Cerpen Gunawan Tri Atmodjo

Foto Keluarga

NAIK bus adalah pilihan terakhirku jika harus berkendara jauh karena aku menderita mabuk darat.

Foto Keluarga
Ilustrasi Foto Keluarga 

NAIK bus adalah pilihan terakhirku jika harus berkendara jauh karena aku menderita mabuk darat. Pilihan utamaku tentu pesawat walau akhir-akhir ini berita buruk tentang kecelakaannya santer terdengar. Tapi keinginanku naik pesawat pupus. Tiket mendadak menuju Bandara Adi Sumarmo habis, sedangkan tiket kereta tercepat menuju Stasiun Balapan juga bernasib sama. Akhirnya aku berada di Terminal Pulo Gadung. Berbaur dengan asap knalpot yang memantik mual serta membayangkan tiga belas jam di dalam bus menuju Solo membuatku lesu. Tapi kubulatkan tekad menempuh perjalanan menyiksa ini demi Ayah.

Naik bus selalu mengingatkanku pada Ayah. Semasa kecil, aku sering diajak beliau mengunjungi bibi di Jakarta. Aku ingat betapa semangatnya diriku menjelang perjalanan, tapi baru setengah jam berada di bus, mual melanda dan aku mabuk seketika. Untung Ayah selalu sedia kantong plastik. Setelah mabuk darat, sisa perjalanan akan menjadi siksaan berat bagiku. Tubuhku terasa lemas dan Ayah akan merawatku dengan telaten. Beliau akan memijiti tengkukku, memborehkan minyak angin ke perutku, dan menyodoriku permen mint kegemarannya. Pada saat seperti itu obat antimabuk tak akan berkhasiat lagi. Meski berkali-kali disiksa mabuk darat, aku tak pernah jera ikut Ayah naik bus. Sosok Ayah selalu membuatku nyaman di perjalanan.

Hidup memang aneh. Karena pekerjaan, justru kini aku tinggal di Jakarta. Aku masih mabuk darat, tapi tak separah dulu. Obat antimabuk yang menyebabkan kantuk berat menolongku. Tapi dalam perjalanan kali ini berbeda. Obat itu cuma menstabilkan perutku. Aku senantiasa terjaga dan merasa sosok Ayah berada di sebelahku.

Lima jam sebelum perjalanan, kakak keduaku di Solo meneleponku, mengabarkan bahwa sakit diabetes Ayah makin parah. Ayah ingin semua anak-cucunya berkumpul di rumah. Ayah ingin berfoto bersama dengan keluarga besarnya. Awalnya kuanggap permintaan berfoto bersama ini sebagai pertanda buruk. Tapi buru-buru kubuang jauh pemikiran itu dan memaknainya sebagai tagihan piutang Ayah kepada kami. Kusebut ini piutang karena sebenarnya Ayah sudah menginginkan foto bersama ini sejak Lebaran lalu, tapi saat itu kakak sulungku yang tinggal di Lampung tidak dapat hadir karena anaknya sakit. Kali ini kakak keduaku itu meyakinkan bahwa semua anggota keluarga akan berkumpul. Ia telah menghubungi semua kakakku dan mereka memastikan kedatangan. Sebagai bungsu, aku yang terakhir dihubunginya.

Kubayangkan ketika kelima anak, empat menantu, dan tujuh cucu Ayah berkumpul, ditambah Ibu, betapa rumah masa kecilku di Solo itu akan terasa meriah. Momen foto bersama ini dapat mengumpulkan silsilah darah yang terserak. Tapi momen ini juga tak sepenuhnya menyenangkan bagiku. Akan selalu ada todongan pertanyaan mengenai jodoh. Meski dengan nada bercanda, pertanyaan mereka itu tetap saja membuatku belingsatan. Pertanyaan itu adalah bentuk kepedulian yang agak melukaiku. Biasanya kujawab bahwa kekasihku masih yang dulu meski kenyataannya tidak demikian. Dan, mereka akan kembali berceramah bahwa usiaku yang tiga puluh dua tahun dan pekerjaan yang cukup mapan adalah bekal memadai untuk membina keluarga bahagia. Tetapi, mereka tidak mempertimbangkan betapa susah mencari perempuan yang layak dinikahi di kota megapolis seperti Jakarta. Di sana, hidup sendiri saja sudah susah, apalagi jika menanggung hidup orang lain. Terlepas dari sedikit kekesalan itu, aku dapat menerima maksud baik mereka.

Tubuhku masih di bus tapi pikiranku sudah menjelajahi rumah. Aku mendesah dan benakku kembali membayangkan Jakarta, ke tumpukan naskah di meja kerja, ke izin cuti yang mendadak, lalu berlanjut ke wajah Lisa, teman sekantor yang jadi kawan baikku. Aku mengangankan Lisa menjadi perempuan ideal yang memenuhi harapan keluarga besar akan jodohku. Aku ingin meneleponnya, tapi aku urungkan. Aku tak punya cukup alasan menelepon selain rindu. Rindu masih jadi kata tabu dalam hubungan kami.

Kulalui perjalanan sekitar tiga belas jam tanpa tidur. Aku turun di Terminal Tirtonadi, lalu naik ojek menuju rumah. Azan Subuh dan Ibu menyambutku dengan hangat. Ayah ternyata juga sudah bangun dan kalimat pertamanya yang kudengar adalah pertanyaan apakah aku mabuk kendaraan. Aku menjawab dengan terenyuh, mencium tangan dan menanyakan keadaan beliau. Ayah yang berada di atas kursi roda tertawa seakan ingin menunjukkan padaku bahwa dia masih segar bugar, tapi raut wajahnya gagal menyembunyikan sakitnya. Beliau memberiku permen mint dan masa kanak seakan kembali padaku. Ayah bercerita bahwa kini ia tak lagi mengonsumsi permen itu karena kadar gulanya dan hanya menyimpannya. Permen itu selalu diperbarui Ibu. Keempat keponakanku di Solo-lah yang menghabiskannya. Setiap bertemu dengan eyang kakungnya, mereka selalu menagih permen.

Pada pukul dua belas siang keluarga besar terkumpul. Kakakku yang tinggal di Lampung dan Banjarmasin datang lengkap dengan anggota keluarganya. Foto bersama akan dilaksanakan pukul lima sore. Ibu telah meminta Pak Bandi, tukang foto keliling langganan yang kini sudah memiliki studio foto kecil-kecilan, untuk mengeksekusi. Sebenarnya kakak ketigaku sudah membawa sendiri kamera DSLR, tapi ayah menginginkan foto, yang nantinya akan dipajang di ruang tamu itu, diambil dari kamera lawas Pak Bandi.

Pukul setengah lima Pak Bandi datang beserta asistennya. Ayah meminta kami memakai batik yang memancarkan wibawa. Rumah itu segera gaduh adegan dandan. Dandanan Ayah ditangani Ibu. Pukul lima kurang kami sudah bergaya sesuai dengan arahan asisten Pak Bandi. Ayah dan Ibu duduk di kursi. Ayah harus dipindahkan dulu dari kursi roda. Foto sesi pertama adalah keluarga inti. Ayah dan ibu duduk di kursi, sedangkan kelima anaknya berdiri di belakangnya. Foto sesi kedua adalah keluarga besar. Ayah dan ibu berada di tengah, sedang anak dan menantunya berpasang-pasangan di belakang, aku di tengah mereka, dan anak-anak duduk di depan. Sesi ini tidak mengenakkan bagiku karena kembali menyadarkan akan ketiadaan pasangan. Pak Bandi menjepret beberapa kali dua pose ini untuk mengambil gambar terbaik. Dia juga mengambilkan foto dengan kamera dan ponsel kami.

Aku menginap semalam di Solo karena cuti kerjaku cuma tiga hari. Untunglah aku mendapat tiket pesawat sehingga dapat menghemat waktu. Sebelum aku pulang, asisten Pak Bandi datang membawa dua foto keluarga berukuran besar yang terpasang dalam pigura kayu berukir. Ayah memintaku memajang foto keluarga itu di ruang tamu.

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved