Cerpen Eko Triono

Sepasang Semut dalam Tetes Mata

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

AKU memelihara semut dua bangsa dalam wadah tabung bening.

Itu bekas pelindung botol tetes mata augentonic, yang berat bersihnya hanya 15 mililiter. Meski hanya sebesar itu, akan tetapi mampu menanggung, di setiap mililiternya, amanat dari vitamin A palmitate 1.000 IU, zinc sulfate 0,2 mg, phenylephrin HCL 1,0 mg. Tidak penting juga sebenarnya, karena dua hari sudah lewat membawa rintik miliar liter hujan di seluruh Pasifik. Namun, entah mengapa aku belum juga memahami maksud kata-katamu yang mengandung empat /u/ ritmik menuduh:

"Cintaku memerlukan ruang kosong di situ," kamu nunjuk dada, hatiku.

Hatiku sudah lama berencana jadi lemari es. Biar suhu kecewa dan sedih bisa diatur. Biar mampu menahan kecepatan busuk tomat merah. Ideologi bakteri akan sulit tumbuh dalam derajat rendah. Inginnya begitu. Tapi, kangenku sebaliknya. Kangenku air tanpa patogen. Semakin dingin, semakin sebaliknya. Semakin membeku, semakin butuh sentuhan. Atau, butuh sekadar siraman rohani dari sirup perhatianmu yang manis mencairkan.

"Tapi, aku tidak," katamu. "Juni nanti, aku mau nikah. Ini barang-barang pemberianmu."

Tentu dengan orang lain. Itu alasan mengapa kamu mengajak bertemu.

Ketika itu, aku ingin kita bertemu di pinggir jalan, pada menit dan detik yang ditentukan, sehingga seolah-olah kebetulan dan berkata: "Hai, kamu." Tidak mau. Di tempat ibadah, biar terkesan religius? Tidak juga. Di kafe, biar santai? Tidak. Di dalam tiket kepergian, pesawat, kereta, bus, biar rumit? Tidak, tidak. Di jaringan sosial satelit, biar terkesan aktual dan elektromagnetik? Tidak! Kalau begitu, di dalam jiwa masing-masing saja? Ketawa. Kamu ketawa di seberang telepon. Tidak ada yang lucu. Atau, karena bekas pacarmu seorang pelawak tunggal, jadi kamu mudah ketawa, bahkan untuk hal yang biasa?

"Jangan bicarakan dia!"

Kalimat seru yang sama juga kamu ucapkan saat kita sudah bertatap muka.

"Ya," aku dingin. "Bawa permen karet? Mulutku pahit."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved