Cerpen Ganda Pekasih

Jenazah Ibu

ABAR Ibu sakit kuterima lagi, jantungku berdebar. Mungkinkah ini kabar terakhir?

KABAR Ibu sakit kuterima lagi, jantungku berdebar. Mungkinkah ini kabar terakhir? Jika aku tidak datang maka selamanya aku tak akan pernah lagi berjumpa dengan Ibu. Ibu yang pernah menangis memintaku untuk segera meninggalkan pekerjaan yang kulakukan. Kau tidak boleh menjual barang- barang itu walau keadaan terpaksa, Sam! Kau harus tinggalkan itu segera, katanya dengan mengguncang guncang bahuku, dan jangan pernah kaugunakan untuk dirimu sendiri! Jangan! Lalu Ibu menangis.

Aku anak yang paling disayang Ibu, dimanja melebihi adik-adik dan abangku, apa saja yang kuminta Ibu berusaha mengabulkannya, bahkan aku termasuk beruntung karena bisa mengenyam bangku perguruan tinggi berkat kerja keras Ibu banting tulang berjualan apa saja setelah Ayah pergi.

Tiga tahun aku tak pernah berjumpa Ibu. Aku memang sengaja menghindarinya karena aku tak mau Ibu tersangkut sedikit pun dengan urusanku. Aku sudah berjanji untuk berhenti dan akan pulang tapi sangat sulit bisa menghentikannya. Aku sangat tergantung dengan bisnis itu seperti berada dalam jaring laba-laba, seperti juga ketergantungan pelanggan-pelangganku yang sangat percaya dan hanya mau bertransaksi denganku.

Ibu, aku memang nakal, justru setelah Ayah pergi untuk selama-lamanya, Ayah yang diam-diam menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih muda. Semestinya aku banyak mendampingi ibu, menghiburnya, tapi justru aku mulai menemukan dunia kebebasanku untuk menyiasati hidup sesuka hati, padahal pendidikan formalku ada, hasil kerja keras Ibu membiayainya.

Setiap Ibu sakit aku pasti dikabari, tapi biasanya aku dapat kabar tentang Ibu setelah dia sehat dan bisa pulang ke rumah. Begitu beberapa kali tiga tahun ini, tapi kabar dari abangku Johar siang ini bahwa Ibu baru saja masuk rumah sakit, juga dari adik-adik perempuanku, Ibu barangkali kini sudah sulit tertolong.

Aku harus ke rumah sakit segera, aku akan berjanji nanti di depan Ibu bahwa aku akan berhenti. Semoga aku belum terlambat membuat Ibu senang. Aku berjanji bukan karena di depan Ibu. Sudah seharusnya aku berhenti. Teman-teman sudah banyak yang tertangkap, bahkan ada yang mati di tembak buru sergap. Soal waktu saja kapan giliranku mati sia-sia.

Saat aku akan berangkat ke rumah sakit, sial ada penyanyi yang kutahu dia sudah lama tidak menggunakan barang itu lagi, bahkan dia sudah pernah direhabilitasi minta aku mengantarkan barang pesanannya. Dulu dia pelanggan terbaik. Dia hanya percaya padaku. Aku katakan aku sudah berhenti mulai hari ini, tapi dia mengiba-iba sambil menangis minta aku mengantarkannya berapapun bayaran yang kuminta asal aku yang datang sendiri, bukan kurir. Akhirnya aku menyanggupi, tapi kukatakan aku harus melihat ibuku dulu ke rumah sakit. Dengan gembira dia mengirim pesan balik, semoga ibuku lekas sembuh.

**

TIBA di rumah sakit aku bergegas melewati koridor-koridor dan ruang-ruang kosong tempat tumbuh pohon beringin besar yang membuat halaman rumah sakit hijau dan sejuk. Aku mencoba menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya sambil berharap Ibu bisa segera sembuh. Hari ini mungkin kondisi Ibu yang paling kritis, penyakit levernya sejak dulu memang sudah ada, dan berbagai penyakit lainnya bermunculan sejak Ayah menikah lagi.

Berjalan di lorong rumah sakit rasanya seperti melayang, bahwa aku mungkin akan kehilangan Ibu hari ini. Perasaanku mengatakan itu. Kakiku terasa ringan melangkah ingin segera melihat Ibu untuk yang terakhir kali.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved