Cerpen A Warits Rovi

Senja Merah

TUBUHKU ringkih setua tugu desa yang acap ditulisi anak-anak muda dengan oretan cat membentuk grafiti porno.

Senja Merah
TRIBUN JABAR
Ilustrasi Cerpen Senja Merah 

TUBUHKU ringkih setua tugu desa yang acap ditulisi anak-anak muda dengan oretan cat membentuk grafiti porno. Tugu tua dan masa kini memang sering berbenturan seakan anak-anak tak setuju bangunan gedung itu berdiri di sudut desa. Barangkali anak muda tak ingin tugu tua itu mencampuri kemegahan bangunan tower, minimarket, dan sarang walet milik orang-orang asing yang kini masuk ke desanya. Andai tak ada Sahlun kepala dusun Bungduwak, mungkin saja tugu itu telah digusur.

Ya, tugu tua juga sama denganku. Si ringkih yang sekadar bisa bolak-balik dari langgar ke kamar mandi, dari kamar mandi ke langgar, begitu selalu dengan bantuan tongkat kayu nyamplung seraya menahan tusukan serangan asma dan rasa nyeri di seluruh tubuh. Orang-orang jarang yang peduli kepadaku, bahkan Jumiya istriku sendiri kini sering abai dan nyaris membentakku setiap waktu. Katanya aku si tua tak berguna, tak menghasilkan apa-apa, cuma makan dan tidur. Jumiya sering membandingkanku dengan anak-anak dan cucu-cucu. Mereka berpangkat dan menghasilkan uang, sedang aku tidak. Ia sering membandingkanku dengan Firmanto yang sukses jadi pejabat negara. Cucuku yang satu itu katanya punya lima mobil dan rumah mewah serta ratusan hektare tanah yang tersebar di Jawa, Bali, dan di Madura sendiri. Sedang aku tak punya kekayaan apa-apa. Hal itulah yang membuat Jumiya rajin ngomel.

"Sampean seperti tugu tua di pojok desa itu, tak berguna!" bentaknya di suatu pagi sambil meletakkan sebungkus nasi dengan terpaksa di hadapanku. Aku berlinang air mata sambil menatap punggungnya yang gegas menghilang di pintu langgar menuju dapur menyisakan kelebat motif sampir batik warna kuning. Tak lama setelah linangan air mataku tuntas kemudian bibirku mengambang senyum. Aku bahagia. Aku merasa benar-benar tak menukar pahitnya perjuangan masa lampau dengan uang. Itulah sebabnya sampai saat ini aku lebih bangga jadi veteran yang tak mendapat uang negara karena sejak dulu aku memang menolak untuk digaji. Omelan istri bagiku adalah kelanjutan kisah hidup mempertahankan kemurnian berjuang demi negara walau itu terasa pahit.

"Berjuang itu pahit. Kalau manis, bukan berjuang, tapi beruang alias banyak duit, maka kalau kalian ingin mengabdi kepada negara, kalian harus siap pahit," dawuh Kiai Hasyim masih kuingat ketika memimpin para pejuang tahun 1937. Karena kata-kata itulah aku selalu siap menghadapi kepahitan, termasuk pahitnya usia tua tinggal di langgar gedek ini. Malam hari dinginnya teramat menusuk. Sudah enam tahun aku ditempatkan di langgar ini oleh Jumiya dengan alasan agar ruangan rumah bersih dan tenang. Tidak bau dengan dahakku. Tidak riuh dengan suara aduhku ketika seluruh badan terasa nyeri atau ketika asmaku kambuh.

