Bahasa Melayu dari Kepri untuk Indonesia

Kesultanan Lingga-Riau memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu dari Kepri untuk Indonesia
Logo Hari Pers Nasional 2015

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

BAHASA Indonesia ibarat jembatan yang berdiri kokoh dengan pondasi yang sangat kuat. Digunakan selama berabad-abad sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) menjadikan bahasa ini sangat dikenal oleh beragam suku bangsa di Nusantara. Bahasa Indonesia menjadi jembatan atau penghubung suku-suku di Indonesia untuk menyampaikan maksudnya ketika bahasa ibu mereka sulit dipahami maknanya.

Berapakah jumlah bahasa daerah yang ada di Indonesia? Kepala Balai Bahasa Indnesia DIY Kemendikbud Tirto Suwono (Republika, 4/3/2014), menyebutkan ada lebih dari 726 bahasa daerah di Indonesia dan 456 di antaranya sudah dipatenkan.

Maka, sulit dibayangkan ketika orang Papua berkomunikasi dengan orang Jawa atau orang Bali menyapa orang Ambon dan Sunda. Belum lagi setiap bahasa daerah juga memiliki ragam dialek. Misal, di Jawa Tengah ada bahasa Banyumasan, Solo, Keraton Yogyakarta, dll. Bahkan di Jawa Barat, meski menjadi bagian dari pulau Jawa, bahasanya sudah berbeda, yaitu bahasa Sunda.

Ketika bahasa daerah masing-masing tak bisa menyampaikan pesan, ujungnya bahasa isnyarat menjadi alternatif. Namun isyarat tak mampu menterjemahkan maksud secara gamblang. Menjadikan bahasa Indonesia sebagai jembatan yang menghubungkan ragam suku bangsa di Indonesia adalah ide brilian. Kini kita tak perlu lagi khawatir untuk melakukan perjalanan ataupun aktivitas lain ke daerah lain karena akan mengalami kesulitan berkomunikasi.

Dengan alasan itulah, Rumiati (26), perempuan asal Banyumas, Jawa Tengah, tak merasa risau jika harus merantau ke Batam, dan menjadi pengajar sebuah sekolah yang muridnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Jika kelak nasib membawanya menjadi seorang guru PNS dan mendapat tugas di daerah dengan warga yang masih kental dengan bahasa daerahnya, apakah akan dijalaninya?

“Tidak masalah karena bahasa Indonesia mudah dipelajari dan saya yakin banyak warga di sana yang sudah menggunakannya. Mereka akan membantu saya menghubungkan dengan murid-murid di sana,” katanya beberapa waktu lalu.

Kapten Inf Edy Zendrato, asal Nias, pada mulanya mengalami kesulitan saat melakukan tugas di daerah-daerah terpencil di Papua yang penduduknya kebanyakan menggunakan bahasa daerah. Tapi ia banyak mendapat bantuan tokoh masyarakat atau pelajar di darah tersebut saat menyampaikan pertanyaan kepada masyarakat. Dengan cara apa? Berbicara mengunakan bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa daerah.

“Kebingungan, itu awal saya berbicara dengan orang asli Papua. Tapi, banyak warga di sekelilingnya yang membantu menyampaikan pesan saya ke mereka, dan itu menakjubkan,” katanya.

Melayu Kuno
Bahasa Indonesia yang sejak 18 Agustus 1945 atau sehari setelah Indonesia merdeka, dinyatakan sebagai bahasa resmi Negara, digunakan sebagai bahasa pengantar di banyak kegiatan remsi, termasuk kegiatan belajar di sekolah-sekolah.

Halaman
12
Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved