Cerpen Yadi Karyadipura

Begitu Cepat Ramadan Berlalu

SELEMBAR kalender imsakiah diterima Bu Sutarmi dari tetangganya. Kalender itu dipasang untuk menggantikan kalender imsakiah tahun lalu...

Begitu Cepat Ramadan Berlalu
Ilustrasi Cerpen Begitu Cepat Ramadan Berlalu 

SELEMBAR kalender imsakiah diterima Bu Sutarmi dari tetangganya. Kalender itu dipasang untuk menggantikan kalender imsakiah tahun lalu, yang masih terpajang di ruang tengah rumahnya. Bu Sutarmi memandangi dua kalender secara bergiliran, lalu bergumam. "Ramadan telah tiba. Setahun telah berlalu, dan keadaan belum juga berubah."

Pertengahan bulan Juni. Musim kemarau mengeras bersama udara panas yang mengeringkan tanah. Angin senja yang membawa debu-debu jalanan mengusap tubuh perempuan tua itu. Bu Sutarmi terbatuk, tenggorokannya terasa gatal dan kering. Dalam keadaan masih terbatuk, Bu Sutarmi beranjak dari tempatnya dan melihat anak keenamnya, Saefulloh, sedang asyik mengetik di depan laptop.

"Ibu harap kamu menuliskan cerita tentang keluarga sakinah." Bu Sutarmi bergumam dalam hati. Terdiam beberapa saat sambil memandangi anaknya.

Sebulan yang lalu Saefulloh genap berusia 28 tahun. Usianya beranjak menuju angka 29, tapi belum tampak tanda-tanda ia akan menikah. Saefulloh masih tenggelam dalam kesendiriannya. Waktu berlalu diisi dengan membuat tulisan dan membaca buku-buku. Ia tidak bergabung dengan teman-teman seusianya yang masih lajang, yang masih merasa bebas, tak terbebani oleh berbagai urusan rumah tangga. Saefulloh merasa dunianya hanya layar laptop, tumpukan buku, dan kamarnya yang tak cukup luas.

Terselip kekhawatiran di hati Bu Sutarmi, takut Saefulloh menjadi bujangan lapuk. Semua teman dekat Saefulloh—sahabat-sahabat yang sering datang ke rumah, mengajak main, juga sesekali mencoba bisnis—sudah menikah dan punya anak. Kenyataan itu membuat Bu Sutarmi merasa bahwa Saefulloh sangat kesepian,

"Jika Allah sudah memberikan jodoh, Aep pasti menikah, Bu," jawab Saefulloh, pada suatu kali ketika Bu Sutarmi menyinggung tentang kesendiriannya, dengan satu pertanyaan, 'kapan kamu akan menikah?'.

"Tapi kamu harus berikhtiar, Nak," Bu Sutarmi mencoba menasihati anaknya. "Kamu harus bergaul. Bergabunglah dengan pemuda masjid, karang taruna, jangan terus diam di rumah. Nanti kamu tidak punya kenalan baru."

"Aep juga berikhtiar, Bu. Hanya mungkin soal waktu."

Bu Sutarmi menghela napas. Sebenarnya ia masih ingin mengeluarkan beban pikiran, tapi urung karena takut Saefulloh merasa ditekan.

**

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved