TERAS

Ceplak Pahang

Berbalik dengan makna heurin ku létah, ceplak pahang bermakna selalu bicara apa adanya

Ceplak Pahang

DALAM bahasa Sunda dikenal idiom heurin ku létah. Secara harfiah heurin artinya sempit dan létah artinya lidah. Maknanya adalah tidak berani mengatakan sesuatu, informasi atau apa pun, karena dipandang akan membuat tersinggung yang menerima atau mendengar informasi itu.
Tak sedikit yang menilai idiom ini ada hubungannya dengan budaya Sunda, atau setidaknya sebagai cermin budaya Sunda, yang ujung-ujungnya dikaitkan dengan karakter orang Sunda yang kurang berani mengatakan apa yang sebenarnya. Pada ahirnya, seakan-akan ada stigma bahwa kebudayaan Sunda kurang sehat untuk mendukung kemajuan, apalagi dalam era serba terbuka dan transparan.
Tapi pandangan tersebut saya kira keliru. Sebab, selain idiom heurin ku létah, terdapat idiom ceplak pahang. Berbalik dengan makna heurin ku létah, ceplak pahang bermakna selalu bicara apa adanya, menyampaikan apa yang menurut hati nurani dan idenya, menginformasikan kabar apa adanya, tak peduli membuat orang lain atau yang mendengar tersinggung. Orang yang ceplak pahang tak pernah berpikir kata-katanya akan membuat tersinggung sepanjang apa yang dikatakannya benar, sesuai dengan hati nurani atau idenya. Hal ini jelas berbeda dengan orang yang heurin ku létah.
Tampaknya bukan soal budaya, melainkan lebih pada karakter saja. Kita melihat banyak orang Sunda, baik pejabat maupun bukan, yang sepertinya heurin ku létah dalam setiap berbicara. Sebaliknya, tak sedikit juga yang ceplak pahang. Setuju atau tak setuju, rupanya di era sekarang yang serba terbuka, orang yang ceplak pahang mungkin relevan dengan masyarakat modern dibanding dengan orang yang heurin ku létah.
Hal itu bisa berkaca pada fenomena Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti. Perempuan yang sebagian besar hidupnya tercurah ke laut dan udara ini lahir di Pangandaran. Ia orang Sunda yang termasuk kategori ceplak pahang. Mungkin saja ada yang berpandangan karakter Susi yang ceplak pahang itu karena ada sentuhan budaya barat, mengingat pernah bersuami orang barat. Tapi tak sedikit juga perempuan Sunda yang bersuami orang barat tapi dalam tutur katanya tidak ceplak pahang seperti Susi.
Keinginan Susi untuk menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia bukan orisinal ide Susi. Freddy Numberi mengaku pernah menenggelamkan kapal pencuri ikan asal Vietnam, lalu ia ditegur bosnya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Dan berhentilah tindakan tegas dan berani itu.
Susi, begitu dilantik jadi menteri, salah satu programnya adalah menindak kapal pencuri ikan dengan cara menenggelamkan. Presiden Jokowi kabarnya sempat berpikir karena butuh dukungan TNI, terutama angkatan laut. Namun Susi mendesak agar segera direalisasikan. Kabarnya, lebih baik ia mundur dari jabatannya kalau Jokowi tak mendukungnya. Berkat ceplak pahang Susi, sedikitnya sudah tiga kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan.
Cara Susi berkomnunikasi, baik dengan bosnya maupun dengan media, komunikasi jenis ceplak pahang, jauh dari komunikasi heurin ku létah. Susi mungkin jenis orang yang hidupnya tidak tergantung pada jabatan. Baginya, berbuat lebih bagus dan lebih indah daripada sekadar menyandang jabatan.
Orang yang ceplak pahang biasanya percaya diri pada kemampuannya, berani mengambil risiko dan apa pun risiko yang akan menimpanya akan diterimanya karena sudah diperkirakan. Sebaliknya, orang yang heurin ku létah lebih menjaga harmoni, menjaga status quo, dan kurang berani mengambil risiko dan hal itu akibat dari rasa kurang percaya diri. (*)

Penulis: cep
Editor: cep
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved