TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

KM NOL

SUBUH, 17 Agustus, 70 tahun lalu. Sebagian rakyat Indonesia masih tidur nyenyak, sebagian lagi sudah terbangun dari tidur.

KM NOL
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah foto baru berjas biru kemeja merah. 

SUBUH, 17 Agustus, 70 tahun lalu. Sebagian rakyat Indonesia masih tidur nyenyak, sebagian lagi sudah terbangun dari tidur. Tetapi di rumah yang terletak di Imam Bonjol 1, Jakarta, beberapa orang belum sempat tidur. Rumah itu dihuni oleh Laksamana Maeda, seorang perwira tinggi Jepang yang mempunyai peran dalam menentukan nasib bangsa ini. Sang pribumi sendiri memilih pergi ke kamar tidur dan membiarkan para tamunya berdebat keras.
Di ruangan yang cukup besar itu berdiri para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), antara lain Soekarno, Hatta, Prof Soepomo, dr Ratulangi, Mr Latuharhary, dr Buntaran, dan Mr Iwa Kusumasumantri, serta dari generasi muda yang bukan anggota PPKI seperti Chaerul Saleh dan B.M. Diah. Konsentrasi terpusat pada kehendak untuk memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno kemudian mengatakan, “Sekarang kita sudah memiliki rencana naskahnya dan saya harap saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat melangkah lebih lanjut dan menyelesaikan soal ini sebelum fajar menyingsing.” Soekarno kemudian membacakan teks proklamasi perlahan agar setiap orang mendengarnya kata demi kata.
Permintaan Soekarno agar yang hadir dapat menyetujui teks proklamasi gagal total. Bahkan sampai matahari bersinar. Semua yang hadir masih berdebat soal bunyi teks dan siapa yang harus menandatangani teks proklamasi tersebut. Perdebatan panas terutama terjadi dalam soal siapa yang harus menandatangani.
Satu pihak mengusulkan anggota PPKI yang menandatangani, tapi pihak pemuda, terutama Sukarni, paling keras menolak karena menganggap anggota PPKI sebagai kolaborator Jepang. Sukarni sebagai pihak dari generasi muda yang menginginkan agar kaum muda yang menandatangani. Usul ini pun ditolak.
Seperti dikisahkan dalam memoar Mr Soebarjo, yang kemudian dikisahkan kembali oleh P. Swantoro dalam Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran dan Keterlibatan Jepang (2015), ketegangan itu terjadi antara dua generasi, yaitu generasi tua yang jadi anggota PPKI dan generasi muda yang sejak awal menentang keterlibatan Jepang dalam kemerdekaan.
Sayuti Melik akhirnya menyelamatkan situasi. “Saya kira tidak ada yang akan menentang kalau Soekarno dan Hatta yang menandatangani Proklamasi atas nama bangsa Indonesia.” Seperti mengandung mantra, usul Sayuti Melik disetujui secara aklamasi sehingga kegentingan pecah. Titik ini menjadi langkah awal yang menunjukkan bangsa ini berhasil mengatasi kemelut detik-detik lepas dari penjajahan.
Kegentingan yang terjadi dalam sittuasi detik-detik proklamasi itu sejatinya merupakan pelajaran bagi anak bangsa ini bahwa kemerdekaan itu tidak semata-mata tentang kolonialisme dan bangsa terjajah, tapi juga tentang cara menyelesaikan dilema. Dalam setiap persoalan, besar atau kecil, tidak terlepas dari dilema. Dan kita sebagai manusia, baik sifatnya sebagai individu maupun bagian dari komunitas dan bangsa, selalu diuji dalam mengatasi dilema. Cara mengatasi dilema inilah yang akan menentukan apakah berhasil atau gagal.
Tujuh puluh tahun lalu di Imam Bonjol 1, Jakarta, adalah kilometer 0 bangsa ini berhasil mengatasi kemelut antara sukses menjadi bangsa yang merdeka atau kembali ke pangkuan kolonialisme. Pada saat itu Belanda, yang ada di belakang Sekutu, sangat berambisi untuk kembali memeluk Hindia Belanda ke pangkuannya. Apalagi pada saat itu Sekutu sudah mengingatkan agar Jepang tidak mengubah status quo negeri jajahan. Bukan saja nyali Maeda yang telah memberi angin kepada tokoh bangsa ini, tapi anak bangsa ini juga mempunyai tekad yang berani untuk menghadapi risiko tindakan Sekutu.
Keberanian menghadapi risiko dan cara mengatasi dilema inilah yang juga harus diajarkan kepada anak bangsa ini. Pesta merayakan kemerdekaan dengan panjat pinang, balap karung, lari maraton, dan acara lainnya adalah luapan kegembiraan anak bangsa sebagai rasa syukur. Tapi kalau pesta itu tanpa mengetahui kisah genting di balik detik-detik menjelang Proklamasi, menjadi pesta yang hampa dan kita akan lengah terhadap wujud baru kolonialisme. (*)

Penulis: cep
Editor: cep
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help