Podium

Refleksi Ramadan dan Idulfitri

SETIDAKNYA ada tiga pesan utama yang terkandung dalam ibadah Ramadan. Pertama, adalah tahdzibun nafsi atau pesan moral.

Refleksi  Ramadan dan Idulfitri
istimewa
Nur Hidayat, Mahasiswa Program Master UIN Sunan Gunung Djati Bandung

SEIRING dengan berlalunya bulan suci Ramadan, banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika diibaratkan, Ramadan adalah sebuah madrasah ruhani.

Sebab selama sebulan penuh kita ditempa untuk menjaga yang sesuatu mula halal menjadi haram. Seperti halnya, makan dan minum yang sepanjang hari halal bagi manusia, maka di bulan Ramadan menjadi haram.

Oleh karena itu, kesan dan pesan selama Ramadan sudah semestinya kita pegang teguh bersama. Setidaknya ada tiga pesan utama yang terkandung dalam ibadah Ramadan. Pertama, adalah tahdzibun nafsi atau pesan moral.

Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Di dalam kitab Madzahib fi al Tarbiyah dijelaskan bahwa di dalam jiwa manusia terdapat nafsu (naluri). Yaitu, naluri marah, naluri pengetahuan, dan naluri syahwat. Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit dikendalikan dan dibersihkan adalah naluri syahwat.

Bahkan Hujjatul Islam Abu Hamid al Ghazali menyebutkan pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi mencelakakan manusia, dan satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

Pertama, sifat bahimah (kebinatangan), menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu. Kedua, sifat sab’iyyah (sifat buas), banyaknya kezhaliman dan sedikit rasa keadilan. Yang kuat selalu menang dan yang lemah selalu kalah meskipun benar.

Ketiga, sifat syaithaniah, tanda-tandanya memperturutkan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia. Jika ketiga sifat ini lebih dominan mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat mengkhawatirkan.

Sementara satu sifat yang dapat menghantarkan kebahagiaan adalah sifat rububiyah, ditandai dengan keimanan, ketakwaan, dan kesabaran yang telah dibina sepanjang Ramadan. Orang yang bisa mengoptimalkan sifat rububiyah di dalam hidupnya disinari oleh cahaya Alquran, perilakunya dihiasi budi pekerti yang luhur.

Selanjutnya, ia akan menjadi insan muttaqin, insan pasca Ramadan, dan insan yang menjadi harapan setiap orang. Insan yang dalam hari raya bisa menampakkan tiga hal pakaiannya: menahan diri dari hawa nafsu, memberi maaf, dan berbuat baik kepada sesame manusia.

Sebagaimana firman Allah Swt:  …dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. Ali Imron ayat 134).

Halaman
12
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved