TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

MUDIK

MUSIM lebaran, musim mudik. Musim ketika banyak orang, umat Muslim, berjuang menuju kampung halaman.

MUDIK
Tribun Jabar
Cecep Burdansyah, Pemimpin Redaksi 

MUSIM lebaran, musim mudik. Musim ketika banyak orang, umat Muslim, berjuang menuju kampung halaman. Tak heran,ketika ada yang bertanya tentang arti mudik, secara sederhana akan menjawab: pulang ke kampung halaman.
Memang demikian Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mengartikan kata mudik. Mudik, menurut kamus terbitan Departemen Pendidikan Nasional dan Balai Pustaka, yang pertama adalah berlayar, pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman), yang kedua sebagai ragam bahasa cakapan, artinya, pulang ke kampung halaman. Orang yang mudik disebut pemudik, artinya, orang yang pulang ke kampung halaman.
Dalam Tesaurus karya Eko Endarmoko, lema mudik tak ditemukan. Mungkin karena mudik berasal dari kata udik. Kata udik, menurut KBBI, memiliki tiga arti. Pertama, sungai yang sebelah atas; kedua, dusun, desa, kampung halaman; ketiga, kurang tahu sopan santun, canggung tingkah lakunya, bodoh. Dalam Tesaurusnya Eko, kata udik mempunyai dua arti, yaitu pertama: pedalaman, pelosok, desa, kampung; kedua, lugu. Sedangkan dalam kamus bahasa Sunda R Satjadibrata, mudik artinya menuju girang, yaitu menuju sumbernya, hulunya, asal mulanya.
Tapi apakah mudik hanya sebatas pulang ke kampung halaman? Bukankah pada hari-hari lain selain lebaran, kita sering berkunjung ke kampung halaman, menengok orangtua, sanak saudara? Sesungguhnya, mengacu pada arti kata versi kamus KBBI, kita sedang mudik, meskipun pada hari itu bukan hari lebaran. Tapisecara batin, kita tidak merasakan sedang mudik. Apa yang dirasakan adalah hal yang biasa saja. Tak ada yang istimewa pada hari itu.
Lalu, apabila di hari lebaran, kita kebetulan tidak pulang ke kampung halaman, di antara anggota keluarga sering bertanya, mengapa kita tidak mudik? Padahal, misalnya, baru beberapa hari saja kita pulang ke kampung halaman. Seakan ada yang ganjil jika kita tidak pulang ke kampung halaman pada hari lebaran.
Karena merasa ganjil apabila lebaran tidak mudik, maka semua orang, dari bocah sampai abah, eyang, mbah atau oma opa, tahu apa tujuan dan makna mudik, meskipun mengartikulasikan arti mudik sulitnya minta ampun, kalaupun berusaha mengartikannya, ya seperti menurut kamus bahasa Indonesiaitu. Secara lahiriah, barangkali mudik hanya bisa dilukiskan oleh pandangan mata pada saat lebaran, sementara secara batiniah hanya bisa dirasakan oleh getaran jiwa.
Secara etimologis mudik melampauai arti yang tercantum dalam kamus. Di hari lebaran, ada panggilan, nun jauh di sana, yang tak terukur dengan jarak, tak bisa dipetakan secara teritorial. Kalau pun jauh, pasti ditempuh. Kalau pun biaya mahal, selalu ikhtiar. Sudah jauh dan mahal, di jalan dihadang macet pula, tapi semua itu bukan rintangan untuk bisa mudik. Rasa nelangsa tidak bisa mudik lebih mahal daripada nelangsa kekurangan uang.Uang bisa dicari, tapi momen mudik tidak datang dua kali untuk tahun berjalan. Dan belum tentu bisa bertemu dengan momen mudik tahun mendatang.
Barangkali, akan terasa sedikit lebih ringan apabila tidak bisa mudik karena tugas publik yang tak terelakan. Dokter, perawat, polisi, jurnalis, para pengemudi angkutan publik, mereka orang-orang yang dibutuhkan pada saat hari raya lebaran. Ada panggilan untuk mudik, tapi mereka harus ikhlas demi kepentingan publik. Tanpa jasa mereka, mudik bisa kacau balau. Lihat saja saat Bandara Juanda yang ditutup sehari menjelang lebaran karena faktor alam, mereka yang mau mudikpun telantar.
Apakah mudik bagian dari perintah dalam ajaran Islam? Tak ditemukan dalam literatur Islam kita harus mudik pada saat lebaran. Yang ada adalah manusia kembali ke fitrahnya sebagai manusia sehabis melaksanakan puasa selama bulan Ramadan. Sebagai mahluk yang berlumur kesalahan kepada sesama, kita wajib menyucikannya dengan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat, baik yang disadari atapun tidak. Dan karenaitu pula, terutama orang tua yang tinggal di kampung halaman, jauh-jauh kita kunjungi. Kalau pun orang tua sudah tidak ada, kuburan kita datangi, kita berdo’a di atas kuburan, kita menangis karena kita pernah lalai, salah laku dan salah ucap.
Demi menjangkau silaturahmi itulah, keharuan di saat mudik sering kita saksikan. Mereka berjuang menuju kampung halaman, antre mendapatkan tiket, bermacet-macetan di jalanan, bahkan berkendara motor tanpa menghiraukan keselamatan, anak terselip dalam aisan, terjepit di antara oleh-oleh yang dibawa, melintasi tanjakan berpacu dengan mobil, meliuk di tikungan, tak peduli dengan gulita malam atau terik matahari, menghela napas di antara debu jalanan. Sering kita tersentak dan iba melihat kenyataan, kisah tragis dialami pemudik, dijemput maut di jalanan, bahkan sekeluarga. Itulah pengorbanan mudik. Para pemudik bukannya tak memperhitungkan resiko keselamatan, tapi ada panggilan yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Mudik memang panggilan kampung halaman, tapi tidak soliter, justru harus solider, dan 1 syawal adalah tonggaknya. Tonggak dan massal inilah yang membuat mudik pada hari lebaran jadi istimewa. Pulang ke kampung halaman tanpa tonggak dan dilakukan soliter akan kehilangan makna mudik. Massal dalam kampanye politik, kita jadi obyek yang secara kemanusiaan terlucuti, dihisap sebagai angka dukungan, tatapan demi tatapan penuh curiga dan transaksi. Massal dalam mudik, kemanusiaan menjelma secara individu dan sosial, tatapan demi tatapan sarat rasa hormat sebagai sesama. Di situlah solider terbangun kokoh.
Mudik bukan soal jarak. Jauh dekat bukan ukuran. Kampung halaman tidak terletak pada kota metropolitan atau kampung di suku gunung. Bisa saja orang yang mengembara karena tugas mengabdi di sebuah desa terpencil, tapi lahir dan dibesarkan di kota metropolitan seperti Jakarta, maka ia akan mudik ke Jakarta. Dan tidak heran kalau ada orang yang bekerja di kota besar tapi ia berasal dan dibesarkan di sebuah udik terpencil, maka ia akan mudik ke kampung halamannya pula.
Mudik boleh saja dianggap sebagai ritual tahunan sehabis melaksanakan ibadah puasa. Tapi mudik adalah perlambang, bahwa manusia sebagai pengembara, kerap tersesat, tidak tahu jalan pulang. Dari mana sebenarnya asal mula? Mudik ke kampung halaman tak terelakan untuk mengenang tempat lahir, mengenang masa-masa kita dibesarkan. Bahkan setibanya di kampung halaman, seringkali masih tersesat, pamer kesuksesan pada orang-orang di kampung halaman; mulai dari pekerjaan, mobil mutakhir, gelar yang tinggi, dan segala atribut duniawi. Mudik jadi makin lupa diri. Di situlah manusia tersesat di kampung halaman sendiri. Ternyata memang bukan itu kampung halaman yang sebenarnya.
Karena selalu tersesat dan bingung jalan pulang, Allah akhirnya menurunkan dua ekor burung gagak hitam untuk memberi petunjuk kepada manusia kemana arah jalan pulang. Anak Adam, Qabil yang telah membunuh saudaranya sendiri, Habil, termenung kebingungan tidak tahu harus berbuat apa dengan jasad adiknya. Datanglah dua ekor burung gagak hitam yang berkelahi di depan mata Qabil. Setelah salah satu burung gagak mati, burung gagak yang menang berkelahi kemudian menggali tanah dengan paruhnya, membuat lubang untuk meletakkan bangkai lawannya. Qabil pun lalu menggali kuburan dan mengubur jasad adiknya dengan penuh rasa sesal. Dari peristiwa anak Adamlah manusia mengetahui arah jalan pulang, mudikkeasalmulanya, tanah sebagai kampung halaman sejati.
Ke situlah kampung halaman yang kita tuju saat mudik, karena itu pula manusia harus dalam kondisi fitri (suci), dan untuk sampai ke tanah itu tak bisa sendirian.*

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help