Cerpen Absurditas Malka

17.000 Pulau Komunis

GAN Muhidin, ia mungkin reinkarnasi Narcissus. Bisa seharian ia mematut-matut diri di depan cermin, menelisik wajah sendiri...

17.000 Pulau Komunis
Ilustrasi 17000 Pulau Komunis 

GAN Muhidin, ia mungkin reinkarnasi Narcissus. Bisa seharian ia mematut-matut diri di depan cermin, menelisik wajah sendiri, bertatapan dengan bayangan sendiri, mengobrol dengan dirinya sendiri. Seolah keindahan 17.000 Pulau Komunis tiada berarti disandingkan dengan wajahnya yang sejujurnya tak tampan-tampan amat.

"Apakah tidak ada yang lebih tampan dari aku?" Demikian guman Gan Muhidin, gumam yang sudah ribuan kali digumamkannya.

Janggut di pipinya bak semut berebut gula, acak-acakan, warnanya kian hari kian banyak yang memutih, "Kenapa kamu nakal sendiri, jenggot! Malas aku melihatnya!" Gerutunya, satu lembar bulu janggut tumbuh tiga kali lebih panjang dari janggut lainnya.

Tekun, Gan Muhidin menikmati pemandangan terindah di dalam cermin, wajahnya sendiri. Janggutnya yang semrawut, rambutnya yang acak bergelimpang, lipatan-lipatan kulit mukanya yang memaritkan usia, sorot matanya yang tak sebinar beberapa puluh tahun silam.

Semua orang di Pulau Komunis sudah tak aneh lagi dengan kelakuan Gan Muhidin, mau apa dikata? Nasi sudah menjadi bubur, tak bisa disembuhkan. Siapa yang bisa menghalangi Narcissus dari cintanya kepada bayangan sendiri? Tak ada kecuali kematian.

**

BINTANG laut berwarna biru terdampar di pasir putih, angin yang diberati aroma garam lumer menyerbu gubuk di tepi pantai. Gubuk Paman Doblang dan keponakannya, Sadun.

Biduk kecil terseok-seok mencari jalan pulang, di atasnya Sadun sibuk membenahi udang tangkapannya dengan tangan kanan, tangan kirinya sibuk menguras air di dalam biduk. Bocor-bocor kecil biduk itu kian hari kian menggila, bila tak dikuras dengan tangkas tentu akan segera tenggelam.

"Paman, hari ini aku menangkap udang yang sangat banyak," teriak Sadun dari kejauhan. Pamannya tak acuh, sikapnya dingin-dingin saja. "Kenapa Paman tidak berbahagia, tangkapanku hari ini teramat-sangat banyak!"

"Kenapa harus berbahagia?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved