TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

Ngakal(an)

“PA, naha geuning teu menta hayam? Tadi aya keur macokan jagong di dapur!” (Pak, mengapa tidak minta ayam? Ada kok tadi di dapur lagi matuk jagung.)

Ngakal(an)
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah foto baru berjas biru kemeja merah. 

Oleh: cecep Burdansyah

“PA, naha geuning teu menta hayam? Tadi aya keur macokan jagong di dapur!” (Pak, mengapa tidak minta ayam? Ada kok tadi di dapur lagi matuk jagung.)
“Keun, keur engke deui! Da moal enya cageur tereh-tereh.” (Biarkan dulu, buat nanti lagi! Kan gak mungkin bakal sembuh secepat itu!)
Dialog penutup antara anak dan ayah dalam carita pondok (cerita pendek) “Neng Yaya Gering Tipes” karya pengarang Karna Yudibrata memberikan gambaran kepada kita bahwa tipologi manusia seperti Mang Wijatma, tokoh sentral dalam cerpen itu, sangat universal. Ada sejak zaman dulu hingga modern, bahkan saya yakin, futuristik: hingga zaman ke depan tetap hidup.
Meskipun tipe manusia Mang Wijatma hidup di kampung, dia cukup cerdik membaca psikologi manusia. Model manusia seperti ini hidup dalam kebudayaan mana pun, tidak perlu batasan geografi dan kultural, kota dan desa, tradisional dan modern.
Dan tidak mengenal musim. Orang mau bicara apa saja, silakan. Gobalisasi, antikorupsi, nasionalisme, Islam Nusanatara, pokoknya: kumaha ramena pasar. Bagi manusia tipe Mang Wijatma: menyimak, membaca arah psikologi manusia, lalu memanfaatkan situasi. Itulah yang penting.
Karna Yudibrata menyajikannya dalam cerita yang sangat sederhana, tetapi sangat hidup, karena memang problematika yang diangkat sangat kental dengan kultur di masyarakat. Neng Yaya terkena tipes. Ia dirawat di rumah sakit. Beranjak sembuh, ayah dan ibunya, Mang Endang dan Bi Imi, dipengaruhi oleh Wiharma, saudaranya sendiri. Buat apa orang sakit dibawa ke rumah sakit? Cuma menghambur-hamburkan uang! Sejak dulu pun leluhur kita tidak pernah membawa orang sakit ke dokter, cukup dibawa ke orang “yang bisa”. Tuh lihat, dokter makin banyak, tapi rumah sakit tetap penuh, itu artinya banyak dokter, orang sakit malah makin banyak dan tak sembuh-sembuh. Begitulah Mang Wiharma kepada saudaranya.
Mang Endang dan Bi Imi bingung. Terutama mengingat biaya, akhirnya ia memaksa ke dokter dan suster untuk membawa pulang anaknya yang dalam masa pemulihan. Dokter dan anaknya tentu melarang. Tapi karena kuatnya pengaruh Mang Wiharma, Bi Imi dan Mang Endang berhasil membawa Neng Yaya pulang meskipun secara medis belum sehat benar.
Di rumah, Neng Yaya kambuh, malah makin parah. Pada kondisi inilah datang tokoh Mang Wijatma. Dengan jampi-jampi dan jurus omong kosongnya yang jauh dari rasional, seperti mengompres orang sakit dengan celana dalam orang tuanya yang kotor, ia bisa memperdaya orang tua pasien. Mang Wijatma dan dua anaknya yang selalu ia bawa pulang dengan perut kenyang, plus uang dan bawaan lainnya. Begitulah “orang bisa” bersiasat dalam mempertahankan hidup.
Mang Wijatma adalah sebuah model yang dihadirkan oleh seorang pengarang. Sosok yang pintar menggunakan akalnya dalam membaca situasi. Apakah ini kreasi dan inovasi? Tentu saja ini lebih pada sebuah modus, ketika akal diberi akhiran an. Kreasi dan inovasi itu apa yang dilakukan Steve Jobs dan Bill Gate. Ia membaca kebutuhan manusia, dan ia menyediakannya dengan sangat terbuka untuk diuji secara ilmiah. Begitu hasil karyanya disambut pasar, sang pencipta betul-betul jadi hero. Keduanya menghasilkan produk dari ngakal. Mun teu ngakal moal ngakeul. Kalau tidak kreatif, bisa mati.
Modus, lebih pada upaya ngakal(an), sangat tertutup dari area pengujian. Begitu ditantang untuk diuji secara ilmiah, sang pencipta, atau lebih tepat sang pelaku, mula-mula ia akan mengemukakan banyak dalih untuk menghindar, dan begitu terdesak, ia akan lari. Kata-kata Mang Wijatma kepada korbannya, “apakah kamu percaya pada saya?” sebagai penegasan orang lain harus menyerahkan kepercayaan penuh tanpa ada satu pun peluang untuk bertanya. Sifat tertutup sudah menjadi bagian dari ranah ngakal(an). Ini wilayah muslihat.
Tipe Mang Wijatma berkeliaran di mana-mana, lintas batas, lintas profesi, lintas kultural. Tidak aneh ketika Wali Kota Bandung menerapkan surat keterangan tidak mampu (SKTM), bermunculan “orang bisa” seperti Mang Wijatma dari kalangan orang tua siswa. Bermobil dan berumah mentereng, tapi mengaku miskin demi anak kesayangan masuk sekolah negeri. Dalam penerimaan siswa baru, muncul juga Mang Wijatma dari kalangan kepala sekolah. Tidak aneh apabila seorang kepala sebuah SMA negeri di Tanjungsari menyebutkan, DSP bukan kepanjangan dari dana sumbangan pendidikan, melainkan dana sukarela partisipasi.
Lalu di sebuah sekolah dasar negeri di Kota Bandung, terpampang papan pengumuman dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang bunyinya: “Sekolah Ini Dibiayai Oleh Negara, Pungutan Liar Tidak Dibenarkan”, lalu mengutip Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 dan alamat kantor KPK. Salut dengan komitmen sekolah ini mau memasang papan peringatan dari KPK, tujuannya tercipta kesadaran. Tapi akan tercenung ketika sekolah ini menjual buku gambar harus dari pihak sekolah, karena di jilid buku gambar itu harus ada identitas nama sekolah, juga harus membeli buku penghubung antara sekolah dan pihak orang tua, yang juga tertera identitas sekolah. Padahal buku penghubung itu jarang, bahkan tidak pernah diisi.
Cara ini tentu bukan bentuk pungutan liar. Tidak ada pasal korupsi atau pungutan liar yang bisa dijeratkan. Tapi coba renungkan, model ini telah sedikit mengubah fungsi sekolah, menjadi penjual buku, yang dilakukan melalui koperasi. Koperasi sekolah secara bergiliran dijaga oleh guru. Guru, yang seharusnya di waktu luang memperkaya ilmunya dengan membaca, jadi sibuk berdagang dan menghitung keluar-masuk uang dan barang. Di pihak lain, toko buku lambat laun kehilangan pembeli. Di ambang bangkrut.
Berkat “orang bisa” seperti Mang Wijatma, dunia menjadi riuh. (*)

Tribun Jabar, edisi Senin, 10 Agustus 2015.

Penulis: cep
Editor: cep
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help