Jumiya ialah gadis rupawan yang kukenal di Dusun Lorkong enam puluh lima tahun silam. Takdir menyeretku saling memadu cinta dengannya saat aku ditugasi bergerilya membentengi Desa Gapura dari tentara Jepang. Saat itu aku dan sekompi pejuang lain ditempatkan di posko bambu tepat di lereng Bukit Rongkorong. Kiai Hasyim sengaja membuat posko di lereng bukit agar mudah memantau dan menyerang musuh jika tiba-tiba tentara Jepang bergerak menuju Desa Gapura. Setelah lima hari di posko akhirnya yang dinanti tiba juga, aku dan teman-teman pejuang bentrok dengan tentara Jepang. Kelompokku masih menggunakan ketapel, bambu runcing, dan anak panah. Desingan peluru sangat mengerikan, jadi nyanyian sekarat Ibu Pertiwi. Darah bercecer dan amisnya menunggang udara ke wajah langit. Risun salah satu teman kami gugur di medan laga tubuhnya luluh lantak. Terkapar tak berdaya memeluk bumi. Tak terasa bahuku juga luka menganga entah terkena apa. Dugaku mungkin efek peluru yang meleset. Sakitku tak terperi.

Tak ada senyum di kalangan pejuang ketika keadaan sekritis itu selain seorang pejuang muda yang setiap pagi dan sore dikirim makanan oleh gadis rupawan berambut kemerahan. Saat menerima kiriman dari sang gadis tak jarang ia bersenda di pematang ilalang dekat posko membuat pejuang lain iri melihatnya. Setelah puas bersenda di pematang ilalang biasanya sang gadis pulang menuruni lereng bukit yang penuh pandan, sesekali menoleh dan tersenyum kepada si pemuda. Si pemuda hanya bisa berdiri dan hatinya berbunga, lalu ia menuju posko bambu membawa makanan dari sang gadis, ada kopyor, nasi pecel, keripik belinjo, dan lain-lain. Si pemuda itu kian semringah. Itulah aku, pemuda beruntung mendapat cinta Jumiya di tengah medan perjuangan enam puluh lima tahun silam.

Dari ragam makanan yang ia kirimkan, teman-temanku kala itu sudah bisa menduga Jumiya adalah anak orang kaya. Oh, sungguh kala itu aku bahagia serasa telah merdeka meski tanah kelahiran masih diduduki tentara Jepang. Setelah aku menikah, Kiai Hasyim menyampaikan dawuh lagi.

"Kemarin, di tengah tugas kau terbujuk menuruti nafsu cintamu. Sekarang sudah sempurna kau nikmati. Negara ini masih dalam keadaan pahit. Ayo lanjutkan berjuang!" pinta beliau kepadaku. Aku pun takzim dan mulai bergabung dengan pejuang yang lain. Jumiya juga merestuiku, ia rela ditinggal berjuang meski masih berstatus pengantin baru. Saat aku pamit berangkat ia mengalungkan selembar kain di leherku, sang saka merah putih. Lalu ia mengecup keningku.

"Berangkatlah, Kanda! Membela negara adalah bagian dari cinta. Kain ini anggaplah aku yang selalu menemanimu. Menjaga merah darah dan putih tulangmu. Bismillah!" Semangatku seketika bertambah. Kobar api perjuanganku kian nyala sebab cinta. Aku berjanji akan menebas seratus kepala penjajah.

Hampir tiga bulan aku di tengah hutan. Merasakan getir perjuangan. Pagi, sore, dan malam selalu berperang. Beberapa teman dari kelompokku tewas mengenaskan. Belum lagi dihadapkan pada persoalan bekal yang habis. Jumiya dan perempuan lain oleh Kiai Hasyim dilarang mengirim makanan. Aku dan pejuang lain saat itu hanya makan dari buah yang ada di hutan, dan sebagian besar temanku berpuasa. Darah dan desing peluru bahkan ledakan meriam sudah bagian dari lagu keseharian. Maut adalah angin yang sebatas terpisah baju. Bisa saja dengan mudah ia merenggut. Tapi semua pejuang tak gentar. Sebab negeri adalah harga diri yang harus dipertaruhkan dengan nyawa, hingga akhirnya pasukan yang dipimpin Kiai Hasyim menang. Pada suatu hari kemudian dibangunlah sebuah tugu di pojok desa sebagai lidah abadi bagi turun-temurun untuk menuturkan pengorbanan para pejuang.

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved