TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

PENDAPAT

Pendapat sering dianggap berbahaya, karena itu perlu dilarang. Setidaknya, harus dibatasi oleh aturan.

PENDAPAT
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah

Oleh: cecep Burdansyah

Pendapat sering dianggap berbahaya, karena itu perlu dilarang. Setidaknya, harus dibatasi oleh aturan. Begitulah pada era kolonial di Hindia Belanda, sehingga dibuatlah pasal pencemaran nama baik. Pendapat bisa mencoreng kredibilitas, tapi terutama mengganggu instabilitas kekuasaan. Harga kekuasaan tentu lebih mahal daripada nyawa seseorang, sekalipun dia filsuf, orator, pemikir, atau seorang pemimpin gerakan rakyat. Mereka yang mencoba kritis ditangkapi, dijebloskan ke penjara. Kalau perlu, dihukum gantung atau diracun.

Seseorang bisa tewas oleh senjata atau kekerasan, tapi tidak oleh pendapat. Tapi mengapa pendapat begitu ditakuti, sampai-sampai ada orang yang tewas karena mengeluarkan pendapat. Ia dihukum mati. Di tanah air pun, dari era kolonial hingga era reformasi, beberapa nama pernah dihukum penjara karena mengeluarkan pendapat. Sebut saja Bersihar Lubis dan Prita Mulyasari. Munir diam-diam diracun karena pendapatnya juga.

Dalam literatur politik, muncul ungkapan, kalau Anda ingin jadi penguasa yang langgeng atau diktator hebat, langkah pertama lumpuhkan dulu pers. Karena di sana-lah ruang untuk berpendapat. Begitulah Hitler, Musolini, Stalin, dan penerusnya sekarang, Putin.

Peradaban dibangun mula-mula oleh pendapat, tapi pendapat seringkali dianggap tidak berguna. Apalagi, bila yang diberi pendapat itu secara kekuasaan lebih kuat dibanding orang yang memberi pendapat. Seorang guru seringkali menganggap remeh temeh pendapat muridnya, karena guru mempunyai kekuasaan, merasa lebih mengetahui daripada murid. Orang kaya tidak menganggap pendapat orang miskin, apa pun yang dikatakannya. Penguasa tidak perlu mendengar pendapat warganya. Inilah yang terjadi pada Soeharto di ujung kekuasaannya.

Kekuasaan Soeharto ambruk pada 1998. Ia exit dengan wajah getir. Setelah mengumumkan pengunduran diri dan menyerahkan tampuk kepresidenan kepada Habibie, ia berjalan memunggungi kamera televisi, dan rakyat melihat punggungnya dengan kepala merunduk. Di luar istana para pengunjuk rasa pesta kemenangan.

Andaikan dua tahun sebelum jatuh, tepatnya pada 1995, Seoharto mau mendengar pendapat, mungkin ia akan terhindari dari rasa malu dan kepedihan. Pendapat ini bahkan disampaikan oleh orang-orang yang pernah jadi orang dekatnya, yaitu para jenderal yang pernah membantunya.

Pada pertengahan November 1995, di saat Soeharto merasa di puncak kejayaan, para jenderal berpikiran progresif berbicara dalam seminar “Globalisasi, Keterbukaan Informasi, dan ketahanan Nasional”. Topik ini diajukan oleh Program Studi Ketahanan Nasional, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, untuk merespon apa yang terjadi di dunia internasional, terutama munculnya Glasnot yang digulirkan Gorbachev. Pemikiran mereka bahkan kemudian dihimpun dalam buku yang diterbikan oleh Gadjah Mada University Press pada Juli 1996, dengan judul “Keterbukaan Indormasi dan Ketahanan Nasional”.

Ada tiga isu yang dikemukakan, bagamaimana Indonesia merespon kecenderungan liberalisasi ekonomi dunia? Bagaimana merumuskan dan menata keterbukaan informasi publik di tengah-tengah gejala politik internasional yang semakin memustahilkan isolasi politik dengan semata-mata melihatnya sebagai persoalan domestik?Bagaimana menyiasati menguatnya gerakan demokrasi dan tuntutan terhadap hak asasi manusia (HAM) di seluruh dunia?

Para jenderal yang berpendapat itu bukan jenderal yang selama ini berseberangan dengan Seoharto, tapi justru para loyalis. Mereka adalah Jenderal Edi Sudradjat, Jenderal Feisal Tandjung, dua jenderal yang pernah jadi panglima ABRI dan menteri di kabinet Soeharto. Kemudian Jenderal ZA Maulani yang dikenal progesif dalam pemikiran. Pendapat lainnya datang dari para intelektual yang selama peduli pada demokrasi, politik dan hak asasi manusia, seperti Todung Mulya Lubis, Jakob Oetama, Alwi Dahlan, Ashadi Siregar.

Halaman
12
Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help