangga ibu dan ayahnya memang tidak akur. Mereka mempertengkarkan banyak hal dan hampir tiap pertengkaran berakhir dengan tangis ibunya. Tapi sepanjang bisa ia ingat, sehebat apa pun mereka bertengkar, ibunya tak pernah menangis sampai tersedu-sedu seperti itu. Paling-paling hanya isak kecil.

Waktu itu Rahmat Yanis baru masuk sekolah. Masih sering terselip lidah dalam berhitung. Masih mengeja terbata-bata. I-ni Bu-di, i-ni i-bu B-udi.... Ibunya berusia 36 dan sedang mengandung Anamira, adiknya. Ayahnya kurang lebih seumuran tapi selalu kelihatan 10 hingga 15 tahun lebih tua. Kulitnya cokelat masak dan agak kendur dan di kepalanya yang kecil rambut putih telah menyerupa guguran serbuk bunga jambu. Memasuki usia pernikahan ke-12 mereka nyaris bercerai tiga kali, dan itu semua terjadi sebelum dia lahir, tujuh tahun lalu.

Rahmat Yanis berkali-kali hendak menanyakan apa yang dilihatnya malam itu. Kenapa ibunya menangis dan kenapa pula saat menangis kepalanya direbahkannya di bahu laki-laki itu? Apa yang membuatnya jadi lebih istimewa daripada ayahnya? Siapa dia? Kenapa dia datang saat ayahnya tak ada?

Sampai sejauh itu, satu-satunya hal yang diyakini Rahmat Yanis adalah lelaki itu bukan teman ayahnya. Memang, kadangkala ada juga di antara teman-teman ayahnya yang datang saat ayahnya tidak di rumah. Namun umumnya mereka akan berbalik langkah sembari berjanji datang lagi di lain hari. Jika pun ada yang tetap memaksa bertamu, tersebab perkara yang barangkali benar-benar penting, akan menunggu di teras. Bukan di ruang tamu.

Tapi begitulah, tiap kali rasa ingin tahunya memuncak, yang selalu terjadi adalah Rahmat Yanis mendadak lebih tertarik pada hal lain. Ia lupa gerangan apa saja yang mendorong pergeseran rasa penasaran ini. Barangkali mainan atau permen atau es krim atau kue-kue. Mungkin juga tambahan uang jajan. Ia juga tidak pernah mencoba bertanya kepada ayahnya. Padahal bisa jadi ayahnya mengenal lelaki itu. Jikapun ternyata tidak, itu sedikit banyak juga sudah menjadi jawaban. Tapi Rahmat Yanis tidak melakukannya dan ia tak tahu kenapa. Pastinya, semenjak malam itu, Rahmat Yanis tak pernah melihat dia lagi. Setidaknya dalam keadaan hidup.

Satu hari sepulang dari sekolah, Rahmat Yanis kembali mendapati ibunya menangis. Tidak ada suara isak, apalagi ratap. Hanya getar yang hebat di bibir, di bahu, dan di punggung, dan itu sudah cukup untuk meyakinkan Rahmat Yanis betapa perasaan ibunya sedang tercabik-cabik. Apa pasal? Mula-mula Rahmat Yanis menyangka inilah tangis yang berangkat dari puncak kesepian seorang perempuan. Ia sering menyaksikan adegan serupa di film-film roman picisan yang pada waktu itu rutin diputar tiap hari Minggu pagi menjelang siang di satu-satunya bioskop di kota kelahirannya. Seratus hari sebelum hari itu ayahnya meninggal dunia, dan konon, menurut pelajaran yang diperolehnya dari film-film tersebut, hari pertama hingga keseratus setelah kematian suami merupakan hari-hari terberat.

Nyatanya ia keliru, dan Rahmat Yanis tidak pernah lupa sepotong kalimat yang kemudian diucapkan ibunya dengan nada bicara yang sungguh-sungguh memelas.

"Sekarang akhirnya Ibu benar-benar sendiri."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved