Cerpen Teguh Affandi

Kursus Menulis

MULA-mula kujawab dengan menggeleng. Malu. Karena aku belum bisa menulis tema sosial kesukaannya.

MULA-mula kujawab dengan menggeleng. Malu. Karena aku belum bisa menulis tema sosial kesukaannya. Kata JA, cerita pendek yang bagus bukan sekadar berloncatan imajinasi, tapi mampu menggerakkan pembaca.

Aku menulis cerita pendek tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan dan bunuh diri karena ditinggal kekasih. JA berdecap mendengar jawabanku. Rambut klimis terlapisi pomade kaku tak bergerak, sekokoh perkataannya yang tak bisa diterjang badai. Dadaku berdegup kencang, seperti ada serombongan anak-anak mengentak-entakkan kaki karena tidak sabar mengantre pembagian kotak susu usai makan siang. "Kisah sialan macam apa yang kamu tulis? Ceritamu sampah!"

JA mengayun-ayunkan kaki. Rokok kelima sudah dibenamkan dalam asbak yang penuh puntung dan abu. Bila sedang tak enak hati, dia mengisap rokok cepat sekali. Aku berusaha menampik udara yang meluncur dari mulutnya. Tapi udara bukan anak anjing yang mudah digiring. Hampir semua udara busuk dari mulutnya menyesak ke dalam hidung. Aku menahan diri untuk tidak batuk. Batuk akan membuatnya makin kejam mengomentari. JA terkenal sebagai mentor menulis kejam dan mudah tersinggung.

"Apa kamu hanya bisa menulis kisah picisan begini?" Kujawab dengan senyuman paling manis, agar dia tidak bertambah sinis mengejekku. Matanya melotot, hampir bisa menggelinding keluar andai kacamata minusnya dilepas atau disampirkan di atas kepala seperti seorang sutradara mengoreksi lembar skenario. Sesekali aku tertawa kecil, seolah sedang menyaksikan pelawak melempar guyonan. Sebenarnya caraku tertawa sangat aneh, aku terbahak sendirian sedangkan dia masih dengan tatapan menyeramkan seorang mentor menulis cerita pendek.

"Bawa pulang dan tulis yang baru! Pekan depan harus lebih baik lagi. Tirulah Dea Anugerah atau Norman Erikson Pasaribu. Mereka generasi baru dalam percerpenan Indonesia. Jangan terlalu banyak nonton Youtube melulu!" JA menutup pertemuan sore itu.

Sebelum JA menyulap kertas-kertas berisi 1.600-an kata milikku menjadi bungkus kotoran tikus atau sebagai lapik kopinya, aku buru-buru pulang. Mengumpulkan semua nasihatnya kemudian mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.

Jujur, aku tidak marah. Telinga sudah kupasang peredam pitam kualitas nomor satu. Aku harus sabar menghadapi cara kejam JA mendidik. Faktanya, sudah banyak penulis berhasil di bawah mentoringnya yang terkenal jahanam tanpa ampun. Seolah-seolah tidak ada kata bagus untuknya.

Di pertemuan pertama, seusai perkenalan basa-basi dengan nada sindiran ketus dia menandaskan, "There are no two words more hurtful than GOOD JOB!"*) Maka sekarang aku sudah sangat siap bila semua tulisan di hadapannya selalu mendapat cacian dan kritikan.

**

AKU belajar menulis karena mengikuti saran temanku, MD, bila sedang patah hati tulislah dalam cerita. Selain melegakan, bisa menguntungkan bila berjodoh dengan media. Kalau bisa kunovelkan, ada kemungkinan menjadi best seller. Kata MD, pembaca suka cerita haru biru menguras air mata. Dalam kekalutan sakit hati, debaran jantung lebih kuat bila menyaksikan mantan kekasihku lewat di depan rumah, aku mengiyakan saja. Aku bertanya bagaimana mungkin orang yang tidak biasa menulis mendadak bisa menulis hanya karena remuk-redam perasaannya?

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved