TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

Surti

ORANG cerdas, orang yang mudah mengerti, mudah paham, tajam pikirannya, cakap. Orang bodoh sebaliknya. Lalu, di mana orang surti?

Surti
Tribun Jabar
Cecep Burdansyah, Pemimpuin Redaksi Tribun Jabar 

Cecep Burdansyah

ORANG cerdas, orang yang mudah mengerti, mudah paham, tajam pikirannya, cakap. Orang bodoh sebaliknya.
Lalu, di mana orang surti?
Di sinilah keterbatasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak mampu menjangkau kekayaan kosa kata dari bahasa daerah. Padahal, dalam hidup ini, selain ada orang cerdas dan orang bodoh, tak sedikit orang surti.
Orang cerdas banyak dijumpai di dunia ini. Sering menjadi bahan pujian dan didambakan dalam segala bidang. Bagaimana jadinya dunia ini tanpa orang-orang cerdas. Untuk menaklukkan sebuah negeri, butuh para pemberani. Tapi dalam sejarah sering kita membaca, banyak pasukan yang gagal menaklukkan musuh meskipun dipimpin seorang jenderal pemberani. Artinya, tidak cukup sekadar berani, tapi butuh siasat. Dalam siasat inilah hadirnya orang-orang cerdas.
Kalau kita membaca bukunya Dan Senor dan Saul Singer, Start-Up Nation, yang mengisahkan keajaiban eknomi dan inovasi bangsa Israel, kemenangan demi kemenangan pertempuran itu bukan karena para jenderalnya yang heroik mengumbar keberanian, tapi berkat para prajuritnya yang cerdas. Dalam militer Israel, seorang prajurit cerdas diberi peluang untuk melawan perintah atasannya, tak peduli atasannya seorang jenderal, yang penting demi kemajuan negaranya. Dalam bayangan kita, tak masuk akal ada negara yang sukses menempatkan mata-matanya ke sarang pusat persenjataan negara musuhnya, tapi bagi Israel hal itu bukan mustahil. Eli Cohen buktinya. Mata-mata Israel ini tidak saja mampu masuk dan mempunyai otoritas di instalasi militer Suriah, bahkan nyaris jadi menteri pertahanan dan Presiden Suriah, negara musuh utama Israel. Bagi orang kebanyakan, memelihara ikan di gurun pasir hal yang tak masuk akal. Bagi orang Israel adalah sesuatu yang bisa terjadi. Itulah inovator.
Begitu pula dalam dunia bisnis. Orang Israel membawa kultur militer dalam bisnis. Pertarungan bisnis adalah persoalan hidup-mati dan hanya bisa dimenangkan oleh perusahaan yang dikelola oleh orang-orang cerdas. Mereka dengan gagah mengatakan, “orang Amerika itu ahli di dalam bidang yang sudah ada, orang Israel ahli di dalam bidang yang akan ada.” Bahkan, buku itu juga membuka rahasia, militer Singapura berguru ke militer Israel, salah satunya karena takut oleh Indonesia. Tapi mereka juga menilai Singapura tak akan menjadi negara hebat karena sikapnya yang kaku, terlalu tertib dalam segala hal. Dalam hal ini, mungkin Singapura mereka nilai tak akan bisa melahirkan para inovator hebat karena terjebak budaya yang kaku. Dalam budaya kaku seperti Singapura, imajinasi sulit berkembang.
Orang bodoh tentu saja tak perlu diceritakan. Mereka adalah korban perubahan, orang-orang yang butuh pertolongan dan bantuan. Dalam hal kemajuan, dia adalah penonton. Dengan berbagai alasan mereka sulit menerima perubahan. Dalam kisah Penguin yang ditulis John Kotter dan Holger Rathgeber, dia bernama NoNo.
Jangan lupa, di antara orang cerdas dan orang bodoh, ada orang surti. Dalam kamus bahasa Sunda, surti artinya mudah memahami maksud orang lain walau hanya dengan isyarat. Orang surti tak hanya memiliki kecerdasan, tapi juga wisdom. Surti tak bisa lepas dari budaya. Mengapa dalam budaya Israel, bicara ceplak pahang alias terus terang, karena dalam pandangan mereka barangkali hanya ada dua tipe manusia, orang cerdas dan orang bodoh. Orang surti mungkin tak dikenal. Dalam budaya masyarakat Indonesia, tidak bisa segala sesuatu diucapkan tanpa tedeng aling-aling. Berhadapan dengan orang cerdas, kita akan mudah berkomunkasi menyamakan ide. Berhadapan dengan orang bodoh, perlu kerja keras dan berkata ceplak pahang, tak peduli dia tersinggung atau tidak. Ini persis seperti budaya di Israel. Tapi berhadapan dengan orang surti, kita harus hati-hati karena orang surti melampauai orang cerdas. Berbicara dengan orang seperti ini, kita diuntut kasurtian atau kearifan. Artinya, dalam menyampaikan pesan bisa secara simbolik, atau lewat kisah-kisah pun, orang surti bisa memahami. Sebaliknya, bicara dengan orang bodoh, seperti peluru yang langsung diarahkan ke sasaran tembak.
Seperti apa orang surti? Dulu di masyarakat Sunda, jika seorang perempuan dilamar pihak laki-laki dan ditanya apakah dia bersedia dilamar pihak laki-laki, si perempuan tidak akan menjawab dengan bahasa verbal, tapi cukup tersenyum atau mengerling, maka pihak orang tua perempuan pun surti bahwa anaknya bersedia dilamar. Pada masa awal kekuasaannya, Soeharto dikelilingi orang-orang surti sehingga presiden yang menyebut pemeritahannya Orde Baru itu cukup menyampaikan pesan secara implisit atau simbolik. Tapi di ujung kekuasaannya, ia tidak surti membaca keinginan masyarakatnya sehingga jatuh dari kekuasaan.
Surti sesungguhnya universal, bukan milik masyarakat Sunda atau Indonesia, tapi milik semua peradaban manusia. Barangkali dalam novel banyak tokoh-tokoh tipe surti. Paul dan Jeanne dalam novel Last Tango In Paris karya Robert Aley adalah dua manusia yang saling menangkap kasurtian.
Saya tidak tahu apakah budaya surti sudah terkikis atau masih kuat. Yang jelas, dalam pidato Hari Bhakti Adhyaksa ke-55 di lapangan upacara Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu, 22 Juli 2015, Presiden Jokowi merasa tidak perlu menerapkan gaya surti. Dalam pesannya sangat jelas dan langsung, jangan jadikan para tersangka sebagai ATM.
Saya, mungkin juga Anda, surti sehingga tidak perlu panjang lebar mengomentari pesan Jokowi itu. (*)

Tribun Jabar, Senin 27 Juli 2015

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help