Cerita Pendek Guntur Alam

Lipan Hoo

DIA menjerit. Histeris, saat aku menembaknya. Dor! Kamu kena! Namun jeritannya bukan jeritan bahagia.

Lipan Hoo
Ilustrasi Cerpen Lipan Hoo 

DIA menjerit. Histeris, saat aku menembaknya. Dor! Kamu kena! Namun jeritannya bukan jeritan bahagia dan geli dan kesal karena dia kalah dalam permainan ini. Dia menjerit ketakutan. Wajahnya membiru. Matanya bergerak liar. Tubuhnya menggigil. Dia beringsut, berusaha menjauhi tanganku.

Kita bermain lipan hoo, ucapku, tadi. Ibu yang jaga dan kamu yang bersembunyi. Aku tak mau. Dia menolak. Merengut dan bergulung dalam selimut bergambar Spiderman-nya. Aku mendekat, mendudukkan punggung di pinggir ranjangnya. Kenapa? Bukannya kamu suka bermain lipan hoo? Kusentuh punggungnya dengan tangan. Dia menjerit. Kencang. Aku tersentak. Terkejut sendiri dengan teriakannya yang seperti lolongan hantu dari dasar neraka.

Kenapa? Kenapa? Dia tak menjawab, hanya menarik kakinya, bergelung seperti trenggiling yang melindungi diri. Aku berusaha menyibak selimutnya. Dia menahannya dengan sangat kuat. Lamat-lamat, kudengar isak yang ditahan. Aku merebahkan diri di sampingnya, menyentuh pundaknya. Dia diam. Mata kami terhalang selimut Spiderman yang dia kenakan untuk menutupi wajah. Aku memeluknya. Bahunya terguncang.

Kenapa Ibu harus menikahinya? Aku membenci laki-laki itu. Dia bukan ayahku. Dia mulai meracau dengan isak di dalam selimut. Aku tak bisa menjawab. Tak kuasa menjawab. Dia tidak tahu, betapa sulit bertahan hidup sendiri, terlebih dengan tanggung jawab seorang anak. Tanpa pekerjaan. Tanpa kepastian masa depan. Aku tahu, aku tak harus menceritakan itu saat ini. Tersebab aku yakin, semua akan membaik seiring waktu yang berjalan. Mereka hanya butuh waktu untuk saling kenal.

Kami berpelukan. Sepanjang petang itu hanya berpelukan, tapi aku merasa sendiri *, walau aku bisa merasakan hangatnya napas Ibu. Petang ini terasa aneh. Sepi, sunyi. Jauh dari hiruk-pikuk tukang bakso, roti, dan jeritan anak-anak tetangga seumuranku yang sedang bermain. Seperti ada yang kosong. Di sini. Di dadaku. Kusentuh tangan Ibu yang mengusap pundakku. Hangat. Kusibak selimut. Mata kami bertemu. Canggung.

Dingin menyelinap, menjalar dari matanya yang basah. Rasanya aku tak mengenali mata itu. Mata yang sudah kupandangi ribuan kali, sejak bertahun-tahun lalu. Aku mendekat, membuat hidung kami hampir bersentuhan. Kita main lipan hoo, yuk. Ibu yang jaga, kamu yang sembunyi. Dia bergeming. Aku menarik seulas senyum di bibir. Terasa kaku. Dia mengerjap. Mengangguk.

Hanya beberapa menit, aku menemukan persembunyiannya dan menembaknya. Mengenai punggung. Dia menjerit. Histeris. Bukan senang, tapi sakit. Lalu dia membuka bajunya, menunjukkan luka yang bernanah di sana. Bekas tembakan. Bukan pistolku, karena pistol lipan hoo-ku hanya khayalan. Matanya basah. Dadaku lebam.

**

LIPAN itu besar. Hitam kemerahan sedikit biru. Kaki-kakinya berbulu, kasar. Bulu kudukku sedikit meremang melihatnya. Aku geli dengan hewan melata, ditambah dengan kakinya yang banyak. Namun hewan menjijikkan itu sudah tak bergerak. Dia menghantamnya dengan sandal. Sekali injak.

Pasti mati, Bu. Pasti mati. Aku akan membunuhnya. Tak ada rasa takut. Dia memang tak pernah takut. Setelah memastikan hewan itu telah tamat, dia menghentikan kakinya yang melumat. Keramik putih kami agak kebiruan. Lipan itu nyaris hancur. Dia tersenyum padaku. Puas. Namun ganjil. Senyumnya terasa aneh. Tak seperti biasa. Juga gurat-gurat di wajahnya.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved