Cerpen Toni Lesmana

Saropih

Suara-suara cemoohan mengiringi langkah Saropih. Saropih hanya melirik dan melempar senyum manis. Mendadak berhenti. Berbalik.

Saropih
Ilustrasi Saropih 

"WAH, Saropih udah keren, nih, apel terus!"

"Ke makam lagi, ya? Pacaran, kok, sama makam?"

"Apa makamnya gak bosen tiap sore diapelin?"

"Hati-hati, Saropih, jangan main gila, nanti makamnya bunting!"

Suara-suara cemoohan mengiringi langkah Saropih. Saropih hanya melirik dan melempar senyum manis. Mendadak berhenti. Berbalik.

"Ada yang lebih cantik dari kematian, kalian tidak tahu itu. Moni, Moni lebih cantik dari kematian!" teriak Saropih mantap. Lantas memutar badan dan berjalan riang lagi. Kini suara tawa meledak disertai teriakan-teriakan ejekan. Saropih meninggalkan mereka yang terpingkal-pingkal di pertigaan.

Saropih berjalan sendiri di jalan lurus penuh lubang, kiri kanannya berjajar pohon-pohon cengkih, membelah sawah yang sedang menguning. Ada banyak bebegig berdiri di sawah, tali-tali membentang, digantungi kain dan plastik, menghubungkan satu bebegig ke bebegig lainnya.

Guguran daun sepanjang jalan berkilatan tertimpa cahaya matahari senja. Sesekali diraihnya satu-dua kalakay, diremas dengan gemas. Jalan lurus itu mengarah ke sebuah pelataran, ada undakan berbentuk setengah lingkaran yang akan mengantar ke gerbang permakaman.

Pohon kamboja yang lebih tinggi dari tembok benteng permakaman nampak sedang berbunga. Bergoyang-goyang lembut. Angin dan matahari membuat bunga-bunga yang mekar semarak itu nampak semakin indah.

Namun Saropih tak menuju ke sana. Selepas jalan lurus, ia berbelok ke kiri, menuju sebuah pohon besar dan rimbun di samping sebuah rumah kecil. Pohon beringin. Ada semacam rumah pohon mungil pada dahan yang tak terlalu tinggi.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved