TribunJabar/
Home »

Opini

» Podium

TERAS

Pemimpin

(Untuk mereka yang jadi pemimpin, terutama Wali Kota Bandung, dan mereka yang terobsesi jadi pemimpin)

Pemimpin
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah. 

Cecep Burdansyah

(Untuk mereka yang jadi pemimpin, terutama Wali Kota Bandung, dan mereka yang terobsesi jadi pemimpin).

JADI pemimpin itu tidak mudah, apalagi pada sistem demokrasi yang menuntut kualifikasi tinggi; kompetensi, integritas, dan terutama daya lihat yang bukan semata-mata merupakan kemampuan indra, melainkan ketajaman analisis. Di sinilah peran intelektualitas begitu penting sehingga Plato merasa perlu membuat demarkasi, dan sistem demokrasi dianggapnya bukan yang paling ideal.
Celakanya, di banyak negara, termasuk di Indonesia, semua faktor tadi sering tidak jadi rujukan, bahkan kerap diabaikan, atau mungkin dinistakan. Semua mengamini gagasan Aristoteles, bahwa hak seseorang untuk jadi pemimpin atau berkiprah di politik jangan dihambat dengan batasan-batasan yang artifisial. Demokrasi dianggap paling ideal karena memungkinkan semua orang mendapat kesempatan. Pemimpin bukan lagi jelmaan Tuhan atau sebagai warisan turun-temurun, melainkan hasil seleksi dan konsensus warga.
Penyangkalan Aristoteles terhadap gagasan Plato bukan karena sistem demokrasi membawa watak ilahiah, melainkan karena di dunia ini mustahil ditemukan manusia dewa seperti yang dibayangkan Plato. Hal itu pula yang ditekankan oleh Bertrand Russel. Baik demokrasi, monarki, aristokrasi, maupun oligarki selalu membawa cacat dan meminta korban. Demokrasi hanyalah salah satu sistem bukan karena keunggulan yang istimewa dan akan membawa ke arah yang lebih baik, tapi lebih pada tanggungjawab yang dipikul bersama.
Situasi Yunani adalah contohnya. Kelak, seandainya Yunani terjerumus ke jurang yang paling pahit karena didepak dari zona Euro dan kembali ke mata uang drachma yang sudah pasti akan kehilangan kredbilitasnya, Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras bisa berkelit dari beban tanggung jawab sendirian, karena putusan untuk menolak persyaratan dari Troika (negara donor) bukan putusannya sendiri, melainkan hasil referendum.
Hal yang sama dilakukan Habibie. Ia bisa saja dikritik oleh bangsanya sendiri, tapi ia menganggap Timor Timur telah menjadi kerikil dalam sepatu karena proses integrasi pada 1976 bukan hasil pilihan rakyat, melainkan karena pecah perang saudara dan memaksa Indonesia untuk melakukan tindakan yang memihak kelompok yang menginginkan bergabung dengan Indonesia. Habibie, yang baru saja menjadi presiden Indonesia menggantikan mentor politiknya, Soeharto, yang kekuasaannya 32 tahun tumbang, memilih jalan yang berani. Rakyat Timor Timur diberi ruang untuk memilih apakah ingin tetap bergabung dengan Indonesia atau berpisah. Hasil referendum yang digelar 30 Agustus 1999 itu mengejutkan: rakyat Timor Timur memilih keluar dari Indonesia. Jika kini Timor Timur selalu dililit kesulitan, bahkan ada yang memprediksi jadi negara gagal, Habibie merasa tidak perlu bertanggung jawab karena ia tak pernah meminta Timor Timur berpisah dari Indonesia, apalagi mendepaknya.
Apabila di alam monarki massa adalah warga sebagai abdi rakyat, maka di alam demokrasi massa adalah sekumpulan warga yang secara teoretis aspirasinya harus direalisasikan oleh pemimpin. Tapi pengalaman menunjukkan, warga tak segan menyulap dirinya jadi bunglon demi memenangkan kepentingannya sendiri. Warga yang sering diteriakkan sebagai objek politik ternyata mampu mengubah dirinya jadi subjek. Warga yang sering diadvokasi sebagai korban bisa juga ganas sebagai pemangsa. Pada kondisi seperti ini, giliran sang pemimpin yang meratap. Hal ini bisa dilihat dengan mudah di musim pemilu. Berapa banyak politisi yang hendak berlomba menjadi wakil rakyat akhirnya meratap karena diperdaya warga. Terjungkal padahal sudah boborot.
Plato dan muridnya, Aristoteles, sama-sama utopis. Seperti dikatakan Bertrand Russel, Plato lebih berpihak pada sistem monarki atau oligarki karena demokrasi di depan matanya telah memakan warganya yang kritis. Gurunya, Sokrates, justru dihukum mati pada saat Athena memilih sistem demokrasi. Tetapi Aristoteles juga keliru karena demokrasi pun rentan menelan pemimpinnya. Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pun tersungkur di hadapan para politisi yang memilihnya. Hal yang sama dialami oleh Mursi di Mesir, yang memenangin pemilu pasca-tergusurnya Mubarak, dalam waktu singkat malah digusur dan kini divonis hukuman seumur hidup.
Anehnya, seperti sudah jadi kodrat manusia, semua orang tetap saja berebut jadi pemimpin. Mereka yang diam dan tidak sempat memimpin bukan berarti tidak ingin, tapi lebih karena peluang dan kesempatannya yang tidak ada. Ilusi selalu ada, dan bahkan mungkin hidup terus, tapi peluang tidak berpihak. Kalaupun ada peluang, ia tidak punya potensi. Kegagalan tidak kemudian meredupkan ilusinya jadi pemimpin. Paling tidak sebagai warga, ia akan menguji sang pemimpin dengan berbagai cara, termasuk menguji kemampuan intelektualitasnya.
Sekadar contoh bisa dilihat dalam lingkup yang lebih kecil. Dalam tradisi kebudayaan mana pun, seorang ayah ditakdirkan mendapat amanah sebagai kepala keluarga. Tapi di antara anggota keluarga selalu ada sang dominan. Apakah dia istri atau anak. Apakah si sulung, si bungsu, atau di antara keduanya. Sang dominan selalu ingin mengatur segala tetek bengek hingga ke hal-hal yang menjadi domain pemimpin. Ia menganggap dirinya layak sebagai sang pengatur. Ketika sang ayah bersikap tegas, anggota keluarga akan menguji batas-batas kesabaran, termasuk menguji kapasitas intelektual sang ayah.
Tentu saja bakal menganggap yang paling mudah menjadi pemimpin ketika sang pemimpin dianggap jelmaan Tuhan, dan ia bisa bertindak sewenang-wenang memerintah dengan tangan besi, seperti yang dilakukan Kim Jong Un di Korea Utara. Lawan politik bisa dengan mudah dieksekusi. Anak buah yang ketiduran dalam suatu upacara seremoni atau anak buah yang membuat desain bandara yang tidak sesuai dengan keinginannya langsung diseret lalu didor. Tapi ia jadi bahan lelucon dalam pergaulan dunia. Pemimpin seperti ini bandulnya bergerak ke alam kegelapan. Ia merasa hebat padahal orang-orang, termasuk yang paling dekat dengan dirinya, gemetar ketakutan. Di alam kediktatoran, pemimpin tak ubahnya seperti monster yang tangannya berlumuran darah serta jadi mimpi buruk rakyatnya.
Namun, para pemimpin yang dihasilkan oleh suatu sistem demokrasi juga harus awas. Sebab, monster tidak hanya menjelma pada pemimpin diktator, tapi juga bisa menyusup dan menjelma ke kerumunan warga, yang demi kepentingannya menghalalkan segala cara. Menurut gagasan Plato, pemimpin harus tinggi kecakapan intelektual dan ketajaman analisisnya, antara lain untuk mendeteksi warganya, sehingga keputusannya yang dilatarbelakangi maksud dan niat baik tidak jadi bumerang. (*)

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help