TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

PODIUM

Nama Di Antara Kepercayaan dan Adat Istiadat

SAAT ini media sosial diramaikan dan dihebohkan dengan adanya orang yang memiliki nama Tuhan dan Saiton.

Oleh: YATUN ROMDONAH AWALIAH
Pengajar di Departemen Pendidikan Bahasa Daerah, Universitas Pendidikan Indonesia

SAAT ini media sosial diramaikan dan dihebohkan dengan adanya orang yang memiliki nama Tuhan dan Saiton. Pada dasarnya kedua nama tersebut bukanlah nama yang asing, sering didengar, bahkan dilafalkan oleh masyarakat. Tapi kenapa menjadi heboh?
Onomastik adalah ilmu yang mempelajari tentang penamaan identitas diri atau nama orang. Ketika seseorang terlahir ke dunia, warisan yang pertama kali diberikan oleh orang tuanya adalah nama, yang akan terus melekat, sebab bukan hanya akan dicatat dan dicantumkan dalam akta kelahiran, kartu tanda penduduk (KTP), ijazah, surat nikah, kartu keluarga tapi juga dicatat dan dicantumkan dalam batu nisan, saat si penyandang nama itu meninggal.
Dalam komunikasi sehari-hari nama merupakan istilah rujukan (reference term) yang sangat penting dan umum dipakai. Nama adalah simbol individualitas, digunakan untuk menunjukkan diri. Pei (1974) menyebutkan bahwa pemberian nama merupakan sebuah pemikiran yang beradab. Sebab dalam pemberian nama secara implisit menjelaskan pikiran, perasaan dan perilaku satu bangsa atau kelompok masyarakat yang menghasilkan nama tersebut. Hal itu sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Dede Kosasih (2004) yang menjelaskan bahwa praktik pemberian nama juga bisa menjadi salah satu indikator idiologis suatu masyarakat, di antaranya meliputi, nilai-nilai yang dianutnya (alus-goreng, pantes-teu pantes), sarta kepercayaan bahwa nama yang diberikan sesuai dengan harapan masyarakat ketika nama tersebut dibuat atau diberikan.
Sebagai contoh, dalam kehidupan adat dan tradisi masyarakat Sunda pemberian nama dianggap sebagai sesuatu yang sangat sakral. Tidak boleh gegabah dan seenaknya (sagawayah) sebab proses pemberian nama dan mengganti nama dianggap memiliki pengaruh untuk ke depannya. Konsekuensinya, bila dilakukan penggantian nama, harus melewati proses ritual, yaitu upacara selamatan seperti ngabubur bodas ngabubur beureum.
Oleh sebab itu, ketika proses pemberian nama kepada anak biasanya yang dilibatkan bukan hanya kedua orang tua anak tersebut, tapi juga kakek-nenek dari ibu dan bapaknya. Menurut Mustapa (1991) tidak jarang mereka suka melibatkan tokoh yang dihormati (tokoh adat, guru atau kiai) dan orang yang dianggap memiliki kemampuan adikodrati mengenai jaya-apesnya seseorang, ahli palintangan (horoskop), serta perhitungan huruf dan angka untuk mengetahui masalah repok-jodo.
Selanjutnya Mustapa menjelaskan, biasanya nama-nama yang diberikan tersebut akan ditulis dalam secarik kertas, dengan menggunakan huruf ha-na-ca-ra-ka atau huruf Arab, selanjutnya digulung dan dimasukan ke dalam wadah untuk diaduk-aduk dan dikocok. Ibu si anak biasanya disuruh membawa salah satu gulungan kertas, dan nama yang ada dalam gulungan kertas itulah yang dipakai untuk nama anaknya. Bila keluarga sudah mempercayakan pemberian nama kepada kiai, biasanya keluarga anak tersebut tidak ikut campur. Sebelumnya kiai akan menanyakan jenis kelamin si anak, dan weton-nya. Selanjutnya kiai akan mengajukan satu nama atau beberapa nama yang islami. Bila nama yang diajukan lebih dari satu, maka orang tua si anak bisa memilih salah satunya.
Proses kehati-hatian dalam memilih nama bukan saja dimiliki oleh etnis Sunda, tapi juga etnis-etnis lainnya. Seperti halnya orang Arab yang menjunjung tinggi ajaran Islam, malah mereka memiliki etikanya sendiri. Misal, bila memberi nama anak dengan asma'ul husna harus mencantumkan kata abdu atau abdul di depannya. Contohnya adalah Abdul Aziz yang berarti hamba Allah Yang Mulia. Kemudian haram hukumnya menggunakan nama-nama penghambaan kepada selain Allah Ta'ala, seperti Abdul 'Izza yang berarti hambanya Al-'Izza (nama patung/berhala).
Hal tersebut otomatis sedikit membantah pendapat Iyons (1995) yang menyatakan bahwa proses pemberian nama bisa manasuka atau arbitrer. Sebab dalam memberikan nama juga harus merujuk bukan hanya kepada kepercayaan atau agama, tetapi juga pada adat budaya yang dimiliki masyarakat, baik-tidak baik atau pantas-tidak pantasnya nama tersebut diberikan.
Kembali lagi kepada hebohnya pemberian nama Tuhan dan Saiton. Jadi bisa dipastikan bahwa kehebohan nama Tuhan dan Saiton itu terjadi karena adanya ketidak sesuaian antara nama yang diberikan atau disandang dengan adat dan budaya yang ada (teu ilahar). Selama ini, nama Tuhan diakui sebagai sebutan kepada Sang Pencipta, dan Saiton (Syaitan) merupakan sebutan kepada makhluk yang dikutuk dan dimurkai oleh Sang Pencipta. Sedangkan dalam kasus ini, kedua nama itu diberikan untuk manusia (orang).
Memang tidak ada yang salah, baik si penyandang nama atau pemberinya. Namun karena masyarakat kita memiliki kepercayaan, adat dan budayanya sendiri, sehingga mereka memiliki prespektif yang berbeda kepada kedua nama tersebut. ***

Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help