PODIUM

Selamat Jalan, Prof Dr H Chaedar Alwasilah

Bagi Chaedar, yang pernah tinggal lama di Amerika Serikat, Sunda dan kesundaan merupakan bagian penting dari missi dan visi hidupnya.

Selamat Jalan, Prof Dr H Chaedar Alwasilah
Dok Pribadi
Usep Romli

Oleh H.Usep Romli HM
Budayawan

KEPERGIAN Prof Dr Chaedar Alwasilah (1953-2014), menghadap Illahi Robbi, Selasa 9 Desember, merupakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan dan kebudayaan Sunda. Peraih gelar Doktor (Ph.D) Indiana University, Amerika Serikat (AS), tahun1991 dan pada 2001 menjadi Ketua Penyelenggara Konferensi Internasional Budaya Sunda.

Bagi Chaedar, yang pernah tinggal lama di Amerika Serikat, Sunda dan kesundaan merupakan bagian penting dari missi dan visi hidupnya sebagai makhluk Allah SWT. Walaupun bahasa Inggris telah menjadi bahasa sehari-hari, tapi bahasa Sunda tetap menjadi bahasa "hidup mati". Tidak dapat ditukar dengan bahasa lain. Tidak dapat diremehkan hanya karena bahasa Sunda bahasa lokal. Sebab bahasa Sunda adalah "bahasa indung". Sebagaimana "indung" (ibu) yang harus dihormati dan ditakzimi, bahasa Sunda juga demikian juga.

Sebagai orang yang lahir di lingkungan pesantren, Chaedar memahami benar makna dan tujuan ayat 22 Quran Surah Ar Rum : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui."

Kami - saya dan "Ayi Prof" (begitu saya memangil Chaedar Alwasilah dalam pergaulan sehari-hari, dan ia menyebut saya "Akang" dengan mantap) - cukup lama mendiskusikan ayat tersebut. Kalau tidak salah beberapa minggu menjelang Konferensi Internasional Bahasa Sunda (KIBS) I. Sehingga, bertambah keyakinan kami akan pentingnya bahasa Sunda, karena termasuk "wakhtilafus sanatikum", berlain-lainan bahasa. Anugerah nikmat Allah SWT kepada manusia - khususnya orang Sunda - yang harus disyukuri agar nilai anugerah nikmat itu terus meningkat (QS Ibrahim : 7).

Karena itu, sefasih apapun lidah Chaedar melafalkan bahasa Inggris, ia tetap "nyunda". Maka tak heran jika ia menulis buku "Pokoknya Sunda" (2010), serta aktif di Pusat Studi Sunda (PSS) yang didirikan Ajip Rosidi.

Ia juga giat menerapkan gagasan "pendidikan yang mengakar kepada lokalitas", serta menularkan teori "etnopaedagogi" kepada para mahasiswanya baik di UPI maupun di perguruan tinggi lain tempat ia mengajar. Gagasan yang tidak sekadar diapungkan begitu saja. Melainkan didukung semboyan "Pokoknya Kualitatif" yang harus diwujudkan secara nyata.

Lingkungan tempat Chaedar Alwasilah lahir di kawasan Kurnia, Kersamanah, Kabupaten Garut, terkenal dengan sebutan "Pasantren Kered". Dari matarantai para ajengan pesantren terkenal tahun 1930-an, ini lahir sosok Chaedar Alwasilah yang kelak menjadi lulusan terbaik Universitas Indiana, berupa penghargaan "Proffitt and Proffit Dissertation Award Indiana University School of Education".

Penghargaan lain yang diterima dari Universitas Indiana, adalah "Distinguished Alumni Award" atas prestasi akademik, kepemimpinan dan inovasinya di bidang pendidikan. Sehingga namanya tercantum permanen di dinding "Hall of Frame" almamaternya itu.

Sosdok lain dari Pesantren Kered, adalah Dedy Jamaludddin Malik (mantan anggota DPR RI, akademisi), dan Nenden Lilis AR (penyair, akdemisi). Sedangkan dari daerah Kurnia, lahir pula Prof DR Dadang Kahmad, guru besar UIN, Ketua PP Muhammadiyah, yang juga aktif di PSS.
Setelah Prof DR Chaedar Alwasilah menyusul kewafatan Prof DR Edi S Ekadjati (2006), siapa lagi akademisi Sunda yang peduli terhadap budaya Sunda? Terutama bahasa Sunda ?
Wallohu alam.***

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved